Tidak, untuk melawan bangsa sendiri!

Kata rumi “Seorang yang tak merasakan wanginya iman dan islam, ia tak bisa disebut sebagai seorang muslim”. Wangi disini berarti sebuah ketenangan dan kesejukan yang mendalam dalam penciuman “ruhani”. Pertanyaannya, apakah wewangian berasal dari kekerasan, anti perdamaian, radikalisme dan fanatisme? Kita sama-sama tahu, bahwa Islam adalah rahmat bagi seluruh alam, dan ini tidak bisa termanifestasi dengan konsep kekerasan.

Ada yang mengatakan bahwa nahi munkar itu adalah melakukan pelarangan. Padahal, jikalau kita merujuk pada Quran, amar maruf nahi munkar adalah satu kesatuan. Ketika kita sudah melakukan amar maruf, pada saat detik itu juga, sekaligus kita sedang melakukan nahi munkar. Karena prinsipnya, munkar tidak akan ada ketika ada maruf, dan munkar akan muncul ketika tidak ada maruf. Seperti analogi, kegelapan karena esensinya kegelapan tidak ada, yang ada hanyalah kehilangan atau ketiadaan cahaya. Saya, tidak akan mendukung konsep agama yang semacam ini (kekerasan). Islam, adalah satu kesatuan yang didalamnya adalah kebaikan dalam menyebarkan dan melakukan konsep apapun. Islam, adalah cinta, kata rumi.

Beberapa fenomena terakhir yang melanda negeri kita akhir-akhir ini, kita diuji lagi, keberlangsungan kehidupan berbangsa, kemerdekaan dan kekuatan cita-cita pancasila. Ini semua, memberikan kita sebuah pelajaran. Ya, pelajaran!. Apalagi, mayoritas umat beragama adalah umat muslim, bahwa persatuan dan kesatuan itu sangat mahal dan prioritas utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Merawat, memang hal yang cukup sulit. Ini, juga menjaga konsistensi cita-cita bangsa dalam menjaga stabilitas negara yang diharapkan dapat terjaga ribuan tahun lagi untuk keberlangsungan anak-cucu. Fanatisme, atau ashabiyah adalah musuh nyata bagi umat, bagi pemeluk agama manapun kata buya syafii maarif. Maka, sikap dewasa, memaklumi dan saling mengerti dalam perbedaan adalah hal yang wajib kita jaga. Kedewasaan dalam berpolitik misalnya, harus juga kita tanamkan dalam diri umat muslim dalam menjaga negara kita yang menganut sistem demokrasi.

Agama, tidak boleh lagi menjadi momok dalam mengancam stabilitas kehidupan berbangsa. Negara kita yang sangat mengedepankan dan mementingkan agama sebagai hal yang penting (spectator Index) harusnya membuat agama menjadi “pengatur” yang membuat kita hidup baik dan teratur. Untuk itu, pemeluk agama-nya lah yang harus membenah diri dan belajar dengan komprehensif dan terbuka atas berbagai sumber informasi, tentu juga wajib memvalidasi sumber-sumber informasi ditengah gempuran teknologi informasi yang begitu pesat berbasis website. Mulailah kita belajar dengan sungguh-sungguh atas apa yang kita ikuti, yang kita yakini. Jangan-jangan, saat kita men-judge orang lain bahwa mereka tak lebih baik dari kita, justru kita-lah yang tidak mengerti apa-apa soal agama. Tabayun, silaturahim dan senyum adalah cara-cara agama untuk berkehidupan. Sehingga, tak ada lagi ke’retak’an terjadi dalam sosial masyarakat kita. Jangan, kita mau di-adu-domba oleh pihak neo-imperalis, neo-kapitalis dan penjajahan model baru, dan politik adu domba. Terlalu mahal, persatuan dan keberagaman kita, digadaikan dengan kontestasi pilpres yang hanya 5 tahunan, pileg dsb. Padahal, proses perubahan bangsa atau negara, juga akan massive ketika bangsa dari pribadi keluarga dan satu negara mau bergotong royong untuk bekerja keras membangun peradaban yang maju. Membangun negeri, yang sudah diwariskan oleh para pendahulu kita, adalah kerja berat yang harus diemban oleh semua anak bangsa. Sudah saatnya, kita terus menjaga persaudaraan, didalam rumah kita sendiri. Katakan “tidak, pada menghancurkan rumah sendiri, membenci saudara sendiri, membenci bangsa sendiri!” “tidak, untuk melawan bangsa sendiri!”

“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri. – Ir. Soekarno

Advertisements