Reading List 2019 (Readed)

Islam Yang Saya Anut – Quraish Shihab

Fitrah-Murtadha Muthahari

Scappa Per Amore-Dini Fitria

Bulan Terbelah di Langit Amerika-Hanum Rais

Soedirman-KPG

99 Pesan Nabi (Komik Muslim)-Vbi_djenggoten

Soekarno Muda-Peter Kasenda

Masnawi-Rumi

Krisis Arab dan Masa Depan Dunia Islam – Buya Syafii Maarif

Islam In China – Mi Shoujiang & You Jia

Ensiklopedia Buya Hamka-Pusat Studi Buya Hamka UHAMKA

Lima Pokok Pikiran Yang Mengubah Dunia-Barbara Ward

Soekarno; Arsitek Bangsa-KPG


Media Literation (Most Visited in 2019)

Journalism references:
guardian, time, bbc

Indonesian Politcis:
Indoprogress

Technology Updates:
MIT Tech Review, Ilmukomputer

General Life Insight:
Medium, Forbes

Online Course:
sololearn, khanacademy

radio:
genfm, bbc world service

#MakeIndonesiaReadAgain

Jika dalam keimanan “kebersihan sebagian dari iman”, maka dalam intelektual juga punya “bertanya adalah sebagian dari ilmu”. “Bertanyalah sebelum kau mati”, Kata Socrates. “Malu bertanya sesat dijalan”, tambahan peribahasa Indonesia. Masihkah, ada mental pengecut bagi seseorang manusia yang hidup di zaman ini? yang tidak mau bertanya hal apapun karena malu, karena gengsi, karena ilmu kita lebih banyak dari subjek yang mau kita tanyakan? ya ternyata mungkin saya/kita salah satunya.

Disaat banyaknya gempuran teknologi informasi yang sangat “menina-bobokan” para penggunanya, lebih memilih “searching” dari pada “asking and reconfirmation” hal ini membuat kita tidak mau menerima sebuah kebenaran sebagai nalar kritis akal. “Saring sebelum sharing“Kata Gus Nadir, harusnya. Sekarang, tidak lagi menjadi ciri seseorang yang berbicara di dalam platform media, terutama media sosial. Bahkan, banyaknya buzzer dan akun palsu yang menyebarkan berita-berita bohong dan sangat tidak beradab, semakin menjamur. Dampaknya, gempuran teknologi juga memiliki sisi negatif yaitu menurunnya produktivitas seseorang (lebih senang buka timeline media sosial) dibanding mau berusaha untuk membaca langsung sumber berita/ ilmu dan bertanya langsung kepada sumber ilmu/kabar/berita.

Konflik-konflik yang terjadi ditengah-tengah masyarakat, saat ini sangatlah bergantung pada kemampuan komunikasi antar elemen masyarakat. Bahkan, kejadian-kejadian permasalahan sosial terjadi karena adanya miss perception dari para pengguna social media terhadap suatu berita, pesan teks yang sangat berbeda dengan tutur kata langsung. Fenomenanya, juga berubah. Kita lebih senang dan sudah mengambil kesimpulan terhadap tuturan kata-kata didalam media sosial ketimbang ingin re-confirmation kepada si penutur pesan, yang menyebabkan masyarakat saling jauh dan tak terikat secara emosional. Bahkan, antar tetangga, antar masyarakat dalam suatu lingkungan tidak mau saling menyapa atau hanya sekadar duduk mengobrol membicarakan isu.

Menurut Program for International Student Assessment (PISA) rilisan Organisation for Economic Co-Operation and Develompent (OECD) tahun 2015, Indonesia peringkat 62 dari 70 negara (sumber). Padahal, Indonesia memiliki fasilitas perpustakaan nasional dan perpustakaan yang bagus di perguruan tinggi negeri yang representatif untuk diakses kalangan masyarakat luas. Hal ini, sangat memprihatinkan dan harusnya kita terus bergerak dan mengubah budaya dari budaya membicarakan hal/masalah, menjadi budaya mengkonfirmasi hal/masalah .

#MakeIndonesiaReadAgain, ya tulisan saya kali ini adalah menggambarkan diri saya yang masih malas untuk membaca, tak mau bertabayun atas permasalahan yang timbul karena miss komunikasi di media sosial, yang masih tak mau mengecek kembali berita-berita yang bertebaran, tak mau juga mendekati sumber ilmu (buku/kitab) terhadap suatu penyebaran informasi yang akhirnya menjadi sebuah ideologi dan pandangan hidup yang kita pegang. Selain rasa malas untuk konfirmasi, juga kepuasan dan “budaya instan” sangatlah mengganggu terhadap perkembangan intelektualisme didalam kemanusiaan dan tentu budaya literasi didalam suatu negara.

