Memulai

Hari ini, aku sempurnakan agamaku dan agamamu

kita, adalah kesempurnaan itu

Diciptakannya manusia berpasang-pasangan untuk saling berpegangan

Sempurna, adalah bentuk kelengkapan yang kolektif

Tak memiliki kekurangan, namun memaklumi yang dirasa kurang

Rasa yang terbangun dalam balutan cinta kasih

terpatri dalam untaian indah kata-kata kehidupan dan senyum yang selalu mewarnai hari-hari

aku, kamu yaitu kita…

akan memulai sesuatu yang baru

sesuatu yang tak pernah terbayangkan sebelumnya

menelusuri takdir dalam usaha dan doa

dalam kesesuaian makna dan cita-cita

aku bersamamu sempurna, bersamamu aku akan memulai

sebuah cerita indah bernama kita yg telah menjadi satu

aku adalah kamu, kamu adalah aku

Puncak, 24 Agustus 2019

Advertisements

Pertemanan Kita

Untuk teman-temanku yang sudah lama tak bertemu…

Ingatkah, ketika dulu pertama kalinya kita berkenalan? awkward moment yang terjadi begitu saja dan tak jarang kita canggung dalam kali pertama berkenalan? Ingatkah, ketika itu aku dan kamu merasa saling ingin tahu dan tak memiliki tujuan apapun dalam perkenalan selain hanya “kenalan”? Ingatkah juga, ketika untuk pertama kalinya saling menyapa diantara kita ternyata sudah tertuliskan dalam takdir dan sejarah hidup yang sudah dituliskan malaikat dalam 4 bulan masa kandungan seseorang (kita) dalam rahim ibu kita masing-masing. Ini semua suatu hal yang tidak biasa (kebetulan). Kita, tidak pernah memilih untuk dilahirkan di rahim ibu siapa, beragama apa, dimana dan kapan, inilah takdir terbaik.

Tak terbesit, bisa berkenalan denganmu. Kita berbeda hidup dan kehidupan dan tanggal lahir. Beda tempat lahir, detik dan jam-nya, tentu berbeda orang tua dan takdir. Namun, ternyata di usia kita yang menjelang dewasa dan mampu keluar dari rumah dan tak lagi belajar berbicara kepada ibu kita, kita dipertemukan dalam suatu momen yang disebut pertemanan ini. Aku ingin menyampaikan beberapa hal wahai teman. Terkait pertemanan kita yang juga ternyata sudah Tuhan tetapkan sebagai garis hidup. Sebagai contoh, “tidak mungkin aku bertemu denganmu, kalau aku tidak masuk sekolah/kampus ini” misalnya. Atau “tak mungkin juga aku bertemu denganmu, jika aku dan kamu tidak aktif dalam satu komunitas atau organisasi.

Aku ingin sampaikan ini…

Yakinlah, bahwa pertemanan singkat tersebut meninggalkan banyak sekali kenangan dan kerinduan yang telah terukir dalam sejarah hidup kita masing-masing. Yang nanti, akan dipertontonkan kembali di akhirat bersama para hakim dan maha hakim, apakah memiliki nilai manfaat atau sebaliknya.

Yakinlah juga, bahwa setiap pertemanan ini, memiliki esensi tersendiri sesuai dengan hadis nabi “dirimu adalah temanmu” maka setiap pertemanan juga adalah cerminan bagi lingkungan pertemanan. Namun, bukan berarti aku memilah dan memilih teman. Karena memang tidak ada istilah “mantan teman”. Tapi aku ingin pertemanan ini sampai pada titik pertemuan abadi.

Yakinlah juga, bahwa aku bersyukur bisa bertemu denganmu di dunia yang sebentar ini. Aku ingin kita saling mendoakan, walau kita tak saling menyapa, walau kita hanya saling memantau di IG story/post, di cuitan twitter atau hanya sekedar melihatmu di koleksi foto facebook. Aku hanya ingin bilang, bukan berarti aku tidak menghubungimu via teknologi informasi yang canggih ini, aku tak ingat dan tak peduli terhadapmu. Aku sungguh, sayang kepadamu.

