Ramadan 1441 H dan Pandemi

Ramadan, bagaikan tempat bersih untuk orang bersih. Orang harus bersih, untuk bisa masuk ke tempat tersebut.

Namun sayang, ramadan bagi sebagian orang adalah suatu momentum biasa untuk menahan haus dan lapar. Mungkin itu saya.

Padahal, keutamaannya melebihi 11 bulan lainnya. Kata Rasul “Ramadan adalah bulan untuk umatku”.

Aku ingin, ramadan tahun ini memiliki kesan dan semangat revolusioner bagi kita umat islam se-dunia.

Aku ingin, ramadan tahun ini menjadi ramadan terbaik yang pernah kita alami selama hidup kita.

Aku ingin, ramadan tahun ini merupakan titik awal bangkitnya seorang anak manusia untuk terus bersujud kepada Tuhannya dalam setiap momentum detik kehidupan.

Aku ingin, ramadan tahun ini adalah tulisan sejarah dalam perjalanan perjuangan.

Walau dalam kondisi pandemi global ini, ramadan ini adalah ramadan terbaik dan kebersyukuran yang tiada henti. Teruslah lebih baik, dan lebih baik lagi ramadan-ku.

Sampai jumpa ramadan tahun depan, semoga pandemi ini tak bertemu lagi dengan ramadan 1442 H.

Separuh Jiwaku

aku tak lagi berarti

aku tak lagi memikirkan diri

aku tak mau lagi merasa ingin sendiri

aku ingin selalu bersama

separuh jiwa aku

aku ingin mempersembahkan hidupku,

bukan untuk diriku.

aku ingin bersama separuh jiwa, aku…

bertemu penggenggam jiwa dalam senyum…

separuh aku, aku adalah kamu, aku melihat kamu adalah aku.

to NNSQ

Ku Ingin Selalu Belajar

Setiap kali ku bangun pagi,

selalu ku merasa bahwa diri ini merupakan manusia yang tak berguna.

Setiap kali ku bangun pagi,

selalu ku merasa bahwa diri ini tak mampu menyamakan ritme gerakmu.

Tapi, aku percaya bahwa takdir meminta kita

untuk saling mengerti..

untuk saling menopang..

untuk saling berbagi..

ku tak mencari kesempurnaan

ku tak mencari kelamahan

aku, kamu, kita..

mencari keberagaman dalam harmoni

mencari pengertian dalam setiap pemikiran

ku ingin terus bersamamu,

belajar memahami,

bahwa saling belajar itu adalah cinta.

Jalan Raya, Jalan Sama-sama

Hampir setiap hari, rutin kita melakukan aktifitas menggunakan kendaraan seperti sepeda motor, mobil atau bahkan sepeda serta kendaraan umum melintasi ruang dan waktu di jalan raya. Jalanan, merupakan tempat orang-orang untuk berkelana, bukan menetap apalagi berdiam di jalanan. Artinya, jalanan (tempat) tersebut hanya untuk lewat. Indonesia, merupakan salah satu negeri dengan sejuta kekayaan dan keberagaman juga sejuta masalah yang kompleks disetiap aspek kehidupannya.

Saya meyakini bahwa setiap orang itu baik. Namun berbeda ketika dijalan. Deal?. Semua orang (secara subjektif) terlihat melewati jalanan hanya untuk “menyelamatkan diri sendiri”. Tentang bagaimana memikirkan diri sendiri. Bukti? Ayo kita bahas satu persatu, yang mungkin juga ini kritik buat saya yang pernah seperti ini juga.

