Diri yang hilang

Kenyataan, bahwa diri adalah hal yang paling di pedulikan dalam setiap pemikiran manusia secara individu. Bukannya egois atau individualistik, tapi nyatanya setiap manusia memang harus memikirkan dirinya sendiri terlebih dahulu.

Tapi, apa yang terjadi jika ada seseorang yang selalu sibuk memikirkan orang lain? melihat orang lain adalah dirinya, sehingga ia lupa dan termanifest dalam diri orang lain?

Kita pada dasarnya, cenderung melihat orang akan dirinya pada konteks ke-kita-an. Sehingga semua orang harus menjadi diri yang kita mau. Setiap diri yang kehilangan dirinya akan seperti ini. Ia, akan sibuk memikirkan orang lain dan akhirnya berujung pada arogansi, egois dan fanatisme.

Tahukah kamu, para filsuf sebagian besar berpendapat bahwa diri manusia sejatinya memiliki titik yang disebut jati diri. Sejatinya, diri kita mempunyai identitas yang disebut juga originalitas karena tuhan menciptakan manusia dalam bingkai keseriusan, keunikan dan tentu anugerah yang tiada tara.

Jati diri yang hilang, akan selalu bercermin diluar diri. Begitu juga sebaliknya, jati diri yang ditemukan akan selalu bercermin pada diri sendiri, sehingga bisa berfokus pada kemajuan dan konsistensi diri untuk mengenal dirinya sendiri.

Beruntunglah, orang yang dapat menemukan dirinya dan akhirnya menjadi diri sendiri dan terus melakukan yang terbaik untuk masa depannya. Bahagialah dalam kehidupan, dan terus menjadi pribadi diri yang menemukan.

Advertisements

Terus Berjalan dan Melangkah

Pada prinsipnya hidup itu adalah berjalan, bukan diam. Einstein bilang

“Hidup ini seperti naik sepeda, kau harus terus mengayuh agar tidak terjatuh”.

Terdengar mudah, namun sangat menyakitkan dan menguras tenaga, bahkan harus mengalahkan nafsu dan pergi dari “zona nyaman”. Secepatnya, buatlah sebuah keputusan meski itu berat untuk terus berjalan, atau lebih memilih untuk diam ditempat dan terpenjara dengan keadaan. Semua harus ada pada posisinya, tidak bisa berada di tengah-tengah. Diam, atau bergerak. Tidak bisa diantara diam dan bergerak.

Tak ada catatan.

Kenyataannya, hidup harus terus berlanjut sampai kapanpun sebisanya. Hal yang paling di ingat adalah menjadi diri sendiri di masa mendatang karena keseringan lupa dan selalu merasa ingin menjadi orang lain. Bukan merasa exhausted ketika bingung bagaimana melanjutkan hidup. Tapi memang, seseorang perlu merenung sesekali dalam melanjutkan hidupnya.

Pencapaian, selalu saja meng-komparasi dengan orang lain, hingga akhirnya  tidak berfokus pada diri sendiri. Sebuah ilusi, hingga akhirnya yang terus meredam semangat dan passion positif sebuah energi kehidupan.

Kali ini, tidak ada catatan. Yang ada, hanyalah meneriakkan dan meng-encourage kepercayaan pada diri sendiri untuk menjadi diri sendiri. Hidup kadang menyakitkan, tapi mati lebih menyakitkan tanpa berusaha untuk hidup.

if you don’t have something you’ve never had, you have to do something you’ve never done.

Juli 2018, tentang kedewasaan, berani menghadapi dunia dan moving forward. Semesta, akan mendukungmu.

Menyukai-Nya

Ketika kita menyukai Tuhan dan merasa penasaran dengannya, pastinya kita akan mencari tahu lebih dalam tentangnya, menceritakannya dalam setiap waktu, bahkan memikirkannya setiap saat. Rasa suka terhadap Tuhan harus kita tanamkan terus dalam keseharian kita disetiap detik. Ia, Allah adalah pihak yang paling layak untuk dicintai, dimaknai dan dipikirkan setiap saat.

Adakah hal lain yang paling indah selain ini?

Rasaku, Winter 2018

Bagaimana aku tenang,
ketika hatiku tidak disini.
Bagaimana aku bisa,
ketika kekuatanku tidak disini.
Bagaimana aku hidup,
ketika nyawaku tidak disini.

