Surat Untuk Diriku Usia 17 Tahun

Pada hari ini, usiaku telah menginjakkan kaki di 27 tahun. Tak terasa sudah 10 tahun aku memegang KTP dan dikategorikan melek hukum dan telah dewasa menurut hukum negara, memegang status “baligh” dalam fase kedewasaan manusia menurut agama Islam. Aku merasa semua yang aku dapatkan hari ini adalah bagaimana aku menghabiskan waktu-waktuku di usiaku yang lalu. Tak juga lagi ingin menjadi menyesal atas apa yang belum kudapatkan hari ini, tapi intinya aku bersyukur.

Aku bersyukur bahwa saat itu aku (17 tahun) sangat senang sekali bertemu dengan banyak orang dan orang baru untuk membuat pertemanan. Memiliki aktivitas segudang (selain belajar dikelas) untuk bersama melakukan hal-hal yang menyenangkan sekaligus belajar. Aku ingin kamu (aku 17 tahun) tak banyak berbicara dan perbanyaklah belajar dengan sejuta wawasan yang tersebar di semesta. Hari ini, aku menikmati pengetahuanmu atas semua hal baik yang kamu lakukan dimasa lalu.

Aku berterima kasih padamu (aku 17 tahun). Waktu itu, kamu tak ikut-ikutan masuk sekolah yang banyak sekali teman yang sudah kamu kenal. Kamu juga pergi ke sekolah dengan bersepada, meski yang lain naik motor bahkan mobil . Aku juga berterima kasih, pada saat itu kamu lebih senang menghabiskan waktu di organisasi dan ekstrakulikuler yang kamu ikuti 5 sekaligus (osis, rohis, paskibra, tim olimpiade dan KPMD). Kamu banyak juga menghabiskan waktu dirumah dan diskusi bersama ayah dan ibu yang alhamdulillah, sangat tegas terhadap urusan agama dan kedisiplinan sehingga rumah adalah tempat utama bagimu untuk belajar, aku sangat berterima kasih akan hal ini.

Selain itu juga, aku berterima kasih pada saat itu kamu sangat sering membaca buku politik dan sejarah hingga akhirnya aku (27 tahun) sangat senang membicarakan social politics sebagai tamasya pemikiran saja dan bukan hal-hal yang diseriuskan. Aku juga berterima kasih, pada saat itu kamu tak ikut-ikutan nongkrong ga jelas ketika kamu ada kesempatan. Begitu juga, keaktifan mu sebagai seorang remaja masjid dirumah.

Tapi, selain rasa terimakasih ku padamu. Aku juga menyesal padamu kenapa pada saat itu kamu tidak banyak menghabiskan waktu untuk lebih banyak lagi menghabiskan buku-buku yang sudah kamu beli dan buku orang tua mu dirumah. Kenapa pada saat itu, kamu lebih memilih menonton televisi secara random ketimbang berdiskusi dengan ayah atau kamu lebih senang main friendster ketimbang mengakses internet untuk melihat-lihat kampus-kampus terbaik Indonesia bahkan dunia serta mencari cara bagaimana cara masuk kekampus tersebut sebagai mahasiswa s1, s2 atau bahkan doktor. Kenapa juga, pada saat itu kamu tak banyak menulis dan berbicara bahasa inggris untuk meningkatkan skill bahasa inggrismu. Sangat disayangkan juga, kenapa pada saat itu, kamu tidak mengurangi waktu tidurmu dan menghabiskannya untuk mengerjakan latihan soal matematika dan kimia, sebagai pelajaran yang menurutku cukup sulit pada saat itu. Apalagi, untuk bangun disepertiga malam melakukan tahajud. fyuuuh…

Banyak sekali rasanya penyesalan ini. Begitu juga, aku menyesal kenapa aku masih mengeluh (ketika aku 17 tahun) kepada orang tua yang memberikan uang jajan pas-pas-an. Padahal, itu semua lebih dari cukup dan kadang berlebih (karena dirumah sudah sarapan)-memang sengaja orang tua kami tak memberikan jajan berlebih (walaupun bisa), untuk anaknya diajarkan bagaimana hidup dengan kecukupan (tidak berlebih) dan hemat. Kenapa juga, kamu terlalu banyak mengemban amanah organisasi ketimbang latihan soal untuk ujian akhir semester-an. Terkadang, aku juga heran, kenapa dirimu sangat tidak fokus dan memiliki terlalu banyak keinginan dan ambisi.

