Jangan Jadi “Negeri Sampah”;

Sebuah Keresahan Warga Negara Biasa

Sudah 73 tahun Indonesia merdeka dan sedang menuju 74 tahun, persoalan kebangsaan masih terus berkembang dari yang berskala nasional maupun pedesaan. Persoalan demi persoalan muncul ketika semua aspek kehidupan terus berkembang sesuai dengan tuntutan zaman yang cepat dan beruntun. Sebut saja satu aspek yaitu dunia industri. Industri tidak akan pernah mati ketika kebutuhan masyarakat terhadap suatu komoditi dan kebutuhan lain menjadi kebutuhan pokok. Industri-industri ini, sangat bergantung kepada bahan pokok, produksi, pengemasan (barang), dan juga distribusi. Salah satu yang menjadi persoalan adalah tentang limbah-nya, yaitu sampah plastik. Tidak tahu lagi, Indonesia akan seperti apa jika penata-kelolaan sampah tidak dimulai dari sekarang pembenahannya. Mari kita bedah.

Kita ketahui, bahwa sampah dan pengelolaannya masih dirasa minim. Ketika kita melihat pengelolaan sampah oleh UPT kebersihan kota misalnya, setiap sampah rumah tangga saja (belum industri) masih belum dirasa baik karena hanya diambil dari tempat pembuangan dan ditampung menumpuk di UPS (Unit Pengelolaan Sampah).Di jalan raya, masyarakat membuang sampah ditempat-tempat yang tidak lazim, seperti pinggir jalan, trotoar (bahu jalan) bahkan, melemparnya ke tempat-tempat sepi dan yang lebih parah lagi di bantaran sungai atau bawah jembatan (kali). Sampah, masih belum bisa di pilah-pilih sesuai dengan jenisnya untuk memudahkan pemusnahan dan pengelolaan serta daur ulang. Masyarakat cenderung pragmatis terhadap hal ini. Sebagian besar hanya ingin membuang sampah keluar dari rumah, proses setelah itu tidak terlalu aware terhadap pengolahannya. Yang menjadi problem-nya adalah bagaimana sampah ini? mau di-apa-kan setelah dibuang? Gotong royong untuk pengolahan sampah-pun dirasa masih kurang.

Fakta mengejutkan menurut BPS, inaplas dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (2018), sampah plastik (satu jenis) saja, Indonesia menyumbang 64 juta ton/tahun dan dibuang ke laut sebanyak 3,2 juta ton/tahun. Fakta mengejutkan lagi, Indonesia menjadi negara terbesar ke-2 setelah Tiongkok (urutan ke-1) dalam menyumbang sampah plastik ke laut, di ikuti Filipina, Vietnam dan Sri Lanka masing-masing urutan ke-3,4, dan 5. Bagaimana tidak, populasi terbesar urutan ke-4 di dunia (data dari; U.S. Census Bureau Current Population) di dunia, jika pengelolaan sampah tidak menjadi hal utama untuk di tuntaskan, kerusakan ekosistem, pencemaran lingkungan dan tentu saja bencana alam bisa terjadi kapanpun karena ulah kita sendiri. Dan pastinya, jika kita tidak memulai dari diri sendiri dan sadar atas apa yang telah terjadi kita akan selalu merasa nyaman dan aman hingga akhirnya kita memakan sendiri penceraman lingkungan yang kita lakukan.

Sudah saatnya, kita mulai memperbaiki pola hidup, yang sebenarnya sangat sederhana. Untuk menyuarakan dan merubah kebiasaan menggunakan plastik untuk berbelanja dan sebagainya, karena ini sudah sangat mengkhawatirkan. Bayangkan, jika setiap hari kita memakan 1 permen, dan membuangnya ditempat yang sama selama 1 tahun, berarti ada 365 buah sampah bungkus permen di tempat tersebut. Bagaimana dengan sampah plastik yang lain?. Di Tiongkok misalnya, dalam berbelanja kita harus bawa tas/kantung atau jika terpaksa kita harus membeli kantung plastik dengan harga yang agak mahal dan petugas kasir menanyakan secara langsung kepada pelanggan apakah harus membeli kantung plastik atau tidak. Ini patut dicontoh.

Intinya, sebagai masyarakat kita juga harus sendiri merasa sadar betapa susahnya mengelola sampah dengan baik dirumah-rumah. Kita harus memulai meningkatkan kesadaran dari hal sederhana dengan tidak lagi bergantung pada plastik, dan mengelola sendiri per-sampah-an di lingkungan rumah. Memulai juga dengan tidak membuang sampah sembarangan, walau ini adalah hal klise yang sering diajarkan dari TK (Taman Kanak-kanak). Ditambah, sinergi pemerintah dalam mengupayakan Desa, Kecamatan, Kota dan bahkan negara yang bersih harus dimulai dari rumah-rumah (keluarga) yang sadar akan kebersihan dan juga menggunakan sumber daya alam untuk kebutuhan tumah tangga yang ramah lingkungan.

From now, say no to plastic and don’t buy plastic with your own money!

Jangan biarkan dan jangan sampai kita menjadi “Negeri Sampah”. Indonesia harus merdeka, salah satunya adalah merdeka dari sampah yang akan merusak bumi Indonesia.

Author: Tirta A

an Enthusiast learner | Setiap detik hidup adalah pemaknaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.