Jangan Sampai

Jangan sampai dunia berubah karena kerusakan

Jangan sampai diri berubah karena kesombongan

Jangan sampai langit memerah karena bumi marah

Jangan sampai bumi pecah karena langit murka

Jangan sampai kita berulah karena tidak siap mengemban amanah.

 

Jangan sampai, …

Puncak-Bogor, 9 Maret 2019

Jangan Jadi “Negeri Sampah”;

Sebuah Keresahan Warga Negara Biasa

Sudah 73 tahun Indonesia merdeka dan sedang menuju 74 tahun, persoalan kebangsaan masih terus berkembang dari yang berskala nasional maupun pedesaan. Persoalan demi persoalan muncul ketika semua aspek kehidupan terus berkembang sesuai dengan tuntutan zaman yang cepat dan beruntun. Sebut saja satu aspek yaitu dunia industri. Industri tidak akan pernah mati ketika kebutuhan masyarakat terhadap suatu komoditi dan kebutuhan lain menjadi kebutuhan pokok. Industri-industri ini, sangat bergantung kepada bahan pokok, produksi, pengemasan (barang), dan juga distribusi. Salah satu yang menjadi persoalan adalah tentang limbah-nya, yaitu sampah plastik. Tidak tahu lagi, Indonesia akan seperti apa jika penata-kelolaan sampah tidak dimulai dari sekarang pembenahannya. Mari kita bedah.

Kita ketahui, bahwa sampah dan pengelolaannya masih dirasa minim. Ketika kita melihat pengelolaan sampah oleh UPT kebersihan kota misalnya, setiap sampah rumah tangga saja (belum industri) masih belum dirasa baik karena hanya diambil dari tempat pembuangan dan ditampung menumpuk di UPS (Unit Pengelolaan Sampah).Di jalan raya, masyarakat membuang sampah ditempat-tempat yang tidak lazim, seperti pinggir jalan, trotoar (bahu jalan) bahkan, melemparnya ke tempat-tempat sepi dan yang lebih parah lagi di bantaran sungai atau bawah jembatan (kali). Sampah, masih belum bisa di pilah-pilih sesuai dengan jenisnya untuk memudahkan pemusnahan dan pengelolaan serta daur ulang. Masyarakat cenderung pragmatis terhadap hal ini. Sebagian besar hanya ingin membuang sampah keluar dari rumah, proses setelah itu tidak terlalu aware terhadap pengolahannya. Yang menjadi problem-nya adalah bagaimana sampah ini? mau di-apa-kan setelah dibuang? Gotong royong untuk pengolahan sampah-pun dirasa masih kurang.

Fakta mengejutkan menurut BPS, inaplas dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (2018), sampah plastik (satu jenis) saja, Indonesia menyumbang 64 juta ton/tahun dan dibuang ke laut sebanyak 3,2 juta ton/tahun. Fakta mengejutkan lagi, Indonesia menjadi negara terbesar ke-2 setelah Tiongkok (urutan ke-1) dalam menyumbang sampah plastik ke laut, di ikuti Filipina, Vietnam dan Sri Lanka masing-masing urutan ke-3,4, dan 5. Bagaimana tidak, populasi terbesar urutan ke-4 di dunia (data dari; U.S. Census Bureau Current Population) di dunia, jika pengelolaan sampah tidak menjadi hal utama untuk di tuntaskan, kerusakan ekosistem, pencemaran lingkungan dan tentu saja bencana alam bisa terjadi kapanpun karena ulah kita sendiri. Dan pastinya, jika kita tidak memulai dari diri sendiri dan sadar atas apa yang telah terjadi kita akan selalu merasa nyaman dan aman hingga akhirnya kita memakan sendiri penceraman lingkungan yang kita lakukan.