Pada intinya, aku berterima kasih atas semua yang kamu lakukan. Wahai, diriku 17 tahun. Aku ingin kamu bahagia dan tak lagi menyesal sekarang. Karena kamu yang 27 tahun ini, sudah sadar akan

perubahan untuk kebaikan itu dimulai harus dari diri sendiri, sekarang, sederhana dan melangkah demi langkah secara konsisten sampai mati.

Aku yang sekarang, sudah memaafkanmu atas masa lalu itu dan mencoba bangkit dari pekerjaan ‘memikirkan’ menuju pekerjaan ‘mewujudkan’. Sama-sama kata kerja, tapi sangat berbeda. Aku, hari ini akan berusaha yang terbaik untuk diri kita, 10 atau 50 tahunan di-masa depan, mungkin (insya Allah). Ayo saatnya dan detik inilah, saatnya kita mewujudkan cita-cita kita. Cita-cita besar diri, keluarga, dan kemerdekaan Indonesia serta agama. Hal terpentingnya di 27 tahun ini. Kita, (aku yang 17 dan 27 tahun ini) sudah memiliki manusia lain yang kita ingin wujudkan cita-citanya juga secara bersama-sama, ia adalah Nelisku dan calon anakku.

For all kindness, thanks to Allah.

#MakeIndonesiaReadAgain

Jika dalam keimanan “kebersihan sebagian dari iman”, maka dalam intelektual juga punya “bertanya adalah sebagian dari ilmu”. “Bertanyalah sebelum kau mati”, Kata Socrates. “Malu bertanya sesat dijalan”, tambahan peribahasa Indonesia. Masihkah, ada mental pengecut bagi seseorang manusia yang hidup di zaman ini? yang tidak mau bertanya hal apapun karena malu, karena gengsi, karena ilmu kita lebih banyak dari subjek yang mau kita tanyakan? ya ternyata mungkin saya/kita salah satunya.

Disaat banyaknya gempuran teknologi informasi yang sangat “menina-bobokan” para penggunanya, lebih memilih “searching” dari pada “asking and reconfirmation” hal ini membuat kita tidak mau menerima sebuah kebenaran sebagai nalar kritis akal. “Saring sebelum sharing“Kata Gus Nadir, harusnya. Sekarang, tidak lagi menjadi ciri seseorang yang berbicara di dalam platform media, terutama media sosial. Bahkan, banyaknya buzzer dan akun palsu yang menyebarkan berita-berita bohong dan sangat tidak beradab, semakin menjamur. Dampaknya, gempuran teknologi juga memiliki sisi negatif yaitu menurunnya produktivitas seseorang (lebih senang buka timeline media sosial) dibanding mau berusaha untuk membaca langsung sumber berita/ ilmu dan bertanya langsung kepada sumber ilmu/kabar/berita.

Konflik-konflik yang terjadi ditengah-tengah masyarakat, saat ini sangatlah bergantung pada kemampuan komunikasi antar elemen masyarakat. Bahkan, kejadian-kejadian permasalahan sosial terjadi karena adanya miss perception dari para pengguna social media terhadap suatu berita, pesan teks yang sangat berbeda dengan tutur kata langsung. Fenomenanya, juga berubah. Kita lebih senang dan sudah mengambil kesimpulan terhadap tuturan kata-kata didalam media sosial ketimbang ingin re-confirmation kepada si penutur pesan, yang menyebabkan masyarakat saling jauh dan tak terikat secara emosional. Bahkan, antar tetangga, antar masyarakat dalam suatu lingkungan tidak mau saling menyapa atau hanya sekadar duduk mengobrol membicarakan isu.