  1. “senggol bacok”. Iya, setiap kendaraan yang kita kendarai, dengan sangat arogan dan kesombongan kita memarahi orang tersebut.
  2. Setiap ada angkot yang berhenti mendadak atau menepi di tepian jalan, kita marah dan menunjukkan muka masam bahkan klakson dan mengeluarkan kata-kata kasar kepada angkot tersebut.
  3. “dulu-duluan”. Terkadang juga, ketika kita sedang mengendarai sepeda motor misalnya, dan macet pula. Kita bisa saling menyerobot.
  4. Selalu saja kita tak mau memberikan jalan lebih dulu kepada orang yang ingin menyeberang atau kendaraan lain yang ingin menyeberang di persimpangan jalan.

Padahal? Pertama, Bisa jadi para pengendara yang tadi kita senggol kendaraannya sedang mengalami masa sulit dalam hidupnya sehingga dia merasa emosi, apalagi kita “timpalin” emosi dia kembali. Atau, disisi “penyenggol”nya, ketidaksengajaan pengendara atas yang terjadi dijalan. Padahal semua bisa santuy. Ya, kan?

Kedua, angkot. Disisi angkot, memang serba salah ya. Mereka harus berhenti di tepian jalan untuk menunggu dan mencari penumpang. Mereka berhenti mendadak? Ya mau bagaimana lagi. Tidak ada halte angkot atau penumpang yang memang akan turun/naik, sehingga supir angkot harus segera menepi dan berhenti. Dan, merekapun memang harus mencari nafkah dengan cara seperti itu sebagai supir. Tapi nyatanya, kita selalu sinis dan klakson-kan mereka secara mem-babi buta. Bahkan, memaki mereka penuh kekejaman. Ini sungguh miris.

Ketiga, mau kemana sih kita saling dulu duluan. Dari sisi orang-orang yang ngebut dijalan. Bisa jadi, mereka memang punya deadline atau sudah mau terlambat masuk kerja, bahkan ingin hanya sekedar buang air kecil. Disisi lain juga, kita yang santai dalam berkendara, memang ingin santai berkendara untuk hanya sekedar menikmati perjalanan.  

Keempat, persimpangan jalan memang tempat jalanan yang paling saya tidak sukai. Kesemrautan, keadaan tak menentu dalam melintas apalagi kalau tidak ada lampu merah. Miris, memang masih ada intersection dikota besar (metropolitan) ada yang belum tersedia lampu merahnya, bahkan petugas yang hanya memantau tanpa mengatur. Ini harus kita tanggulangi. Caranya? Ya biarkan saling lewat satu sama lain dan saling bercerita sesama pengendara jalan.

Kenapa sih, kita selalu suudzon (prasangka buru), emosian dan bahkan tidak ber-perikemanusiaan. Padahal, jalan ini punya kita bersama. Saya rasa, kita semua ingin jalanan raya kita lebih baik, baik didesa maupun di perkotaan. Namun, sebelum kita menunggu itu semua (perubahan) dari pemerintah terutama dan tentu dari pihak lain, saatnya kita memulai membuat nyaman dan berkesan atas perjalanan kita di jalanan. Ini semua, bisa tertib aman dan damai dengan kerjasama dari semua pengendara. Saya mau, kita “merangkul” dalam melintasi jalanan, karena “orang tersayang menunggu dirumah” #azzzeeekkk. Bahkan, jalanan ini tidak boleh ada yang meng-klaim sedikitpun. Karena jalanan adalah tempat kita hanya lewat. Begitu juga dunia ini 🙂

Dari seorang penulis yang masih belum rutin dan baik dalam menulis. Mendambakan jalanan kota yang nyaman, aman dan penuh rasa kemanusiaan.

2020

Kebersyukuran, adalah satu kata terbaik yang menggambarkan pemikiran di awal tahun 2020 ini (semoga setiap saat).

Sang Maha, telah memberikan berbagai macam kebahagiaan bagi seorang pengeluh dan cengeng seperti saya.

Saya ingin tegaskan, bahwa tidak ada kepentingan apapun dalam hidup ini, selain kepentingan Sang Maha.

Rasa mengeluh dan bosan dalam kehidupan, adalah bentuk ketidakbersyukuran dan ketidaktahuan serta ketidak fokus-an saya (seseorang) dalam hubungan dengan Sang Maha.