Aku dan kamu…

aku tahu bahwa kita saling sibuk “mengurusi” masa depan masing-masing. Aku ingin juga pengertian ini sampai pada tahapan, kita saling mengingatkan bahwa “bekal” kita sudahkah cukup untuk kita bawa pulang?. Aku, hanya ingin kamu, keluargamu dan orang-orang terdekatmu bisa memastikan hal itu, tentu juga aku. Dengan waktu kita yang terbatas ini, dengan segala khilafku dan diriku yang masih belajar. Aku ingin berpendapat; bahwa pertemuan bukanlah sebuah jawaban dan tegur sapa di social media bukanlah suatu ukuran kualitas pertemanan. Tapi doa dan support “sebisamu”-lah yang menentukan kualitas pertemanan kita. Tentu, jika kita bisa saling bertemu disaat yang tepat dan senggang, pastilah akan bertemu karena silaturahim juga penting, silaturahim yang bukan basa-basi tentunya.

“Jika ada namaku dalam doamu wahai temanku, aku bersyukur bahwa pertemanan kita adalah pertemanan yang sejati…”

terima kasih,

telah menjadi temanku.

source image: https://www.tes.com

Tidak, untuk melawan bangsa sendiri!

Kata rumi “Seorang yang tak merasakan wanginya iman dan islam, ia tak bisa disebut sebagai seorang muslim”. Wangi disini berarti sebuah ketenangan dan kesejukan yang mendalam dalam penciuman “ruhani”. Pertanyaannya, apakah wewangian berasal dari kekerasan, anti perdamaian, radikalisme dan fanatisme? Kita sama-sama tahu, bahwa Islam adalah rahmat bagi seluruh alam, dan ini tidak bisa termanifestasi dengan konsep kekerasan.

Ada yang mengatakan bahwa nahi munkar itu adalah melakukan pelarangan. Padahal, jikalau kita merujuk pada Quran, amar maruf nahi munkar adalah satu kesatuan. Ketika kita sudah melakukan amar maruf, pada saat detik itu juga, sekaligus kita sedang melakukan nahi munkar. Karena prinsipnya, munkar tidak akan ada ketika ada maruf, dan munkar akan muncul ketika tidak ada maruf. Seperti analogi, kegelapan karena esensinya kegelapan tidak ada, yang ada hanyalah kehilangan atau ketiadaan cahaya. Saya, tidak akan mendukung konsep agama yang semacam ini (kekerasan). Islam, adalah satu kesatuan yang didalamnya adalah kebaikan dalam menyebarkan dan melakukan konsep apapun. Islam, adalah cinta, kata rumi.

Beberapa fenomena terakhir yang melanda negeri kita akhir-akhir ini, kita diuji lagi, keberlangsungan kehidupan berbangsa, kemerdekaan dan kekuatan cita-cita pancasila. Ini semua, memberikan kita sebuah pelajaran. Ya, pelajaran!. Apalagi, mayoritas umat beragama adalah umat muslim, bahwa persatuan dan kesatuan itu sangat mahal dan prioritas utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Merawat, memang hal yang cukup sulit. Ini, juga menjaga konsistensi cita-cita bangsa dalam menjaga stabilitas negara yang diharapkan dapat terjaga ribuan tahun lagi untuk keberlangsungan anak-cucu. Fanatisme, atau ashabiyah adalah musuh nyata bagi umat, bagi pemeluk agama manapun kata buya syafii maarif. Maka, sikap dewasa, memaklumi dan saling mengerti dalam perbedaan adalah hal yang wajib kita jaga. Kedewasaan dalam berpolitik misalnya, harus juga kita tanamkan dalam diri umat muslim dalam menjaga negara kita yang menganut sistem demokrasi.

