Beruntunglah

Beruntunglah,
bagi orang-orang yang masih merasakan dunia dan isinya lalu bisa mengenalnya
Kita tak pernah tahu bahwa,
lisan, adalah perangkai dunia yang akan bisa menjadi pedang, menjadikan perkataan adalah cerminan.
Pengelihatan, akan menjadi persepsi.
Sikap, akan menjadi sebuah monumen yang bernama jati diri.

Beruntunglah,
bahwa Tuhan, tak melepaskan kita ke hutan belantara bernama kebodohan tanpa indera.
Tapi ternyata, rasa dan cinta adalah sebuah anugerah yang lebih mendominasi untuk menjadi pengarti dari sebuah kata makna.
Hancurlah kebodohan dari makna yang sudah selesai, telah diresapi oleh rasa dan dicermin oleh indera.

Dunia dan manusia,
rukunlah berdampingan, menuju keabadian.
Beruntunglah,
yang menjaga “pemberian” untuk dipersembahkan kepada maha kasih. Bukan, untuk dimiliki tanpa belas kasih.
Syair-ku, tak lepas dari Sang Maha, karena semua isi rasa-ku, ada pada-Nya.
Beruntunglah.

Beijing, Ruang Kelas 15.45

Aku, masih.

Setiap memori meluapkan cinta dan emosi

lelah, begitu kau selalu ucapkan dalam keluh dan kesah.

Tak malu?, dirimu bagaikan debu namun selalu saja menderu dan menggebu soal ketidakpuasan.

Masih ingat? Tentang bagaimana kita dulu melihat langit lalu mengatakan:

“doa kita, akan bertemu dilangit disaat malaikat dan tuhan bersepakat.”

Lalu kenapa kau masih begitu tak sabar, akan sebuah momentum yang telah menjadi kuorum

antara tuhan dan cinta dari-Nya?

Sungguh, aku sedang berusaha memantaskan.

Hingga akhirnya waktu yang menentukan apakah kita akan bertemu dalam satu garis,

atau hanya sekedar cerita dalam hiasan sebelum tidur?

Kau tahu, bahwa aku, Masih.

Beijing, 13 Desember 2017

09.41