Surat Untuk Diriku Usia 17 Tahun

Pada hari ini, usiaku telah menginjakkan kaki di 27 tahun. Tak terasa sudah 10 tahun aku memegang KTP dan dikategorikan melek hukum dan telah dewasa menurut hukum negara, memegang status “baligh” dalam fase kedewasaan manusia menurut agama Islam. Aku merasa semua yang aku dapatkan hari ini adalah bagaimana aku menghabiskan waktu-waktuku di usiaku yang lalu. Tak juga lagi ingin menjadi menyesal atas apa yang belum kudapatkan hari ini, tapi intinya aku bersyukur.

Aku bersyukur bahwa saat itu aku (17 tahun) sangat senang sekali bertemu dengan banyak orang dan orang baru untuk membuat pertemanan. Memiliki aktivitas segudang (selain belajar dikelas) untuk bersama melakukan hal-hal yang menyenangkan sekaligus belajar. Aku ingin kamu (aku 17 tahun) tak banyak berbicara dan perbanyaklah belajar dengan sejuta wawasan yang tersebar di semesta. Hari ini, aku menikmati pengetahuanmu atas semua hal baik yang kamu lakukan dimasa lalu.

Aku berterima kasih padamu (aku 17 tahun). Waktu itu, kamu tak ikut-ikutan masuk sekolah yang banyak sekali teman yang sudah kamu kenal. Kamu juga pergi ke sekolah dengan bersepada, meski yang lain naik motor bahkan mobil . Aku juga berterima kasih, pada saat itu kamu lebih senang menghabiskan waktu di organisasi dan ekstrakulikuler yang kamu ikuti 5 sekaligus (osis, rohis, paskibra, tim olimpiade dan KPMD). Kamu banyak juga menghabiskan waktu dirumah dan diskusi bersama ayah dan ibu yang alhamdulillah, sangat tegas terhadap urusan agama dan kedisiplinan sehingga rumah adalah tempat utama bagimu untuk belajar, aku sangat berterima kasih akan hal ini.

Selain itu juga, aku berterima kasih pada saat itu kamu sangat sering membaca buku politik dan sejarah hingga akhirnya aku (27 tahun) sangat senang membicarakan social politics sebagai tamasya pemikiran saja dan bukan hal-hal yang diseriuskan. Aku juga berterima kasih, pada saat itu kamu tak ikut-ikutan nongkrong ga jelas ketika kamu ada kesempatan. Begitu juga, keaktifan mu sebagai seorang remaja masjid dirumah.

Tapi, selain rasa terimakasih ku padamu. Aku juga menyesal padamu kenapa pada saat itu kamu tidak banyak menghabiskan waktu untuk lebih banyak lagi menghabiskan buku-buku yang sudah kamu beli dan buku orang tua mu dirumah. Kenapa pada saat itu, kamu lebih memilih menonton televisi secara random ketimbang berdiskusi dengan ayah atau kamu lebih senang main friendster ketimbang mengakses internet untuk melihat-lihat kampus-kampus terbaik Indonesia bahkan dunia serta mencari cara bagaimana cara masuk kekampus tersebut sebagai mahasiswa s1, s2 atau bahkan doktor. Kenapa juga, pada saat itu kamu tak banyak menulis dan berbicara bahasa inggris untuk meningkatkan skill bahasa inggrismu. Sangat disayangkan juga, kenapa pada saat itu, kamu tidak mengurangi waktu tidurmu dan menghabiskannya untuk mengerjakan latihan soal matematika dan kimia, sebagai pelajaran yang menurutku cukup sulit pada saat itu. Apalagi, untuk bangun disepertiga malam melakukan tahajud. fyuuuh…

