Aku, masih.

Setiap memori meluapkan cinta dan emosi

lelah, begitu kau selalu ucapkan dalam keluh dan kesah.

Tak malu?, dirimu bagaikan debu namun selalu saja menderu dan menggebu soal ketidakpuasan.

Masih ingat? Tentang bagaimana kita dulu melihat langit lalu mengatakan:

“doa kita, akan bertemu dilangit disaat malaikat dan tuhan bersepakat.”

Lalu kenapa kau masih begitu tak sabar, akan sebuah momentum yang telah menjadi kuorum

antara tuhan dan cinta dari-Nya?

Sungguh, aku sedang berusaha memantaskan.

Hingga akhirnya waktu yang menentukan apakah kita akan bertemu dalam satu garis,

atau hanya sekedar cerita dalam hiasan sebelum tidur?

Kau tahu, bahwa aku, Masih.

Beijing, 13 Desember 2017

09.41

Advertisements

Author: Tirta A

an Enthusiast learner | Setiap detik hidup adalah pemaknaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s