Kulari, kuterjatuh, kubangkit dan kumelangkah
rasa itu selalu saja ada disisiku, disampingku, didepan dan dibelakangku, dihati juga pikiranku.
inginkah kamu, membenarkan letak kemejaku
inginkah kamu, membenarkan letak peci dan sarungku disetiap waktu sholat
inginkah kamu, satu saf dibelakangku disetiap sujudku
inginkah kamu, membuatku tersenyum dikala ku menangis
inginkah kamu, menjadi teman dunia dan akhiratku
ternyata hati, kekuatan dan nyawaku,
ada di cintamu.

aku jatuh, sejatuh jatuhnya.
Ternyata, cintaku, (bukan) aku yang jatuhkan,
Dia,
pengendali rasa yang telah menjatuhkannya padamu.
Dan kamu, ada dalam rasa itu. Doa kita, telah bertemu dilangit.
Rasaku, akan selalu di rasa.

Beijing, 22 Maret 2018
21.40

Kebersyukuran

Perbedaan Persepsi

Salah satu hal terpenting dalam mencapai kesuksesan dalam hidup adalah rasa ketenangan dan kecukupan. Semua sepakat, bukan? ya. Yang menjadi pertanyaan sejauh mana kita mendapatkan definisi ketenangan dan kecukupan dalam hidup, yang pastinya setiap diri kita memiliki pandangan dan ukuran yang berbeda. Banyak, disekitaran kita manusia yang tidak merasa cukup karena pandangannya selalu ditutupi oleh kemauan yang berlebih bahkan cenderung tidak terkontrol. Misalnya, kebutuhan-kebutuhan hidup yang sebenarnya tidak diperlukan namun selalu dicari-cari, padahal sudah lebih dari cukup. Misal, ketika kita sudah punya pakaian bagus, namun merasa bosan sehingga perlu lagi membeli yang baru. Apalagi, “serangan” media elektronik yang memudahkan dan memanjakan mata kita untuk selalu berfikir konsumtif dan mendekati kata mubazir!

Alquran Suci memaktub 

Dalam Alquran, jelas bahwa Allah berfirman “siapa yang bersyukur nikmatnya akan ditambahkan” namun sebaliknya “barang siapa yang bersyukur sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. Perbandingan antara orang yang mensyukuri nikmat dengan yang tidak (kufur) disini, sangatlah berbeda sekali. Seperti hitam dan putih, tidak ada gray area. Sehingga, kitapun menempatkan dan ditempatkan hanya pada 2 posisi tersebut. Bersyukurkah, atau tidakkah.

Kata Mereka yang “gerah”

Yang tadi, pastinya adalah contoh-contoh dari fenoman konsumtif kita yang semakin meresahkan warga dunia. Padahal salah satu alasan kenapa Che Guevara sangat membenci kemewahan karena gaya hidup satu orang akan mempengaruhi orang lain. Begitu juga keresahan yang terjadi sekarang di Korea Selatan, PSY saja mengkritik daerah gang nam yang cenderung berkehidupan mewah tanpa memandang kondisi rakyat yang tidak mampu. Jangankan mereka, kita saja sudah gerah dan merasa di hati kecil, ketika bermewahan pastinya ini jauh dari kata “sederhana” di mata kita.

Bersyukur itu, Indah dan mudah

Apalagi yang mesti kita cari, okay kita sudah punya uang banyak atau pekerjaan yang baik, apa perlu semua hal yang menjadi kemauan kita harus kita turuti? padahal sederhana itu cukup. Ya, pada intinya bersyukur. Memaksimalkan dan menggunakan yang ada, lalu dimanfaatkan sebaik mungkin. Masih bisa terus? ya, kita usahakan untuk selalu menggunakan apapun fasilitas yang Allah berikan, dengan penuh kesungguhan menggunakannya dengan baik. Karena ketidakbersyukuran dan tidak itu, terletak perbedaannya sangatlah tipis. Ini, tentang kemauan dan gengsi-an. Gunakan sesuatu untuk yang lebih bermanfaat bagi semua orang itu lebih baik bukan, bahkan untuk kita sendiri dimasa depan.

Kata Tung Desem Waringin : “Orang Indonesia, gaji 1  juta perbulan saja sudah bermewah-mewah…, mindset orang kaya adalah, mengeluarkan sesedikit mungkin, dan menghasilkan sebanyak mungkin”

1 Januari 2018

Bismillah, 2018. Sungguh ini sebuah perhelatan dahsyat tentang diri yang sudah lama nyaman dan bahkan punya kebiasaan yang mengerak. Aku harus mencoba untuk menjadi orang yang baru, dan mencoba menjadi orang yang tak lagi banyak bicara, tapi banyak berbuat.

Please, berdamailah dengan diri sendiri,

bentuklah sebuah kebudayaan belajar yang baru, dan janganlah merasa terus nyaman dengan keadaan, because time is running out!