Agama, tidak boleh lagi menjadi momok dalam mengancam stabilitas kehidupan berbangsa. Negara kita yang sangat mengedepankan dan mementingkan agama sebagai hal yang penting (spectator Index) harusnya membuat agama menjadi “pengatur” yang membuat kita hidup baik dan teratur. Untuk itu, pemeluk agama-nya lah yang harus membenah diri dan belajar dengan komprehensif dan terbuka atas berbagai sumber informasi, tentu juga wajib memvalidasi sumber-sumber informasi ditengah gempuran teknologi informasi yang begitu pesat berbasis website. Mulailah kita belajar dengan sungguh-sungguh atas apa yang kita ikuti, yang kita yakini. Jangan-jangan, saat kita men-judge orang lain bahwa mereka tak lebih baik dari kita, justru kita-lah yang tidak mengerti apa-apa soal agama. Tabayun, silaturahim dan senyum adalah cara-cara agama untuk berkehidupan. Sehingga, tak ada lagi ke’retak’an terjadi dalam sosial masyarakat kita. Jangan, kita mau di-adu-domba oleh pihak neo-imperalis, neo-kapitalis dan penjajahan model baru, dan politik adu domba. Terlalu mahal, persatuan dan keberagaman kita, digadaikan dengan kontestasi pilpres yang hanya 5 tahunan, pileg dsb. Padahal, proses perubahan bangsa atau negara, juga akan massive ketika bangsa dari pribadi keluarga dan satu negara mau bergotong royong untuk bekerja keras membangun peradaban yang maju. Membangun negeri, yang sudah diwariskan oleh para pendahulu kita, adalah kerja berat yang harus diemban oleh semua anak bangsa. Sudah saatnya, kita terus menjaga persaudaraan, didalam rumah kita sendiri. Katakan “tidak, pada menghancurkan rumah sendiri, membenci saudara sendiri, membenci bangsa sendiri!” “tidak, untuk melawan bangsa sendiri!”

“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri. – Ir. Soekarno

Terlalu banyak

Suatu ketika aku melihat ada seorang anak kecil bersama bapaknya yang sedang mencari sampah yang bisa diolah dipinggiran jalan. Bermodalkan tongkat besi yang dibengkokkan sedikit di ujungnya si bapak mengorek-ngorek tempat sampah dan mengambil apapun yang berguna yang berserak dijalan. Lalu si anak kecil yang memakai topi yang berjalan dengan riang kesana kemari bersama sang bapak, membantu mencari barang-barang yang bisa didaur ulang. Seketika, dari kejauhan, si anak kecil itu datang menghampiriku yang sedang duduk di tempat duduk bengkel dan menanyakan “bang, apa ini udah nggak kepake? (sambil memegang beberapa botol air dan gelas plastik yang sudah kosong) disampingku. Tanpa basa basi (padahal bukan milik ku) aku katakan padanya “iya, udah nggak kepake, ambil aja ya dek”. Langsung si anak kecil itu mengambil beberapa botol dan gelas plastik itu dan berlari menuju si ayah yang memegang satu karung penuh dibadannya sambil bilang “ayah, ini aku dapet”. Tanpa berpikir panjang, ku langsung saja foto momen itu agar menjadi kenangan dalam hidupku yang takkan terlupakan agar menjadi pelajaran, bagi hidup…

ternyata,…

terlalu banyak..

manusia yang masih jujur dan tidak ingin mengemis dan menjaga kehormatannya untuk hidup. Terlalu banyak orang baik seperti anak dan bapak ini.

Disisi lain, juga masih terlalu banyak…

Orang kaya harta yang miskin hati. Terlalu banyak korupsi di tataran elit pejabat yang tak pernah memikirkan sedikitpun rakyat kecil. Terlalu banyak, hal tidak penting yang menjadi sorotan. Terlalu banyak ketidakadilan. Terlalu banyak ketidakbersyukuran. Terlalu banyak kesombongan menghiasi udara dalam atmosfer bumi Indonesia. Terlalu banyak, iblis berkedok manusia.

some day, semoga kau menjadi anak yang berbakti dan berhasil, ya nak.