Cukup sudah, kita menjadi mental pengecut yang mau mengetahui tanpa perlu susah payah. Tanpa langsung bertanya kepada sumber utamanya. Apapun, itu. Sudah saatnya mental pengecut untuk debat di media sosial kita sudahi dan mulai-lah bertatap muka untuk membicarakan semua hal dalam bingkai keilmuan yang memiliki referensi baik secara akal maupun tinjauan ilmu. Saatnya, duduk bersama dan bicarakan persoalan kebangsaan yang menjadi semangat perubahan demi Indonesia yang lebih baik. Tentunya saya ingin mengkritik diri sendiri yang masih jauh dari kebenaran.

Soe Hok Gie bilang:

Apalah hal yang lebih puitis, selain berbicara tentang kebenaran.

Catatan;

#MakeIndonesiaReadAgain adalah sebuah gerakan kecil yang saya gagas pada Januari 2016 atas kegelisahan saya terhadap diri, lingkungan sekitar tentang budaya membaca yang hilang dari keluhuran budaya Indonesia disekitar saya. Tentang kekuatan intelektualisme manusia yang harusnya melahirkan critical thinking, ketekunan dan berfokus pada karya dan budaya baik lainnya. Mari kita mulai, satu hari-satu lembar buku!

Menghilang atau …

Dengarlah yang baik, sebelum kenikmatan mendengarmu menghilang

Lihatlah yang baik, sebelum kenikmatan melihatmu menghilang

Bertuturlah yang baik, sebelum kenikmatan berbicaramu menghilang

Berpikirlah yang baik, sebelum kenikmatan akal jalanmu menghilang

Merasalah yang baik, sebelum hati rasamu menghilang

 

Yang baik, adalah ketika kamu, kita…

tidak mau mendengar sesuatu yang tidak boleh didengar

tidak mau melihat sesuatu yang tidak boleh dilihat

tidak mau berbicara sesuatu yang tak perlu dibicarakan

tidak mau berpikir, sesuatu yang tidak boleh dipikirkan

tidak mau merasa, sesuatu yang tidak patut untuk dirasakan…

 

Indera, adalah kenikmatan yang tak setara dengan rupiah atau dolar

Hanya kepada kebenaran, semua itu di-kiblat-kan

Hanya kepada keadilan kita boleh membuka semua indera…

 

Kolong langit, 10 Maret 2019

19.57

Reading List 2018 (Readed)

Pramoedya Ananta Toer-Anak Semua Bangsa

Dunia Anna-Jostein Gaarder

Autobiografi (Tribute to Chairil Anwar)-Melissa Sunjaya

Reach Your Dreams-Wirda Mansur

Rentang Kisah-Gita Savitri

The Subtle art of not giving a F*ck-Mark Manson

Awe Inspiring us-Dewi N. Aisyah

33 Pesan Nabi (Komik Muslim)-vbi_djenggoten

Fantastic Beast and where to find them-JK.Rowling

Membumikan Alquran-Quraish Shihab

Tuhan Maha Cemburu-Emha Ainun Nadjib

Mohammad Hatta-Dr.Deliar Noer

Berfikir seperti Sherlock Holmes-Maria Kannikova

Explore 20 Kisah Perantau Ilmu-PPI Dunia

Kristalisasi Ideologi Muhammadiyah-Haedar Natsir

Catatan Seorang Demonstran-Soe Hok Gie

Capita Selekta-M.Natsir

Filsafat Pemikiran – Al-Farabi

Materi Perempuan di masa revolusi-Soekarno

Politik Identitas-Buya Syafii Maarif

Kenapa Kuliah di Tiongkok (China) #Bagian2

Kata Imam Syafii tentang merantau:

“Anak panah tidak akan mengenai sasaran, jika tidak melejit dari busur panahnya”.

Kata-kata ini  menjadi sebuah trigger  bagi saya bahwa hidup bukan tentang nyaman dan hidup saja. Tapi, tentang  mencari arti dari hidup dan justru dapat kita temukan ketika sedang merantau dan jauh dari kampung halaman. Merantau, adalah tentang belajar menemukan, bukan hilang arah dari sebuah pencarian. Ya, pencarian diri.