Menurut Program for International Student Assessment (PISA) rilisan Organisation for Economic Co-Operation and Develompent (OECD) tahun 2015, Indonesia peringkat 62 dari 70 negara (sumber). Padahal, Indonesia memiliki fasilitas perpustakaan nasional dan perpustakaan yang bagus di perguruan tinggi negeri yang representatif untuk diakses kalangan masyarakat luas. Hal ini, sangat memprihatinkan dan harusnya kita terus bergerak dan mengubah budaya dari budaya membicarakan hal/masalah, menjadi budaya mengkonfirmasi hal/masalah .

#MakeIndonesiaReadAgain, ya tulisan saya kali ini adalah menggambarkan diri saya yang masih malas untuk membaca, tak mau bertabayun atas permasalahan yang timbul karena miss komunikasi di media sosial, yang masih tak mau mengecek kembali berita-berita yang bertebaran, tak mau juga mendekati sumber ilmu (buku/kitab) terhadap suatu penyebaran informasi yang akhirnya menjadi sebuah ideologi dan pandangan hidup yang kita pegang. Selain rasa malas untuk konfirmasi, juga kepuasan dan “budaya instan” sangatlah mengganggu terhadap perkembangan intelektualisme didalam kemanusiaan dan tentu budaya literasi didalam suatu negara.

Cukup sudah, kita menjadi mental pengecut yang mau mengetahui tanpa perlu susah payah. Tanpa langsung bertanya kepada sumber utamanya. Apapun, itu. Sudah saatnya mental pengecut untuk debat di media sosial kita sudahi dan mulai-lah bertatap muka untuk membicarakan semua hal dalam bingkai keilmuan yang memiliki referensi baik secara akal maupun tinjauan ilmu. Saatnya, duduk bersama dan bicarakan persoalan kebangsaan yang menjadi semangat perubahan demi Indonesia yang lebih baik. Tentunya saya ingin mengkritik diri sendiri yang masih jauh dari kebenaran.

Soe Hok Gie bilang:

Apalah hal yang lebih puitis, selain berbicara tentang kebenaran.

Catatan;

#MakeIndonesiaReadAgain adalah sebuah gerakan kecil yang saya gagas pada Januari 2016 atas kegelisahan saya terhadap diri, lingkungan sekitar tentang budaya membaca yang hilang dari keluhuran budaya Indonesia disekitar saya. Tentang kekuatan intelektualisme manusia yang harusnya melahirkan critical thinking, ketekunan dan berfokus pada karya dan budaya baik lainnya. Mari kita mulai, satu hari-satu lembar buku!

Nelis Nazziatus Sa’diah

Ketika ku bertemu denganmu…

Hatiku selalu saja tidak tenang. Aku terus lirikkan mata ke jam tangan, takut waktu menunjukkan malam dan bergantinya matahari terhadap bulan. Disaat kita buka diskusi itu, aku selalu saja merasa terpukau atas kepribadianmu. Sesekali kulihat wajahmu yang tulus menerimaku sebagai teman bicara. Tak sebentar, ku merasa bahwa rasa syukur ini harus dibalas dengan resolusi diri yang makin konstruktif dan maju. Meninggalkan diri yang ilusi dan tak lagi maju. Dahsyatnya energi pertemuan, membuatku tak lama berfikir untuk merapihkan memori baik ini dalam pikiran ku agar tak hilang selamanya. Begitu juga perasaan dan sinkronisasi rasa dengan logika, bahwa perdamaianlah yang membuat kita saling mendoa dan lega.

Aku titipkan sebuah amanah yang bernama semangat dan taubat, untuk aku jalankan begitu juga dirimu.