Salam dari seorang warga negara yang belum bisa berbuat apa-apa.

01.04.19

Jangan Jadi “Negeri Sampah”;

Sebuah Keresahan Warga Negara Biasa

Sudah 73 tahun Indonesia merdeka dan sedang menuju 74 tahun, persoalan kebangsaan masih terus berkembang dari yang berskala nasional maupun pedesaan. Persoalan demi persoalan muncul ketika semua aspek kehidupan terus berkembang sesuai dengan tuntutan zaman yang cepat dan beruntun. Sebut saja satu aspek yaitu dunia industri. Industri tidak akan pernah mati ketika kebutuhan masyarakat terhadap suatu komoditi dan kebutuhan lain menjadi kebutuhan pokok. Industri-industri ini, sangat bergantung kepada bahan pokok, produksi, pengemasan (barang), dan juga distribusi. Salah satu yang menjadi persoalan adalah tentang limbah-nya, yaitu sampah plastik. Tidak tahu lagi, Indonesia akan seperti apa jika penata-kelolaan sampah tidak dimulai dari sekarang pembenahannya. Mari kita bedah.

Kita ketahui, bahwa sampah dan pengelolaannya masih dirasa minim. Ketika kita melihat pengelolaan sampah oleh UPT kebersihan kota misalnya, setiap sampah rumah tangga saja (belum industri) masih belum dirasa baik karena hanya diambil dari tempat pembuangan dan ditampung menumpuk di UPS (Unit Pengelolaan Sampah).Di jalan raya, masyarakat membuang sampah ditempat-tempat yang tidak lazim, seperti pinggir jalan, trotoar (bahu jalan) bahkan, melemparnya ke tempat-tempat sepi dan yang lebih parah lagi di bantaran sungai atau bawah jembatan (kali). Sampah, masih belum bisa di pilah-pilih sesuai dengan jenisnya untuk memudahkan pemusnahan dan pengelolaan serta daur ulang. Masyarakat cenderung pragmatis terhadap hal ini. Sebagian besar hanya ingin membuang sampah keluar dari rumah, proses setelah itu tidak terlalu aware terhadap pengolahannya. Yang menjadi problem-nya adalah bagaimana sampah ini? mau di-apa-kan setelah dibuang? Gotong royong untuk pengolahan sampah-pun dirasa masih kurang.

Fakta mengejutkan menurut BPS, inaplas dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (2018), sampah plastik (satu jenis) saja, Indonesia menyumbang 64 juta ton/tahun dan dibuang ke laut sebanyak 3,2 juta ton/tahun. Fakta mengejutkan lagi, Indonesia menjadi negara terbesar ke-2 setelah Tiongkok (urutan ke-1) dalam menyumbang sampah plastik ke laut, di ikuti Filipina, Vietnam dan Sri Lanka masing-masing urutan ke-3,4, dan 5. Bagaimana tidak, populasi terbesar urutan ke-4 di dunia (data dari; U.S. Census Bureau Current Population) di dunia, jika pengelolaan sampah tidak menjadi hal utama untuk di tuntaskan, kerusakan ekosistem, pencemaran lingkungan dan tentu saja bencana alam bisa terjadi kapanpun karena ulah kita sendiri. Dan pastinya, jika kita tidak memulai dari diri sendiri dan sadar atas apa yang telah terjadi kita akan selalu merasa nyaman dan aman hingga akhirnya kita memakan sendiri penceraman lingkungan yang kita lakukan.

