Pertemanan Kita

Untuk teman-temanku yang sudah lama tak bertemu…

Ingatkah, ketika dulu pertama kalinya kita berkenalan? awkward moment yang terjadi begitu saja dan tak jarang kita canggung dalam kali pertama berkenalan? Ingatkah, ketika itu aku dan kamu merasa saling ingin tahu dan tak memiliki tujuan apapun dalam perkenalan selain hanya “kenalan”? Ingatkah juga, ketika untuk pertama kalinya saling menyapa diantara kita ternyata sudah tertuliskan dalam takdir dan sejarah hidup yang sudah dituliskan malaikat dalam 4 bulan masa kandungan seseorang (kita) dalam rahim ibu kita masing-masing. Ini semua suatu hal yang tidak biasa (kebetulan). Kita, tidak pernah memilih untuk dilahirkan di rahim ibu siapa, beragama apa, dimana dan kapan, inilah takdir terbaik.

Tak terbesit, bisa berkenalan denganmu. Kita berbeda hidup dan kehidupan dan tanggal lahir. Beda tempat lahir, detik dan jam-nya, tentu berbeda orang tua dan takdir. Namun, ternyata di usia kita yang menjelang dewasa dan mampu keluar dari rumah dan tak lagi belajar berbicara kepada ibu kita, kita dipertemukan dalam suatu momen yang disebut pertemanan ini. Aku ingin menyampaikan beberapa hal wahai teman. Terkait pertemanan kita yang juga ternyata sudah Tuhan tetapkan sebagai garis hidup. Sebagai contoh, “tidak mungkin aku bertemu denganmu, kalau aku tidak masuk sekolah/kampus ini” misalnya. Atau “tak mungkin juga aku bertemu denganmu, jika aku dan kamu tidak aktif dalam satu komunitas atau organisasi.

Aku ingin sampaikan ini…

Yakinlah, bahwa pertemanan singkat tersebut meninggalkan banyak sekali kenangan dan kerinduan yang telah terukir dalam sejarah hidup kita masing-masing. Yang nanti, akan dipertontonkan kembali di akhirat bersama para hakim dan maha hakim, apakah memiliki nilai manfaat atau sebaliknya.

Yakinlah juga, bahwa setiap pertemanan ini, memiliki esensi tersendiri sesuai dengan hadis nabi “dirimu adalah temanmu” maka setiap pertemanan juga adalah cerminan bagi lingkungan pertemanan. Namun, bukan berarti aku memilah dan memilih teman. Karena memang tidak ada istilah “mantan teman”. Tapi aku ingin pertemanan ini sampai pada titik pertemuan abadi.

Yakinlah juga, bahwa aku bersyukur bisa bertemu denganmu di dunia yang sebentar ini. Aku ingin kita saling mendoakan, walau kita tak saling menyapa, walau kita hanya saling memantau di IG story/post, di cuitan twitter atau hanya sekedar melihatmu di koleksi foto facebook. Aku hanya ingin bilang, bukan berarti aku tidak menghubungimu via teknologi informasi yang canggih ini, aku tak ingat dan tak peduli terhadapmu. Aku sungguh, sayang kepadamu.

Aku dan kamu…

aku tahu bahwa kita saling sibuk “mengurusi” masa depan masing-masing. Aku ingin juga pengertian ini sampai pada tahapan, kita saling mengingatkan bahwa “bekal” kita sudahkah cukup untuk kita bawa pulang?. Aku, hanya ingin kamu, keluargamu dan orang-orang terdekatmu bisa memastikan hal itu, tentu juga aku. Dengan waktu kita yang terbatas ini, dengan segala khilafku dan diriku yang masih belajar. Aku ingin berpendapat; bahwa pertemuan bukanlah sebuah jawaban dan tegur sapa di social media bukanlah suatu ukuran kualitas pertemanan. Tapi doa dan support “sebisamu”-lah yang menentukan kualitas pertemanan kita. Tentu, jika kita bisa saling bertemu disaat yang tepat dan senggang, pastilah akan bertemu karena silaturahim juga penting, silaturahim yang bukan basa-basi tentunya.

“Jika ada namaku dalam doamu wahai temanku, aku bersyukur bahwa pertemanan kita adalah pertemanan yang sejati…”

terima kasih,

telah menjadi temanku.

source image: https://www.tes.com