Kenapa Kuliah di Tiongkok (China) #Bagian2

Kata Imam Syafii tentang merantau:

“Anak panah tidak akan mengenai sasaran, jika tidak melejit dari busur panahnya”.

Kata-kata ini  menjadi sebuah trigger  bagi saya bahwa hidup bukan tentang nyaman dan hidup saja. Tapi, tentang  mencari arti dari hidup dan justru dapat kita temukan ketika sedang merantau dan jauh dari kampung halaman. Merantau, adalah tentang belajar menemukan, bukan hilang arah dari sebuah pencarian. Ya, pencarian diri.

Setelah kurang lebih 2 tahun hidup dan belajar di China (Tiongkok), tak terbayangkan bahwa saya merasa masih belum bisa “menyamai” mereka. Dalam hal produktivitas, efektivitas dan effort (berusaha). Satu hal yang masih perlu saya pelajari adalah bangsa ini sangat bangga akan kenegaraan dirinya. Mereka mau berusaha semaksimal mungkin untuk diri mereka. Walaupun, orientasinya masih jauh sekali dari kata dan nilai-nilai ketuhanan. Namun, sebagai inti dan personality mereka tentang hidup bernegara adalah mereka yang mau berusaha untuk kemakmuran diri, keluarga dan akhirnya masyarakat sampai satu Negara, walaupun dimulai dari masing-masing dan masing-masing menjalani perjalanannya. Tidak nyaman dengan keadaan!

Setelah tulisan saya tentang kenapa kuliah di china (bagian 1), kali ini saya akan membahas nya lebih random dan lebih mengalir yang ada didalam benak saya. Satu hal yang menarik dari kehidupan akademik dikampus saya adalah tentang bedanya hidup dan tinggal disuatu Negara untuk belajar (bukan di tanah air). Bangun dipagi hari, lalu ke lab untuk melakukan aktifitas penelitian sampai siang atau bahkan malam. Diselingi dengan makan dan sholat, rutinitas ini selalu menghiasi hari-hari saya setiap weekdays. Disamping itu, kita selalu terpacu disetiap harinya ketika bertemu dengan teman-teman lain di satu lab. Dan itu, membuat saya perlu belajar (lagi)!Ya, pada intinya dalam hal kehidupan akademis China merupakan satu Negara yang sangat kondusif untuk menjadi pilihan tempat belajar. Kondisi pemerintahan, keuangan dan keamanan Negara yang “mapan”, menjadikan salah satu Negara yang cukup aman dan tentu saja hukumnya pun pasti sangat ditegakkan. Artinya, China merupakan satu Negara berkesan!.Bukan berarti, pergi ke China untuk melanjutkan studi, telah berubah menjadi orang yang mempromosikan China dan pada akhirnya membanggakan China. Saya katakan di awal, jika baik akan saya katakan baik, jika tidak ya tidak. Terbukti, stereotype orang Indonesia terhadap China masih bisa dikatakan kental dikarenakan akar sejarah dan tentu konspirasi dari pihak tak bertanggung jawab. Tapi berhenti sampai disini, pada intinya China adalah suatu Negara yang disegani dunia dan tentu dengan telah dijadikannya China sebagai salah satu Negara dewan kesatuan keamanan PBB, posisinya dalam hal politik tidak dapat diremehkan. Ini, bukan soal dimana kita belajar, tapi apa yang kita pelajari.

Tak banyak bicara, China melalui banyak start up dan perusahaan teknologi telah menjadikan China sebagai salah satu Negara yang menginvestasikan dananya untuk kebutuhan riset dan pengembangan teknologi yang cukup banyak. Dikutip dari sumber bahwa China mengalami perkembangan yang sangat pesat dalam hal AI setelah US dan Canada. Ini, menjadikan saya banyak belajar ketika China menjadi pilihan saya untuk belajar CS dan tentu tidak hanya ilmunya tapi juga budaya baiknya untuk terus belajar dan berinovasi. Pemerintah, seperti halnya yang terjadi di Senzhen, banyak memberikan wadah bagi anak-anak muda China untuk berinovasi dalam hal apapun. Seperti teknologi informasi, teknik perkayu-an dst. dan lagi-lagi ini menjadi bahan belajar saya.

Beijing, saya beruntung Alhamdulillah bisa kuliah di ibukota. Beijing, adalah kota penting Tiongkok yang pada akhirnya semua event yang berkaitan dengan politik dan acara lain yang begitu besar seperti olahraga, conferences ilmiah membuat saya sering mengikuti perkembangannya secara Cuma-Cuma!. Ditambah lagi, kota yang dijuluki sebagai smartcity di China selain shanghai dan kota lainnya juga menjadikan saya banyak belajar. Seperti, kartu transportasi dalam genggaman yang bisa digunakan untuk bertransportasi macam-macam public transport. Begitu juga wechat dengan segala kegunaannya eg. Transaksi online dengan sistem barcode, ini telah menjadikan peredaran uang secara fisik sudah tidak lagi lazim digunakan, memesan taxi dari wechat, mengisi pulsa dsb. Ada istilah, “your mobile phone it’s your life” ternyata benar. Bahwa membawa handphone adalah hal yang wajib!

berkuliah di China, mendapat kesempatan untuk bisa ikut PPI! ya, Persatuan Pelajar Indonesia atau bahasa inggrisnya Overseas Indonesia Students Association Alliance (OISAA). Tak terbayang bukan, selain berkuliah kita bisa berteman dengan seluruh orang Indonesia yang sedang kuliah di seluruh dunia dan kita bisa bersinergi dan berteman dengan orang-orang yang memiliki semangat yang sama untuk belajar bagi diri sendiri yang tentu menjadi efek ketika niatnya adalah untuk Indonesia!. pada tahun 2017 ini, saya tergabung dengan PPI di Departemen Pendidikan dan Pengembangan Organisasi. Bertemu dengan PPI Dunia, PPI negara-negara lain dan berbagi informasi serta semangat!. Ini, seru!

Bung Karno bilang:

Gantungkan cita-citamu setinggi langit, jika kau terjatuh engkau akan terjatuh di antara bintang-bintang.

So, let’s do it! Mendapat kesempatan kuliah di luar negeri, juga memberikan saya banyak teman dari China khususnya dan juga dari berbagai penjuru dunia. Ya, saya banyak mengenal teman dari berbagai negara tidak hanya didalam kampus, tapi dari pertemuan-pertemuan santai, pertemuan ilmiah. Teman yang saya temui tersebut memberikan saya banyak sudut pandang berbeda tentang memahami aspek kehidupan yang selama ini mungkin menjadi hal paradoks bagi kita sendiri dan juga banyak orang ketika tidak dalam “satu meja”. Indahnya saling menghargai ketika mereka tahu saya muslim dan saling berbagi informasi dalam hal menarik seputar toleransi, politik kekuasaan atau bahkan kehidupan pribadi membuat kita mengerti, bahwa hidup kita di dunia ini tidak sendirian. Kita harus berdampingan!. Tentu, menjadi umat muslim bukanlah hal yang mudah dan juga bukan hal yang sulit. Rasulullah saw sudah contohkan! yap, Bismillah.

Banyak hal yang sebenarnya belum saya “potret” dari kehidupan saya dalam studi di China selama ini. Namun, rasa syukur tak terkira kepada Allah SWT yang akhirnya membawa saya pada tahap dimana “kamu harus menemukan dirimu”.

selanjutnya… (bersambung)

Advertisements

Author: Tirta A

an Enthusiast learner | Setiap detik hidup adalah pemaknaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s