Setelah kurang lebih 2 tahun hidup dan belajar di China (Tiongkok), tak terbayangkan bahwa saya merasa masih belum bisa “menyamai” mereka. Dalam hal produktivitas, efektivitas dan effort (berusaha). Satu hal yang masih perlu saya pelajari adalah bangsa ini sangat bangga akan kenegaraan dirinya. Mereka mau berusaha semaksimal mungkin untuk diri mereka. Walaupun, orientasinya masih jauh sekali dari kata dan nilai-nilai ketuhanan. Namun, sebagai inti dan personality mereka tentang hidup bernegara adalah mereka yang mau berusaha untuk kemakmuran diri, keluarga dan akhirnya masyarakat sampai satu Negara, walaupun dimulai dari masing-masing dan masing-masing menjalani perjalanannya. Tidak nyaman dengan keadaan!

Setelah tulisan saya tentang kenapa kuliah di china (bagian 1), kali ini saya akan membahas nya lebih random dan lebih mengalir yang ada didalam benak saya. Satu hal yang menarik dari kehidupan akademik dikampus saya adalah tentang bedanya hidup dan tinggal disuatu Negara untuk belajar (bukan di tanah air). Bangun dipagi hari, lalu ke lab untuk melakukan aktifitas penelitian sampai siang atau bahkan malam. Diselingi dengan makan dan sholat, rutinitas ini selalu menghiasi hari-hari saya setiap weekdays. Disamping itu, kita selalu terpacu disetiap harinya ketika bertemu dengan teman-teman lain di satu lab. Dan itu, membuat saya perlu belajar (lagi)!Ya, pada intinya dalam hal kehidupan akademis China merupakan satu Negara yang sangat kondusif untuk menjadi pilihan tempat belajar. Kondisi pemerintahan, keuangan dan keamanan Negara yang “mapan”, menjadikan salah satu Negara yang cukup aman dan tentu saja hukumnya pun pasti sangat ditegakkan. Artinya, China merupakan satu Negara berkesan!.Bukan berarti, pergi ke China untuk melanjutkan studi, telah berubah menjadi orang yang mempromosikan China dan pada akhirnya membanggakan China. Saya katakan di awal, jika baik akan saya katakan baik, jika tidak ya tidak. Terbukti, stereotype orang Indonesia terhadap China masih bisa dikatakan kental dikarenakan akar sejarah dan tentu konspirasi dari pihak tak bertanggung jawab. Tapi berhenti sampai disini, pada intinya China adalah suatu Negara yang disegani dunia dan tentu dengan telah dijadikannya China sebagai salah satu Negara dewan kesatuan keamanan PBB, posisinya dalam hal politik tidak dapat diremehkan. Ini, bukan soal dimana kita belajar, tapi apa yang kita pelajari.

Tak banyak bicara, China melalui banyak start up dan perusahaan teknologi telah menjadikan China sebagai salah satu Negara yang menginvestasikan dananya untuk kebutuhan riset dan pengembangan teknologi yang cukup banyak. Dikutip dari sumber bahwa China mengalami perkembangan yang sangat pesat dalam hal AI setelah US dan Canada. Ini, menjadikan saya banyak belajar ketika China menjadi pilihan saya untuk belajar CS dan tentu tidak hanya ilmunya tapi juga budaya baiknya untuk terus belajar dan berinovasi. Pemerintah, seperti halnya yang terjadi di Senzhen, banyak memberikan wadah bagi anak-anak muda China untuk berinovasi dalam hal apapun. Seperti teknologi informasi, teknik perkayu-an dst. dan lagi-lagi ini menjadi bahan belajar saya.

Beijing, saya beruntung Alhamdulillah bisa kuliah di ibukota. Beijing, adalah kota penting Tiongkok yang pada akhirnya semua event yang berkaitan dengan politik dan acara lain yang begitu besar seperti olahraga, conferences ilmiah membuat saya sering mengikuti perkembangannya secara Cuma-Cuma!. Ditambah lagi, kota yang dijuluki sebagai smartcity di China selain shanghai dan kota lainnya juga menjadikan saya banyak belajar. Seperti, kartu transportasi dalam genggaman yang bisa digunakan untuk bertransportasi macam-macam public transport. Begitu juga wechat dengan segala kegunaannya eg. Transaksi online dengan sistem barcode, ini telah menjadikan peredaran uang secara fisik sudah tidak lagi lazim digunakan, memesan taxi dari wechat, mengisi pulsa dsb. Ada istilah, “your mobile phone it’s your life” ternyata benar. Bahwa membawa handphone adalah hal yang wajib!

