Kebersyukuran

Perbedaan Persepsi

Salah satu hal terpenting dalam mencapai kesuksesan dalam hidup adalah rasa ketenangan dan kecukupan. Semua sepakat, bukan? ya. Yang menjadi pertanyaan sejauh mana kita mendapatkan definisi ketenangan dan kecukupan dalam hidup, yang pastinya setiap diri kita memiliki pandangan dan ukuran yang berbeda. Banyak, disekitaran kita manusia yang tidak merasa cukup karena pandangannya selalu ditutupi oleh kemauan yang berlebih bahkan cenderung tidak terkontrol. Misalnya, kebutuhan-kebutuhan hidup yang sebenarnya tidak diperlukan namun selalu dicari-cari, padahal sudah lebih dari cukup. Misal, ketika kita sudah punya pakaian bagus, namun merasa bosan sehingga perlu lagi membeli yang baru. Apalagi, “serangan” media elektronik yang memudahkan dan memanjakan mata kita untuk selalu berfikir konsumtif dan mendekati kata mubazir!

Alquran Suci memaktub 

Dalam Alquran, jelas bahwa Allah berfirman “siapa yang bersyukur nikmatnya akan ditambahkan” namun sebaliknya “barang siapa yang bersyukur sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. Perbandingan antara orang yang mensyukuri nikmat dengan yang tidak (kufur) disini, sangatlah berbeda sekali. Seperti hitam dan putih, tidak ada gray area. Sehingga, kitapun menempatkan dan ditempatkan hanya pada 2 posisi tersebut. Bersyukurkah, atau tidakkah.

Kata Mereka yang “gerah”

Yang tadi, pastinya adalah contoh-contoh dari fenoman konsumtif kita yang semakin meresahkan warga dunia. Padahal salah satu alasan kenapa Che Guevara sangat membenci kemewahan karena gaya hidup satu orang akan mempengaruhi orang lain. Begitu juga keresahan yang terjadi sekarang di Korea Selatan, PSY saja mengkritik daerah gang nam yang cenderung berkehidupan mewah tanpa memandang kondisi rakyat yang tidak mampu. Jangankan mereka, kita saja sudah gerah dan merasa di hati kecil, ketika bermewahan pastinya ini jauh dari kata “sederhana” di mata kita.

Bersyukur itu, Indah dan mudah

Apalagi yang mesti kita cari, okay kita sudah punya uang banyak atau pekerjaan yang baik, apa perlu semua hal yang menjadi kemauan kita harus kita turuti? padahal sederhana itu cukup. Ya, pada intinya bersyukur. Memaksimalkan dan menggunakan yang ada, lalu dimanfaatkan sebaik mungkin. Masih bisa terus? ya, kita usahakan untuk selalu menggunakan apapun fasilitas yang Allah berikan, dengan penuh kesungguhan menggunakannya dengan baik. Karena ketidakbersyukuran dan tidak itu, terletak perbedaannya sangatlah tipis. Ini, tentang kemauan dan gengsi-an. Gunakan sesuatu untuk yang lebih bermanfaat bagi semua orang itu lebih baik bukan, bahkan untuk kita sendiri dimasa depan.

Kata Tung Desem Waringin : “Orang Indonesia, gaji 1  juta perbulan saja sudah bermewah-mewah…, mindset orang kaya adalah, mengeluarkan sesedikit mungkin, dan menghasilkan sebanyak mungkin”

Advertisements

Author: Tirta A

an Enthusiast learner | Setiap detik hidup adalah pemaknaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s