Sudah saatnya, kita mulai memperbaiki pola hidup, yang sebenarnya sangat sederhana. Untuk menyuarakan dan merubah kebiasaan menggunakan plastik untuk berbelanja dan sebagainya, karena ini sudah sangat mengkhawatirkan. Bayangkan, jika setiap hari kita memakan 1 permen, dan membuangnya ditempat yang sama selama 1 tahun, berarti ada 365 buah sampah bungkus permen di tempat tersebut. Bagaimana dengan sampah plastik yang lain?. Di Tiongkok misalnya, dalam berbelanja kita harus bawa tas/kantung atau jika terpaksa kita harus membeli kantung plastik dengan harga yang agak mahal dan petugas kasir menanyakan secara langsung kepada pelanggan apakah harus membeli kantung plastik atau tidak. Ini patut dicontoh.

Intinya, sebagai masyarakat kita juga harus sendiri merasa sadar betapa susahnya mengelola sampah dengan baik dirumah-rumah. Kita harus memulai meningkatkan kesadaran dari hal sederhana dengan tidak lagi bergantung pada plastik, dan mengelola sendiri per-sampah-an di lingkungan rumah. Memulai juga dengan tidak membuang sampah sembarangan, walau ini adalah hal klise yang sering diajarkan dari TK (Taman Kanak-kanak). Ditambah, sinergi pemerintah dalam mengupayakan Desa, Kecamatan, Kota dan bahkan negara yang bersih harus dimulai dari rumah-rumah (keluarga) yang sadar akan kebersihan dan juga menggunakan sumber daya alam untuk kebutuhan tumah tangga yang ramah lingkungan.

From now, say no to plastic and don’t buy plastic with your own money!

Jangan biarkan dan jangan sampai kita menjadi “Negeri Sampah”. Indonesia harus merdeka, salah satunya adalah merdeka dari sampah yang akan merusak bumi Indonesia.

Tentang melanjutkan cita-cita Bangsa

Para pahlawan, para pendiri bangsa, para generasi emas anak bangsa, telah mendedikasikan hidupnya untuk perjuangan. Mereka, berkorban atas semua hal dalam dirinya, menjauhi kesenangan dan kenikmatan dunia, untuk kehidupan yang lebih baik bagi generasinya di masa mendatang. Bagi beliau-beliau, tugas mereka sudahlah selesai. Saatnya, anak bangsa hari ini, tak lagi mengeluh dan nyaman dalam kehidupan dan terlena dalam pusaran serta gempuran zaman.

Saatnya merawat, bukan lagi menghujat. Saatnya berbagi bukan lagi hanya ingin unjuk gigi. Saatnya ber-empati bukan lagi mencari upeti.

Indonesia, adalah kaya dengan bangunan mental dan sumber daya alam. Namun, ini semua takkan bisa bertahan jika pembangunan mental bangsa selalu saja terhambat oleh budaya dan mental takut miskin bukan takut menjadi bodoh. Kita diserang atas paradigma berfikir yang hedonis dan tidak realistik. Bayangkan, jika semua orang berfikir bahwa kepentingan pribadi dan sanak saudara adalah hal yang utama, bagaimana kepedulian atas nama kemanusiaan mampu menjadi hal yang perlu di junjung tinggi. Akankah, imperalisme dan kolonialisme model baru masuk kedalam sanubari rakyat Indonesia dengan cara yang sangat halus ini, dan kita tak disadari?

Inilah saatnya, kita bersatu menyongsong kehidupan yang lebih baik dimasa mendatang, menjadi pribadi yang jujur dan disiplin dan teguh pada pendirian. Hilangkan sifat keangkuhan dan berfokus pada hal penting. Bangsa yang besar, harus punya mimpi besar. Pribadi yang besar, harus punya mimpi besar dan tentu berhati lapang. Karena Indonesia terlalu besar untuk mempermasalahkan hal yang tidak penting dan tidak pada porsinya untuk didebatkan, diperebutkan dan di sengketa-kan.
Hidup, terlalu singkat untuk menghujat, bermuka masam dan adu kekuatan. Mari adu gagasan, adu pemikiran dan adu kreativitas.

“Karena hidup bukanlah diam, hidup adalah bergerak!” – Tan Malaka

Diri yang masih belajar, dan haus akan ilmu.
23 Januari 2018
16.17

I need You

Every things what I thought about You, were still in my mind.