Sudah saatnya, kita mulai memperbaiki pola hidup, yang sebenarnya sangat sederhana. Untuk menyuarakan dan merubah kebiasaan menggunakan plastik untuk berbelanja dan sebagainya, karena ini sudah sangat mengkhawatirkan. Bayangkan, jika setiap hari kita memakan 1 permen, dan membuangnya ditempat yang sama selama 1 tahun, berarti ada 365 buah sampah bungkus permen di tempat tersebut. Bagaimana dengan sampah plastik yang lain?. Di Tiongkok misalnya, dalam berbelanja kita harus bawa tas/kantung atau jika terpaksa kita harus membeli kantung plastik dengan harga yang agak mahal dan petugas kasir menanyakan secara langsung kepada pelanggan apakah harus membeli kantung plastik atau tidak. Ini patut dicontoh.

Intinya, sebagai masyarakat kita juga harus sendiri merasa sadar betapa susahnya mengelola sampah dengan baik dirumah-rumah. Kita harus memulai meningkatkan kesadaran dari hal sederhana dengan tidak lagi bergantung pada plastik, dan mengelola sendiri per-sampah-an di lingkungan rumah. Memulai juga dengan tidak membuang sampah sembarangan, walau ini adalah hal klise yang sering diajarkan dari TK (Taman Kanak-kanak). Ditambah, sinergi pemerintah dalam mengupayakan Desa, Kecamatan, Kota dan bahkan negara yang bersih harus dimulai dari rumah-rumah (keluarga) yang sadar akan kebersihan dan juga menggunakan sumber daya alam untuk kebutuhan tumah tangga yang ramah lingkungan.

From now, say no to plastic and don’t buy plastic with your own money!

Jangan biarkan dan jangan sampai kita menjadi “Negeri Sampah”. Indonesia harus merdeka, salah satunya adalah merdeka dari sampah yang akan merusak bumi Indonesia.

Tentang melanjutkan cita-cita Bangsa

Para pahlawan, para pendiri bangsa, para generasi emas anak bangsa, telah mendedikasikan hidupnya untuk perjuangan. Mereka, berkorban atas semua hal dalam dirinya, menjauhi kesenangan dan kenikmatan dunia, untuk kehidupan yang lebih baik bagi generasinya di masa mendatang. Bagi beliau-beliau, tugas mereka sudahlah selesai. Saatnya, anak bangsa hari ini, tak lagi mengeluh dan nyaman dalam kehidupan dan terlena dalam pusaran serta gempuran zaman.

Saatnya merawat, bukan lagi menghujat. Saatnya berbagi bukan lagi hanya ingin unjuk gigi. Saatnya ber-empati bukan lagi mencari upeti.

Indonesia, adalah kaya dengan bangunan mental dan sumber daya alam. Namun, ini semua takkan bisa bertahan jika pembangunan mental bangsa selalu saja terhambat oleh budaya dan mental takut miskin bukan takut menjadi bodoh. Kita diserang atas paradigma berfikir yang hedonis dan tidak realistik. Bayangkan, jika semua orang berfikir bahwa kepentingan pribadi dan sanak saudara adalah hal yang utama, bagaimana kepedulian atas nama kemanusiaan mampu menjadi hal yang perlu di junjung tinggi. Akankah, imperalisme dan kolonialisme model baru masuk kedalam sanubari rakyat Indonesia dengan cara yang sangat halus ini, dan kita tak disadari?

Inilah saatnya, kita bersatu menyongsong kehidupan yang lebih baik dimasa mendatang, menjadi pribadi yang jujur dan disiplin dan teguh pada pendirian. Hilangkan sifat keangkuhan dan berfokus pada hal penting. Bangsa yang besar, harus punya mimpi besar. Pribadi yang besar, harus punya mimpi besar dan tentu berhati lapang. Karena Indonesia terlalu besar untuk mempermasalahkan hal yang tidak penting dan tidak pada porsinya untuk didebatkan, diperebutkan dan di sengketa-kan.
Hidup, terlalu singkat untuk menghujat, bermuka masam dan adu kekuatan. Mari adu gagasan, adu pemikiran dan adu kreativitas.

“Karena hidup bukanlah diam, hidup adalah bergerak!” – Tan Malaka

Diri yang masih belajar, dan haus akan ilmu.
23 Januari 2018
16.17