Banyak sekali rasanya penyesalan ini. Begitu juga, aku menyesal kenapa aku masih mengeluh (ketika aku 17 tahun) kepada orang tua yang memberikan uang jajan pas-pas-an. Padahal, itu semua lebih dari cukup dan kadang berlebih (karena dirumah sudah sarapan)-memang sengaja orang tua kami tak memberikan jajan berlebih (walaupun bisa), untuk anaknya diajarkan bagaimana hidup dengan kecukupan (tidak berlebih) dan hemat. Kenapa juga, kamu terlalu banyak mengemban amanah organisasi ketimbang latihan soal untuk ujian akhir semester-an. Terkadang, aku juga heran, kenapa dirimu sangat tidak fokus dan memiliki terlalu banyak keinginan dan ambisi.

Pada intinya, aku berterima kasih atas semua yang kamu lakukan. Wahai, diriku 17 tahun. Aku ingin kamu bahagia dan tak lagi menyesal sekarang. Karena kamu yang 27 tahun ini, sudah sadar akan

perubahan untuk kebaikan itu dimulai harus dari diri sendiri, sekarang, sederhana dan melangkah demi langkah secara konsisten sampai mati.

Aku yang sekarang, sudah memaafkanmu atas masa lalu itu dan mencoba bangkit dari pekerjaan ‘memikirkan’ menuju pekerjaan ‘mewujudkan’. Sama-sama kata kerja, tapi sangat berbeda. Aku, hari ini akan berusaha yang terbaik untuk diri kita, 10 atau 50 tahunan di-masa depan, mungkin (insya Allah). Ayo saatnya dan detik inilah, saatnya kita mewujudkan cita-cita kita. Cita-cita besar diri, keluarga, dan kemerdekaan Indonesia serta agama. Hal terpentingnya di 27 tahun ini. Kita, (aku yang 17 dan 27 tahun ini) sudah memiliki manusia lain yang kita ingin wujudkan cita-citanya juga secara bersama-sama, ia adalah Nelisku dan calon anakku.

For all kindness, thanks to Allah.

Nelis Anhari

Ketika ku bertemu denganmu…

Hatiku selalu saja tidak tenang. Aku terus lirikkan mata ke jam tangan, takut waktu menunjukkan malam dan bergantinya matahari terhadap bulan. Disaat kita buka diskusi itu, aku selalu saja merasa terpukau atas kepribadianmu. Sesekali kulihat wajahmu yang tulus menerimaku sebagai teman bicara. Tak sebentar, ku merasa bahwa rasa syukur ini harus dibalas dengan resolusi diri yang makin konstruktif dan maju. Meninggalkan diri yang ilusi dan tak lagi maju. Dahsyatnya energi pertemuan, membuatku tak lama berfikir untuk merapihkan memori baik ini dalam pikiran ku agar tak hilang selamanya. Begitu juga perasaan dan sinkronisasi rasa dengan logika, bahwa perdamaianlah yang membuat kita saling mendoa dan lega.

Aku titipkan sebuah amanah yang bernama semangat dan taubat, untuk aku jalankan begitu juga dirimu.

Allah sang maha menakdirkan sesuatu, menjadikan kita mengalir seperti air, namun tak pergi ketempat rendah. Akhirnya, pertemuan singkat yang berujung pada perhelatan hati dan emosi yang begitu menggugah rasa. Namun, itu semua tak menjadi dilema, ketika Allah-lah sandarannya. Bersyukur atas nikmat Allah atas cinta-Nya pada hamba-hamba yang selalu bersama-Nya dalam mengingat cinta-Nya disetiap sudut pandang mata dan hati. Ikhlas dan ridho atas segala suratan, jadilah terus pribadi yang kukagumi sampai kapanpun. Yang jika orang bertemu, orang itu akan mengingat Allah. Alhamdulillah atas pertemuan kemarin, bismillah atas perjalananmu hari ini dan esok.

Untuk seseorang,

Nelis yang kupanggil namanya.

31 Agustus 2017

#repost