berkuliah di China, mendapat kesempatan untuk bisa ikut PPI! ya, Persatuan Pelajar Indonesia atau bahasa inggrisnya Overseas Indonesia Students Association Alliance (OISAA). Tak terbayang bukan, selain berkuliah kita bisa berteman dengan seluruh orang Indonesia yang sedang kuliah di seluruh dunia dan kita bisa bersinergi dan berteman dengan orang-orang yang memiliki semangat yang sama untuk belajar bagi diri sendiri yang tentu menjadi efek ketika niatnya adalah untuk Indonesia!. pada tahun 2017 ini, saya tergabung dengan PPI di Departemen Pendidikan dan Pengembangan Organisasi. Bertemu dengan PPI Dunia, PPI negara-negara lain dan berbagi informasi serta semangat!. Ini, seru!

Bung Karno bilang:

Gantungkan cita-citamu setinggi langit, jika kau terjatuh engkau akan terjatuh di antara bintang-bintang.

So, let’s do it! Mendapat kesempatan kuliah di luar negeri, juga memberikan saya banyak teman dari China khususnya dan juga dari berbagai penjuru dunia. Ya, saya banyak mengenal teman dari berbagai negara tidak hanya didalam kampus, tapi dari pertemuan-pertemuan santai, pertemuan ilmiah. Teman yang saya temui tersebut memberikan saya banyak sudut pandang berbeda tentang memahami aspek kehidupan yang selama ini mungkin menjadi hal paradoks bagi kita sendiri dan juga banyak orang ketika tidak dalam “satu meja”. Indahnya saling menghargai ketika mereka tahu saya muslim dan saling berbagi informasi dalam hal menarik seputar toleransi, politik kekuasaan atau bahkan kehidupan pribadi membuat kita mengerti, bahwa hidup kita di dunia ini tidak sendirian. Kita harus berdampingan!. Tentu, menjadi umat muslim bukanlah hal yang mudah dan juga bukan hal yang sulit. Rasulullah saw sudah contohkan! yap, Bismillah.

Banyak hal yang sebenarnya belum saya “potret” dari kehidupan saya dalam studi di China selama ini. Namun, rasa syukur tak terkira kepada Allah SWT yang akhirnya membawa saya pada tahap dimana “kamu harus menemukan dirimu”.

selanjutnya… (bersambung)

Pendidikan?

Pendidikan

Pendidikan boleh diartikan sebagai proses mencari tahu sesuatu yang tadinya belum tahu menjadi tahu (Socrates). Atau, pendidikan boleh diartikan sebagai memaksimalkan fungsi akal untuk berproses menghasilkan sesuatu yang akan diketahui dengan pengetahuan dan hikmah (Ibn Sina).

Mandat Al-Quran untuk Belajar

Al-Quran sebagai firman Allah SWT yang mutlak dikerjakan, mengajak umat manusia untuk mengawali hidupnya “bacalah!” Yang diartikan juga sebagai belajar adalah makna dari hidup. Baca sangat erat kaitannya dengan belajar. Barang siapa yang ingin menjadikan belajar sebagai perjalanan hidupnya, maka dia telah mengikuti perintah Allah kepada Rasulullah melalui malaikat Jibril.

Perbedaan manusia dengan makhluk lainnya

Seperti yang dikatakan filsuf Islam Mulla Shadra, Ikhwan Al-Shafa dan Al-Farabi, bahwa perbedaan manusia dan hewan adalah akalnya. Bahkan, kata beliau manusia adalah hewan yang berakal. Namun, pada proses yang berjalan. Manusia memiliki 2 potensi. 1 potensi insan kamil, 1 potensi binatang dan eksistensi dibawahnya. Maka, jika manusia ingin dikatakan manusia maka ia wajib memaksimalkan fungsi akalnya dengan memiliki “gairah” belajar yang tinggi.

Memberi makanan ruh

Secara tidak sadar, sebenarnya ketika kita sedang belajar, kita sedang memberikan ruh kita makanan langit. Artinya, ilmu itu adalah makanan ruh. Jika kita hanya memberikan makanan hanya untuk fisik dan sibuk memperhatikan fisik kita saja, bisa jadi ruh kita yang sudah lama tidak diberi “nutrisi” akan lemah bahkan mati.

Belajar bukan hanya di lembaga formal

Banyak yang beranggapan, mungkin kita, memahami belajar atau pendidikan hanya sebatas pada formal dari bangku sekolah bahkan sampai kuliah. Padahal, kalau meminjam istilahnya Plato, the university of life itu sebenarnya ketika kita sedang ada di masyarakat. Yang artinya, belajar tidak terbatas pada ruang kelas. Ruang terbuka diskusi dan kajian bisa dilakukan dimana saja.