Allah sang maha menakdirkan sesuatu, menjadikan kita mengalir seperti air, namun tak pergi ketempat rendah. Akhirnya, pertemuan singkat yang berujung pada perhelatan hati dan emosi yang begitu menggugah rasa. Namun, itu semua tak menjadi dilema, ketika Allah-lah sandarannya. Bersyukur atas nikmat Allah atas cinta-Nya pada hamba-hamba yang selalu bersama-Nya dalam mengingat cinta-Nya disetiap sudut pandang mata dan hati. Ikhlas dan ridho atas segala suratan, jadilah terus pribadi yang kukagumi sampai kapanpun. Yang jika orang bertemu, orang itu akan mengingat Allah. Alhamdulillah atas pertemuan kemarin, bismillah atas perjalananmu hari ini dan esok.

Untuk seseorang,

Nelis yang kupanggil namanya.

31 Agustus 2017

#repost

Memulai

Hari ini, aku sempurnakan agamaku dan agamamu

kita, adalah kesempurnaan itu

Diciptakannya manusia berpasang-pasangan untuk saling berpegangan

Sempurna, adalah bentuk kelengkapan yang kolektif

Tak memiliki kekurangan, namun memaklumi yang dirasa kurang

Rasa yang terbangun dalam balutan cinta kasih

terpatri dalam untaian indah kata-kata kehidupan dan senyum yang selalu mewarnai hari-hari

aku, kamu yaitu kita…

akan memulai sesuatu yang baru

sesuatu yang tak pernah terbayangkan sebelumnya

menelusuri takdir dalam usaha dan doa

dalam kesesuaian makna dan cita-cita

aku bersamamu sempurna, bersamamu aku akan memulai

sebuah cerita indah bernama kita yg telah menjadi satu

aku adalah kamu, kamu adalah aku

Puncak, 24 Agustus 2019

Pertemanan Kita

Untuk teman-temanku yang sudah lama tak bertemu…

Ingatkah, ketika dulu pertama kalinya kita berkenalan? awkward moment yang terjadi begitu saja dan tak jarang kita canggung dalam kali pertama berkenalan? Ingatkah, ketika itu aku dan kamu merasa saling ingin tahu dan tak memiliki tujuan apapun dalam perkenalan selain hanya “kenalan”? Ingatkah juga, ketika untuk pertama kalinya saling menyapa diantara kita ternyata sudah tertuliskan dalam takdir dan sejarah hidup yang sudah dituliskan malaikat dalam 4 bulan masa kandungan seseorang (kita) dalam rahim ibu kita masing-masing. Ini semua suatu hal yang tidak biasa (kebetulan). Kita, tidak pernah memilih untuk dilahirkan di rahim ibu siapa, beragama apa, dimana dan kapan, inilah takdir terbaik.

Tak terbesit, bisa berkenalan denganmu. Kita berbeda hidup dan kehidupan dan tanggal lahir. Beda tempat lahir, detik dan jam-nya, tentu berbeda orang tua dan takdir. Namun, ternyata di usia kita yang menjelang dewasa dan mampu keluar dari rumah dan tak lagi belajar berbicara kepada ibu kita, kita dipertemukan dalam suatu momen yang disebut pertemanan ini. Aku ingin menyampaikan beberapa hal wahai teman. Terkait pertemanan kita yang juga ternyata sudah Tuhan tetapkan sebagai garis hidup. Sebagai contoh, “tidak mungkin aku bertemu denganmu, kalau aku tidak masuk sekolah/kampus ini” misalnya. Atau “tak mungkin juga aku bertemu denganmu, jika aku dan kamu tidak aktif dalam satu komunitas atau organisasi.

Aku ingin sampaikan ini…

Yakinlah, bahwa pertemanan singkat tersebut meninggalkan banyak sekali kenangan dan kerinduan yang telah terukir dalam sejarah hidup kita masing-masing. Yang nanti, akan dipertontonkan kembali di akhirat bersama para hakim dan maha hakim, apakah memiliki nilai manfaat atau sebaliknya.