I can’t expected any wishes beside You.

my own way, is ready to begun, follows Your instruction.

I am so grateful,

gratitude

and for goodness shake, thank you.

I don’t know anymore about care, I just knew You are the real one to care about me, about us.

still in my head, moreover You’re the real love, the real purposes, You’re the one.

I need you to guided me for passing trough the darkness of this world. I need You to found and find the true love.

I need You to know, that’s I need You,

more than any thing.

Diri yang hilang

Kenyataan, bahwa diri adalah hal yang paling di pedulikan dalam setiap pemikiran manusia secara individu. Bukannya egois atau individualistik, tapi nyatanya setiap manusia memang harus memikirkan dirinya sendiri terlebih dahulu.

Tapi, apa yang terjadi jika ada seseorang yang selalu sibuk memikirkan orang lain? melihat orang lain adalah dirinya, sehingga ia lupa dan termanifest dalam diri orang lain?

Kita pada dasarnya, cenderung melihat orang akan dirinya pada konteks ke-kita-an. Sehingga semua orang harus menjadi diri yang kita mau. Setiap diri yang kehilangan dirinya akan seperti ini. Ia, akan sibuk memikirkan orang lain dan akhirnya berujung pada arogansi, egois dan fanatisme.

Tahukah kamu, para filsuf sebagian besar berpendapat bahwa diri manusia sejatinya memiliki titik yang disebut jati diri. Sejatinya, diri kita mempunyai identitas yang disebut juga originalitas karena tuhan menciptakan manusia dalam bingkai keseriusan, keunikan dan tentu anugerah yang tiada tara.

Jati diri yang hilang, akan selalu bercermin diluar diri. Begitu juga sebaliknya, jati diri yang ditemukan akan selalu bercermin pada diri sendiri, sehingga bisa berfokus pada kemajuan dan konsistensi diri untuk mengenal dirinya sendiri.

Beruntunglah, orang yang dapat menemukan dirinya dan akhirnya menjadi diri sendiri dan terus melakukan yang terbaik untuk masa depannya. Bahagialah dalam kehidupan, dan terus menjadi pribadi diri yang menemukan.

Terus Berjalan dan Melangkah

Pada prinsipnya hidup itu adalah berjalan, bukan diam. Einstein bilang

“Hidup ini seperti naik sepeda, kau harus terus mengayuh agar tidak terjatuh”.

Terdengar mudah, namun sangat menyakitkan dan menguras tenaga, bahkan harus mengalahkan nafsu dan pergi dari “zona nyaman”. Secepatnya, buatlah sebuah keputusan meski itu berat untuk terus berjalan, atau lebih memilih untuk diam ditempat dan terpenjara dengan keadaan. Semua harus ada pada posisinya, tidak bisa berada di tengah-tengah. Diam, atau bergerak. Tidak bisa diantara diam dan bergerak.

Tak ada catatan.

Kenyataannya, hidup harus terus berlanjut sampai kapanpun sebisanya. Hal yang paling di ingat adalah menjadi diri sendiri di masa mendatang karena keseringan lupa dan selalu merasa ingin menjadi orang lain. Bukan merasa exhausted ketika bingung bagaimana melanjutkan hidup. Tapi memang, seseorang perlu merenung sesekali dalam melanjutkan hidupnya.

Pencapaian, selalu saja meng-komparasi dengan orang lain, hingga akhirnya  tidak berfokus pada diri sendiri. Sebuah ilusi, hingga akhirnya yang terus meredam semangat dan passion positif sebuah energi kehidupan.

Kali ini, tidak ada catatan. Yang ada, hanyalah meneriakkan dan meng-encourage kepercayaan pada diri sendiri untuk menjadi diri sendiri. Hidup kadang menyakitkan, tapi mati lebih menyakitkan tanpa berusaha untuk hidup.

if you don’t have something you’ve never had, you have to do something you’ve never done.

Juli 2018, tentang kedewasaan, berani menghadapi dunia dan moving forward. Semesta, akan mendukungmu.