Belajar, Pendidikan kuncinya adalah Buku.

Ya, jika belajar adalah jalannya hidup ini, maka proses pendidikan harus dimulai dari buku dimana kata kerjanya adalah baca (Iqra) baca juga tidak hanya diartikan membaca secara literasi, tetapi membaca juga secara universal. Membaca ayat kauniyah dan kauliyah-Nya dengan hikmah. Maka, salah satu kuncinya adalah generasi kita semua harus (mulai/lagi/semakin) dekat dengan buku.

Saling berbagi ilmu

Ketika kita sudah merasa belajar dari masing-masing kita, maka akan timbul rasa saling belajar. Karena ilmu, terlalu luas untuk di simpan sendiri. Semakin banyak kita berbagi ilmu, semakin bertambah pula ilmu kita. Mari berbagi atas apa yang kita punya walaupun itu sedikit. Jika salah? Belajar adalah sebuah proses. Yang pernah salah berarti sedang dalam proses belajar. Belajar adalah hak dan kewajiban bagi setiap orang. Belajar adalah kita saling nasihat menasihati dalam kebaikan.

Pendidikan, Adalah Hak Bagi Setiap Warga Negara RI (UUD’45)
Beijing, 2 Mei 2016

Kenapa Kuliah di Tiongkok (China) #Bagian1

Potret Belajar di Negeri Tirai Bambu

Tahun 2015, adalah tahun yang sangat spesial bagi saya. Kenapa? Karena nikmat-Nya yang begitu banyak diberikan, kini ditambahkan lagi, satu nikmat yang tidak mampu dibalas selain ucapan dan aktualisasi syukur kepada Allah SWT. Nikmat itu tak lain adalah, saya diberikan kesempatan untuk berkuliah (belajar) tidak di bumi pertiwi. Sebuah negeri yang bernama China (Tiongkok) atau dikenal dengan “Negeri Tirai Bambu”.

Alhamdulillah, beasiswa ini bernama “Chinese Government Scholarship atau yang dikenal dengan CSC, Program Studi Computer Science and Technology, Beijing University of Chemical Technology.  Sebelum saya berangkat kesini, banyak dari kita yang punya ekspektasi awal tentang bagaimana negeri ini, sebagai contoh; Tiongkok adalah Negara Komunis.Negeri yang terkenal dengan teknologi nya yang menguasai pasar di Indonesia (salah satunya) seperti di pusat kota Jakarta (glodok) atau negeri dengan segudang pengusaha dan pedagang Tionghoa. Atau negeri yang penduduknya banyak mengkonsumsi daging b*bi, atau negeri yang terkenal dengan panda dan barongsainya serta, ekspektasi dan “dugaan” hal lainnya.

Singkat cerita, setelah saya menginjakkan kaki pertama kalinya, Tiongkok adalah negeri yang indah (tertib, bersih, teratur). Beijing International Airport saja, pada tahun 2014-2015 dinomatkan sebagai Bandara terbaik ke-2 di dunia (baca di Information Table di Airport). Udaranya juga, yang cukup sejuk karena letak geografisnya yang berada di utara bumi, berbatasan dengan Mongolia, Rusia dan Negara-negara lainnya.

Beijing, Kota yang sekaligus Ibukota Tiongkok juga merupakan kota yang terletak di utara Tiongkok. Jalan raya nya yang begitu lebar (4 jalur), banyaknya pejalan kaki dan pengguna transportasi public, sampai kesan pertama cepatnya mereka berbicara dalam bahasa mandarin.