Yakinlah juga, bahwa setiap pertemanan ini, memiliki esensi tersendiri sesuai dengan hadis nabi “dirimu adalah temanmu” maka setiap pertemanan juga adalah cerminan bagi lingkungan pertemanan. Namun, bukan berarti aku memilah dan memilih teman. Karena memang tidak ada istilah “mantan teman”. Tapi aku ingin pertemanan ini sampai pada titik pertemuan abadi.

Yakinlah juga, bahwa aku bersyukur bisa bertemu denganmu di dunia yang sebentar ini. Aku ingin kita saling mendoakan, walau kita tak saling menyapa, walau kita hanya saling memantau di IG story/post, di cuitan twitter atau hanya sekedar melihatmu di koleksi foto facebook. Aku hanya ingin bilang, bukan berarti aku tidak menghubungimu via teknologi informasi yang canggih ini, aku tak ingat dan tak peduli terhadapmu. Aku sungguh, sayang kepadamu.

Aku dan kamu…

aku tahu bahwa kita saling sibuk “mengurusi” masa depan masing-masing. Aku ingin juga pengertian ini sampai pada tahapan, kita saling mengingatkan bahwa “bekal” kita sudahkah cukup untuk kita bawa pulang?. Aku, hanya ingin kamu, keluargamu dan orang-orang terdekatmu bisa memastikan hal itu, tentu juga aku. Dengan waktu kita yang terbatas ini, dengan segala khilafku dan diriku yang masih belajar. Aku ingin berpendapat; bahwa pertemuan bukanlah sebuah jawaban dan tegur sapa di social media bukanlah suatu ukuran kualitas pertemanan. Tapi doa dan support “sebisamu”-lah yang menentukan kualitas pertemanan kita. Tentu, jika kita bisa saling bertemu disaat yang tepat dan senggang, pastilah akan bertemu karena silaturahim juga penting, silaturahim yang bukan basa-basi tentunya.

“Jika ada namaku dalam doamu wahai temanku, aku bersyukur bahwa pertemanan kita adalah pertemanan yang sejati…”

terima kasih,

telah menjadi temanku.

source image: https://www.tes.com

Pertanyaan yang ingin kutanyakan

Apakah aku masih sanggup untuk berdiri lagi?

Apakah aku masih kuat menahan beratnya mimpi dan cita-cita?

Apakah aku masih merasakan getaran hati akan sebuah perubahan?

Dunia, apakah kau sekejam itu? meninabobokan para pekerja langit dengan intrik-intrik dunia yang kotor ini?

atau, dunia punya cara lain untuk membuat penghuninya sadar, bahwa hidup adalah perjuangan yang harus dimaknai dengan keikhlasan?

oh, bunga mengapa kau selalu bermekaran terus, padahal itu menandakan kau akan layu dan mati.

oh, pohon mengapa kau terus berbuah dan menua, padahal itu memperingatkan kau akan tua dan keras untuk mendekati keropos.

apakah ini semua adalah cinta? yaitu tentang menuju kesempurnaan?

apakah manusia hanyalah seonggok daging yang punya tujuan duniawi, ego dan intrik kontra revolusi?

atau, manusia punya tujuan lain yang mulia..

yaitu, pertanyaan yang tak mampu dijawab.
‘siapakah dirimu?’ ‘kemanakah mau mu pergi?’ ‘apakah dunia tak layak jadi temanmu’?

bayangkan, apakah ini semua hanya sandiwara?

apakah tuhan tahu, bahwa aku merindukannya, aku ingin bertemu denganNya, mempertanyakan semua dilema hidup ini..

23:17

Tidak, untuk melawan bangsa sendiri!

Kata rumi “Seorang yang tak merasakan wanginya iman dan islam, ia tak bisa disebut sebagai seorang muslim”. Wangi disini berarti sebuah ketenangan dan kesejukan yang mendalam dalam penciuman “ruhani”. Pertanyaannya, apakah wewangian berasal dari kekerasan, anti perdamaian, radikalisme dan fanatisme? Kita sama-sama tahu, bahwa Islam adalah rahmat bagi seluruh alam, dan ini tidak bisa termanifestasi dengan konsep kekerasan.

