Nelis Nazziatus Sa’diah

Ketika ku bertemu denganmu…

Hatiku selalu saja tidak tenang. Aku terus lirikkan mata ke jam tangan, takut waktu menunjukkan malam dan bergantinya matahari terhadap bulan. Disaat kita buka diskusi itu, aku selalu saja merasa terpukau atas kepribadianmu. Sesekali kulihat wajahmu yang tulus menerimaku sebagai teman bicara. Tak sebentar, ku merasa bahwa rasa syukur ini harus dibalas dengan resolusi diri yang makin konstruktif dan maju. Meninggalkan diri yang ilusi dan tak lagi maju. Dahsyatnya energi pertemuan, membuatku tak lama berfikir untuk merapihkan memori baik ini dalam pikiran ku agar tak hilang selamanya. Begitu juga perasaan dan sinkronisasi rasa dengan logika, bahwa perdamaianlah yang membuat kita saling mendoa dan lega. Aku titipkan sebuah amanah yang bernama semangat dan taubat, untuk aku jalankan begitu juga dirimu. Allah sang maha menakdirkan sesuatu, menjadikan kita mengalir seperti air, namun tak pergi ketempat rendah. Akhirnya, pertemuan singkat yang berujung pada perhelatan hati dan emosi yang begitu menggugah rasa. Namun, itu semua tak menjadi dilema, ketika Allah-lah sandarannya. Bersyukur atas nikmat Allah atas cinta-Nya pada hamba-hamba yang selalu bersama-Nya dalam mengingat cinta-Nya disetiap sudut pandang mata dan hati. Ikhlas dan ridho atas segala suratan, jadilah terus pribadi yang kukagumi sampai kapanpun. Yang jika orang bertemu, orang itu akan mengingat Allah. Alhamdulillah atas pertemuan kemarin, bismillah atas perjalananmu hari ini dan esok.

Untuk seseorang,

Nelis yang kupanggil namanya.

31 Agustus 2017

#repost

Advertisements

Pertanyaan yang ingin kutanyakan

Apakah aku masih sanggup untuk berdiri lagi?

Apakah aku masih kuat menahan beratnya mimpi dan cita-cita?

Apakah aku masih merasakan getaran hati akan sebuah perubahan?

Dunia, apakah kau sekejam itu? meninabobokan para pekerja langit dengan intrik-intrik dunia yang kotor ini?

atau, dunia punya cara lain untuk membuat penghuninya sadar, bahwa hidup adalah perjuangan yang harus dimaknai dengan keikhlasan?

oh, bunga mengapa kau selalu bermekaran terus, padahal itu menandakan kau akan layu dan mati.

oh, pohon mengapa kau terus berbuah dan menua, padahal itu memperingatkan kau akan tua dan keras untuk mendekati keropos.

apakah ini semua adalah cinta? yaitu tentang menuju kesempurnaan?

apakah manusia hanyalah seonggok daging yang punya tujuan duniawi, ego dan intrik kontra revolusi?

atau, manusia punya tujuan lain yang mulia..

yaitu, pertanyaan yang tak mampu dijawab.
‘siapakah dirimu?’ ‘kemanakah mau mu pergi?’ ‘apakah dunia tak layak jadi temanmu’?

bayangkan, apakah ini semua hanya sandiwara?

apakah tuhan tahu, bahwa aku merindukannya, aku ingin bertemu denganNya, mempertanyakan semua dilema hidup ini..

23:17

Kebanggaan Budaya | Korea, Seoul 2018

 

1. Korea selatan, negara penuh kejutan dan revolusi. Salah satunya, revolusi budaya yang sangat menjunjung tinggi nilai keluhuran dan akar budaya bangsa. Disamping mengedepankan modernisme dan historical values yang mudah dicerna. 

2. Tidak perlu berbahasa inggris, mereka bisa “menduniakan” budaya ke kancah internasional

3. Tak hanya mengedepankan “tampilan luar”, para pelaku revolusi budaya juga mengedepankan pendidikan sebagai titik tolak bangkitnya revolusi pemikiran para pelaku industri

4. Internasionalisasi nilai budaya bangsa juga tak luput dari support pemerintah yang sangat apik mengatur regulasi

5. Sebuah bangsa yang bangkit dari perang saudara dan sekarang maju dari berbagai aspek dan sektor. Terbukti, masyarakat korea lebih senang dengan budaya nya dan menciptakan trend.

6. Patut di contoh dari berbagai aspek. Walaupun sekarang, kita sudah ikut di “nina bobokan” bentuk-bentuk hiburan yang dapat menghabiskan banyak waktu penikmatnya. ex, movie, drama, k-pop dsb

7. Persahabatan Korea dan Indonesia pun semakin erat, ketika beberapa waktu lalu Indonesia menjadi inisiator pertemuan duta besar korea utara & selatan utk terus meningkatan hubungan & meningkatkan kerjasama yg dimediasi oleh Indonesia. Bahkan, penambagan kurikulum bhs Indonesia. 

8. Seru dan mengasyikkan bisa berkunjung ke suatu negara yg sangat digemari “apapun” sekarang oleh masyarakat muda Indonesia. Semoga kita tidak terlarut menjadi ‘penikmat’. Tetapi juga mencontoh dan bangga akan budaya bangsa dan mempromosikannya!

PPI Tiongkok 2018

Menjadi bagian dari pergerakan mahasiswa di luar negeri, adalah suatu momentum tak pernah terbayangkan dalam hidup saya sejauh rencana berpikir dan imajinasi terbayang. Namun, setiap manusia diberikan akal yang sama untuk belajar dan berproses. Pada akhirnya, saya berada pada titik ini. Dimana, sekumpulan anak muda yang punya pemikiran berbeda namun satu tujuan, untuk bersama berkolaborasi, berkontribusi demi menciptakan inspirasi bagi Indonesia.

Sejarah akan mencatat, bukan siapa yang telah hidup nyaman. Tapi, siapa yang mau berani berbuat untuk yang lain, disaat yang lain telah nyaman dengan keadaan demi kebaikan dan kemajuan.

Indonesia, adalah sekumpulan warga bangsa yang bersatu padu untuk bangkit dan belajar sampai saatnya waktu telah tiba untuk kita kembali ke pangkuan ibu pertiwi.

PPI Tiongkok 2018-2019

Bertemu Pak Menteri

Menjadi mahasiswa Indonesia yang belajar dan merantau jauh dari kampung halaman, adalah kesempatan baik yang perlu disyukuri. Sebagai pembelajar, seharusnya dimanapun kapanpun dan kepada siapapun adalah tempat untuk belajar. Tak heran, persepsi ini menjadikan para pembelajar Indonesia berangkat ke berbagai negara untuk belajar yang tak hanya belajar ilmu spesialisasi tapi juga hal lain yang bisa ditiru.

Tak halnya juga, bagi saya yang sedang belajar tentang hal baik apapun di negeri tirai bambu. Kesempatan pelajaran yang saya dapatkan pada kali ini adalah bertemu dengan Menteri Riset dan Teknologi serta Pendidikan Tinggi, Prof. M Nasir. Ya, serasa luar biasa jika disikapinya luar biasa, begitu juga sebaliknya. Bagi saya, ini adalah keistimewaan, karena saya dapat bertatapan dan berbicara langsung dengan beliau.

Pesan yang sangat mendalam bagi saya, kata beliau “Cepat lulus dan balik ke Indonesia”, jawab saya, “siap pak!” 🙂