Potret pertama yang saya temukan adalah, banyak penduduk Tiongkok terutama para pekerja kasar, supir taksi contohnya  tidak mampu berbahasa Inggris barang sedikit. Awal tiba di Beijing, saya begitu kebingungan untuk minta diantarkan ke kampus yang alamatnya berbahasa Inggris, hingga akhirnya saya minta tolong beberapa dosen di kampus saya untuk dimintakan berbicara dengan supir taksinya.  Setelah sampai dikampus, saya hanya mengucapkan “Xie xie” (modal utama untuk pergi ke luar negeri adalah bagaimana mengucapkan terima kasih bahasa mereka) kepada supir taksi dan senyum seadanya.  Tarif  taksi yang kira-kira dengan kecepatan rata-rata nya 60 Km/jam dalam waktu 45 menit, sebesar 64 Yuan (mata uang Tiongkok) yang kalau dirupiahkan 120 ribu rupiah (1 yuan=2100/Agustus 2015). Ya, saya merasa Tiongkok adalah sebuah Negara dengan bahasa yang paling tersulit di dunia. Dan ternyata itu benar. Dosen saya, yang pertama kali mengajarkan bahasa mandarin, mengatakan bahwa bahasa mandarin adalah bahasa tersulit di dunia dengan karakter hampir 5000 karakter (hanzi) dan 4 tones (nada). Beliau saja bilang, banyak penduduk Tiongkok sendiri salah mengucapkan ketika berbicara atau menulis. Hal ini membuat saya juga merasa ter-Enyuh (bahasa gaulnya ngeluh). But “I Will Try!”. Sesampai di kampus (BUCT) sebagai kampus negeri “211 Project Best Campus in China”, dengan 11.000 Mahasiswa dan lebih dari 400 lebih mahasiswa International, kampus ini memiliki 3 Kampus terpisah dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Kampus saya, Kampus 1 terletak di tengah kota, Hepingxiqiao Bei San Huan Dong Lu nama jalannya. Kampus ini cukup megah terdapat fasilitas seperti perpustakaan 6 lantai, fasilitas olahraga yang lengkap seperti lapangan sepak bola, basket, tenis, bulutangkis, gym dsb., lalu tentu saja ruang kelas dengan papan tulis kapur (kenapa harus kapur? Nanti saya ceritakan), lalu laboratorium yang cukup baik, gedung-gedung lainnya yang saya sendiri belum cukup tahu fungsinya, taman-taman untuk belajar atau hanya untuk duduk-duduk saja, Café Tea atau Cofee, lalu pusat kesehatan, pusat karier dan beasiswa, pusat penelitian, pusat kegiatan mahasiswa, ruang aula dan auditorium dan sebagainya. Lalu, yang terpenting terdapat kantin dengan 2 jenis. Kantin pertama untuk mahasiswa biasa, kantin kedua adalah kantin untuk mahasiswa atau warga kampus yang muslim (Kantin HALAL: Qing Zhen). Sayapun terheran!, Negara seperti Tiongkok dan kampus yang terbilang warganya mayoritas non-muslim, menyiapkan kantin untuk warga kampusnya yang muslim. Ya Allah, ini nikmat lagi yang diberikan oleh-Nya. Ternyata, mereka begitu menghargai bahwa kita adalah umat muslim. Alhamdulillah.

Potret ke-dua yang saya temukan adalah, banyak mahasiswa mampu berbahasa Inggris walaupun S1, di semester 4 mereka diwajibkan untuk dapat berbahasa Inggris. Artinya, mahasiswa berbeda dengan lapisan masyarakat yang lainnya untuk berbahasa Inggris (potret satu tadi). Jadi kami yang sedang galau dengan bahasa mandarin, bisa saling belajar

Potret ketiga, para mahasiswa memiliki banyak hobi dan kebisaan diluar dari major (jurusannya). Seperti Kungfu, pengobatan khas Tiongkok atau kegiatan diluar perkuliahan lainnya. Artinya, mereka juga aktif berkegiatan diluar jam perkuliahan. Seperti music atau lainnya yang berhubungan dengan kegiatan kemahasiswaan. Kalau dikita, mungkin BEM atau UKM nya.

Potret ke-empat, para mahasiswa juga banyak yang menghabiskan waktunya di perpustakaan. Karena perpustakaan juga salah satu tempat favorit saya karena sangat tenang dan nyaman. Perpustakaan disini cukup nyaman dan bagus. Di buka, dari jam 8 pagi dan ditutup sampai jam 11 malam. Di perpustakaan juga kita dapat menemukan banyak para mahasiswa yang saling berdiskusi di meja kotak, para mahasiswa yang hanya sekedar wifi atau mencari literature bacaan dan membaca serta, para pegawai perpustakaan yang ramah dan tanggap.

Potret ke-lima, adalah mengenai kuatnya akar budaya bangsa Tiongkok. Kita semua tahu, bahwa Tiongkok mempunyai kalender Lunar (kalender tahunan) yang berbeda dengan bangsa lainnya di dunia. Sebagai contoh, Hari militer dan hari kebudayaan lainnya, memiliki akar nilai yang sangat melekat pada masyarkatnya. Terutama para mahasiswa. Pemerintah, memiliki “cara” yang sangat jitu dalam menanamkan nilai-nilai kebudayaan luhur mereka terhadap kebudayaannya. Warna merah yang terdapat pada bendera Tiongkok juga melambangkan keberentungan dan keberanian, sangat melekat pada jati diri mereka. Hampir disetiap toko, jalan, sekolah, kampus, kita akan menemukan sesuatu yang berwarna merah. Entah itu, pakaian,  lukisan, origami dsb. Bayangkan juga, para mahasiswa Internasional disini, diberikan kelas kebudayaan Tiongkok (Chinese Culture Class) 1 minggu 1x. Dan, mereka sangat senang jika banyak diantara kita yang serius mau belajar.