Ada yang mengatakan bahwa nahi munkar itu adalah melakukan pelarangan. Padahal, jikalau kita merujuk pada Quran, amar maruf nahi munkar adalah satu kesatuan. Ketika kita sudah melakukan amar maruf, pada saat detik itu juga, sekaligus kita sedang melakukan nahi munkar. Karena prinsipnya, munkar tidak akan ada ketika ada maruf, dan munkar akan muncul ketika tidak ada maruf. Seperti analogi, kegelapan karena esensinya kegelapan tidak ada, yang ada hanyalah kehilangan atau ketiadaan cahaya. Saya, tidak akan mendukung konsep agama yang semacam ini (kekerasan). Islam, adalah satu kesatuan yang didalamnya adalah kebaikan dalam menyebarkan dan melakukan konsep apapun. Islam, adalah cinta, kata rumi.

Beberapa fenomena terakhir yang melanda negeri kita akhir-akhir ini, kita diuji lagi, keberlangsungan kehidupan berbangsa, kemerdekaan dan kekuatan cita-cita pancasila. Ini semua, memberikan kita sebuah pelajaran. Ya, pelajaran!. Apalagi, mayoritas umat beragama adalah umat muslim, bahwa persatuan dan kesatuan itu sangat mahal dan prioritas utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Merawat, memang hal yang cukup sulit. Ini, juga menjaga konsistensi cita-cita bangsa dalam menjaga stabilitas negara yang diharapkan dapat terjaga ribuan tahun lagi untuk keberlangsungan anak-cucu. Fanatisme, atau ashabiyah adalah musuh nyata bagi umat, bagi pemeluk agama manapun kata buya syafii maarif. Maka, sikap dewasa, memaklumi dan saling mengerti dalam perbedaan adalah hal yang wajib kita jaga. Kedewasaan dalam berpolitik misalnya, harus juga kita tanamkan dalam diri umat muslim dalam menjaga negara kita yang menganut sistem demokrasi.

Agama, tidak boleh lagi menjadi momok dalam mengancam stabilitas kehidupan berbangsa. Negara kita yang sangat mengedepankan dan mementingkan agama sebagai hal yang penting (spectator Index) harusnya membuat agama menjadi “pengatur” yang membuat kita hidup baik dan teratur. Untuk itu, pemeluk agama-nya lah yang harus membenah diri dan belajar dengan komprehensif dan terbuka atas berbagai sumber informasi, tentu juga wajib memvalidasi sumber-sumber informasi ditengah gempuran teknologi informasi yang begitu pesat berbasis website. Mulailah kita belajar dengan sungguh-sungguh atas apa yang kita ikuti, yang kita yakini. Jangan-jangan, saat kita men-judge orang lain bahwa mereka tak lebih baik dari kita, justru kita-lah yang tidak mengerti apa-apa soal agama. Tabayun, silaturahim dan senyum adalah cara-cara agama untuk berkehidupan. Sehingga, tak ada lagi ke’retak’an terjadi dalam sosial masyarakat kita. Jangan, kita mau di-adu-domba oleh pihak neo-imperalis, neo-kapitalis dan penjajahan model baru, dan politik adu domba. Terlalu mahal, persatuan dan keberagaman kita, digadaikan dengan kontestasi pilpres yang hanya 5 tahunan, pileg dsb. Padahal, proses perubahan bangsa atau negara, juga akan massive ketika bangsa dari pribadi keluarga dan satu negara mau bergotong royong untuk bekerja keras membangun peradaban yang maju. Membangun negeri, yang sudah diwariskan oleh para pendahulu kita, adalah kerja berat yang harus diemban oleh semua anak bangsa. Sudah saatnya, kita terus menjaga persaudaraan, didalam rumah kita sendiri. Katakan “tidak, pada menghancurkan rumah sendiri, membenci saudara sendiri, membenci bangsa sendiri!” “tidak, untuk melawan bangsa sendiri!”

“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri. – Ir. Soekarno