Mengaku-ngaku!

Terdengar hebat, memang. Ketika seorang warga biasa pergi bulak balik luar negeri layaknya seperti ke luar kota saja. Yang saya rasakan tak lagi deg deg kan bahkan terasa seperti pergi sebentar untuk naik bus atau pesawat antar pulau di Indonesia. Setiap memasuki bandara, semakin terbiasa, tapi terkadang juga sadar bahwa “ini mau ke luar Negara lho, mau pergi dari tanah air!”. Jauh dari rumah, jauh dari kampung halaman. Setelah sudah puluhan kali bulak-balik bandara internasional, Alhamdulillah ini menjadi kebiasaan. Namun terkadang manusia suka lupa akan bersyukur, yang akhirnya mendekat tipis menuju kesombongan.

Suatu ketika di bandara transit Malaysia (10 September 2017), saya melihat orang yang usianya tak jauh dari saya yang berada didepan saya, kita ketika itu sedang naik subway untuk transit dari satu terminal airport ke terminal yang lain untuk melanjutkan penerbangan. Kelihatannya dia sangat takut hingga menangis, dan sepertinya bukan karena mau naik pesawat, tapi karena mau abroad yang hendak ke Beijing.  Isak tangisnya, memberikan hawa yang berbeda di satu gerbong kereta tersebut. Hingga akhirnya, ada petugas menenangkan. Duh, dalam hati saya bergumam kenapa bisa sampai segitunya ya.

Sudah waktunya boarding pass dan saya memasuki pesawat dengan mendahului melangkah kaki kanan sambil berucap bismillah, saya terbesit dan teringat akan kecilnya dan sombongnya saya dikala merasa sudah bulak balik naik pesawat dan merasa tidak lagi berdebar rasanya karena pesawat sudah berteknologi canggih. Disamping itu, saya juga teringat dengan seorang wanita yang tadi menangis sebelum menaiki pesawat karena alas an yang saya tidak tahu persis. Saking worried nya akan keselamatan. Padahal, ga ada yang jamin keselamatan dan kelangsungan hiduo kita selain Allah. Harusnya, hati kita selalu berdebar akan kuasa Allah didepan mata.

Seperti biasa, manusia. Merasa punya ini itu, merasa punya apalah semuanya. Bisa pergi ke luar negeri, bisa punya mobil, bisa punya rumah bagus. Namun sayang, kita semua adalah orang-orang yang mengaku punya saja. Semua jabatan dan rasa kepemilikan yang berlebihan sehingga menjadi sesak di dada.

Kebanggaan itu semua adalah “palsu” dan menjadikan diri kita penuh rasa kesombongan atas apa yang kita punya. Tak takut apa?!? , jika ditengah jalan rasa kebanggan itu semua terhenti dengan dicabutnya nyawa kita.

Merasa semua ini, adalah hal yang kita hasilkan sendiri. Well, go to the hell deh buat yang ngerasa gitu! Ayo jangan mengaku-ngaku!  Ya, ternyata kita terlalu merasa hebat dan akhirnya mengaku-ngaku hebat.

Sepertinya, kita harus berbenah diri akan kebanggaan apapun yang telah menempel pada diri kita. Berusaha menjadi orang yang rendah diri dan berfokus pada menemukan diri. Belajar dari rasa syukur bahwa semua ini adalah milik Sang Maha Ada.

Janganlah, sok-sok-an mengaku-ngaku!

Autokritik.

Advertisements

Author: Tirta A

an Enthusiast learner | Setiap detik hidup adalah pemaknaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s