Potret ke-enam, mengenai bahasa mandarin. Menurut data dari Unesco pada 10 tahun terakhir, bahwa bahasa mandarin adalah bahasa yang paling banyak digunakan diseluruh dunia, walau bahasa Inggris adalah bahasa Internasional, bahasa mandarin berada ditempat pertama. Bisa dibayangkan juga sih ya, penduduk Tiongkok adalah yang terbanyak didunia, dengan total populasi lebih dari 1 M lebih. Menurut saya, secara pribadi belajar bahasa mandarin memiliki kesan tersendiri. Seperti banyak orang di Indonesia yang menirukan Engkoh-engkoh berbahasa Indonesia dengan gaya mandarin (contoh: “elu olang”-cadel dikit-dikit gitu) ternyata ga ditemukan disini. Kita terlalu lebay mengesankannya sepertinya ya hehe. Bahasa mandarin, seperti halnya bahasa lainnya, punya metode pengajaran sama seperti bahasa Inggris (Speaking, Listening, Reading, Writing dsb.) dan punya standarisasi kelulusan dan tingkatan (kalau di Bahasa Inggris seperti TOEFL/IELTS) kalau di Tiongkok disebut dengan HSK. Ya, seru juga!

Potret ke-tujuh adalah, masalah kehidupan di masyarakat. Saya melihat di televisi dan kehidupan keseharian masyarakat bahwa mereka sangat menghormati orang tua mereka terutama Ibu. Berbagai macam dan seringnya program televisi dan film yang mengangkat tema keluarga, terutama ibu sebagai sosok yang wajib dihormati dan dihargai serta disayangi. Ketika saya berjalan ditaman-taman kota, banyak juga para anak-anak kecil yang terlihat begitu menyayangi dan “patuh” terhadap orang tuanya. Ini, patut dicontoh banget.

Potret ke-delapan adalah, transportasi public yang sangat mudah dan cepat. Pemerintah sangat konsen terhadap “pelayanan masyarakat”. Disini, kita tidak akan menemukan jalan yang banyak pengendara motornya. Ya, di Tiongkok khususnya di Beijing, menggunakan sepeda motor adalah hal yang illegal. Jadi, kamu mau tidak mau harus naik sepeda motor elektronik, sepeda (bisa disewa), subway (kereta bawah tanah), bus (angkot) dan semuanya itu menggunakan 1 kartu, yang disebut public transportation card. Kemacetan disini juga ada, namun mampu diurai dengan cepat. Karena ruas jalan yang begitu lebar dan terdiri dari 4 jalur. 2 jalur ditengah untuk kendaraan cepat 2 jalur pinggir (kiri dan kanan) untuk melambat. Kita iri juga untuk ada di Indonesia. Hehe

Potret ke-sembilan adalah, kita kembali ke suasana di kampus, dosen dan mahasiswa mempunyai hubungan yang sangat dekat. Bahkan kita sering ditanyakan kabar seperti “Bagaimana kesehatanmu” atau hanya sekedar “sudah makan atau belum?”. Mereka juga sering menanyakan apakah sudah mengerti ketika sedang dalam perkuliahan mesti kita sudah bertanya berkali-kali walau sudah masuk jam istirahat atau habisnya jam perkuliahan, mereka (dosen) mau meluangkan waktunya lebih untuk mahasiswanya. Menyambung soal kenapa mesti pakai kapur dan papan tulis hitam? Menurut mereka, dan sayapun ingat dengan pelajaran tentang “Pengolahan Citra” yang membahas tentang spectrum kekuatan warna, bahwa mata kita akan cepat lelah ketika melihat papan tulis berwarna putih dan tulisan berwarna gelap. Dibanding, papan tulis gelap dengan tulisan yang berwarna terang seperti putih.

Potret ke-sepuluh, tentang umat muslim yang ada di Tiongkok. Ya, tulisan saya sebelumnya tentang “Rindu Suara Adzan” membahas sedikit tentang umat muslim di Tiongkok. Ternyata, cukup sering saya temukan para mahasiswi yang menggunakan hijab dikampusterutama ketika waktu makan siang di kantin muslim. Mahasiswa-mahasiswa dari Negara lain seperti Pakistan, Arab Saudi, Uzbekistan, Rusia dsb. yang muslim pun disini memiliki persaudaraan muslim yang cukup baik. Intinya, mencari masjid dan teman muslim di Tiongkok tidak sesulit yang kita bayangkan di awal. Bahkan di Tiongkok, kita akan mudah mendapatkan makanan-makanan yang berlabel halal seperti roti, susu, snack atau daging halal sekalipun. Dan juga, beberapa restoran halal yang disertifikasi khusus oleh pemerintah, cukup mudah untuk kita temukan walaupun tidak terlalu banyak. Ternyata banyak saudara kita dalam Iman! 🙂

Potret ke-sebelas, adalah ketika ada Film yang dibuat oleh Tiongkok seperti Kungfu Panda 3, Ipman 3 yang cukup mendunia, kita dapat menontonnya lebih dahulu disini. Dan tentu saja dengan harga tiket yang cukup lumayan, yaitu 50 yuan atau setara dengan 100 ribu. Industri film di Tiongkok juga dapat dikatakan maju, karena banyaknya akademi khusus dan universitas yang konsen terhadap perfilman di negaranya.

Potret ke-duabelas, dalam kehidupan keseharian, saya mengira bahwa Tiongkok adalah negeri yang tidak aman karena berbagai factor “sangkaan dan isu”. Ternyata, justru kebalikan dari ekpektasi di awal. Terutama para student in abroad, kami disini sangat dijaga terutama soal keamanan diri. Setiap hari, para mahasiswa yang keluar masuk asrama harus tepat waktu jika keluar dan masuk asrama (demi keamanan), dan berkelahi adalah sesuatu yang sangat dilarang dan melanggar hukum yang cukup berat. Asrama Mahasiswa dibuka dari jam 6 pagi, dan ditutup sampai jam 11 malam. Ditambah lagi, para warga kampus yang sangat ramah terhadap para mahasiswa Internasional yang sedang berkuliah atau hanya sekedar untuk saling mengobrol.

Dari semua potret yang saya tangkap ini, tentu saja masih banyak kekurangan dan kehilafan. Tapi, seperti Imam Syafii katakan: “Anak panah yang hanya diam dibusur tanpa melesat, ia tidak akan mengenai sasaran”. Lalu, pesan Ir. Soekarno 1968 “Belajarlah kamu kemanapun, kalau perlu tinggalkan Indonesia dan setelah selesai kembalikah ke pangkuan ibu pertiwi” dan hadits nabi yang sangat popular “ Tuntutlah Ilmu walau sampai ke negeri China” membuat saya semangat untuk terus belajar kemanapun, kepada siapapun dan dimanapun. Bahkan, Filosof Yunani, Socrates yang pertama kalinya mendifinisikan apa itu fungsi akal sebelum ia meninggal mengatakan “Bahwa saya tahu, bahwa saya tidak tahu” adalah semangat saya untuk belajar, semangat untuk menjadi manusia yang lebih baik, apalagi, belajar di negeri Tiongkok, di negeri dengan ekonomi terkuat didunia yang penduduknya punya ciri unik dan mengesankan, saya sangatlah bersyukur kepada Allah SWT. Kita di ciptakan oleh-Nya untuk saling mengenal dan memahami bukan? (QS. Al-Hujarat). Mari berbicara dan membicarakan seuatu atas nama kemanusiaan dan mencerminkan nilai-nilai Islam yang sesungguhnya, yang indah dan ber-Akhlaq. Kita sampaikan bahwa Islam dan khususnya warga Indonesia adalah penduduknya yang semangat, yang ramah dan murah senyum ini, mendapat tempat yang baik dihati mereka-mereka, saudara kita dalam kemanusiaan. Ayo belajar! “Because I am Indonesian”.

Sampai jumpa di cerita saya selanjutnya, karena ini baru sebagian kecil potret yang saya tangkap. Semoga yang membaca  mendapat hikmah dari setiap tulisan yang saya tulis dengan penuh perenungan ini. Mohon doanya dan tentu saja kita saling mendoakan agar kita mampu menjadi manusia yang lebih baik disetiap detiknya, karena perubahan dimulai dari diri sendiri.
http://www.kompasiana.com/tirta.anhari/potret-belajar-di-negeri-tirai-bambu_56ba0743a3afbdd315592d29

(bersambung)