Bandara, Tangga, Daun

Bandara
Bandara, adalah pertemuan antara langit dan daratan yang membentang jauh. Bisa dikatakan antara kampung halaman, antara perantauan. Terkadang mata memandang jauh dari luar rumah, ataupun dari berbagai tempat yang begitu jauh dari pandangan mata para penghuni tanah air. Aku rindukan bandara atas nama semua bandara dunia, untuk ku sambangi. Lalu, bandara selanjutnya adalah pertemuan antara kehidupan dan kematian. Lalu, kupijakkan negeri baru bernama negeri akhirat.

Tangga
Tangga, Selalu saja kumerasa lelah untuk melangkah keatas ketika menaiki “tangga”. Ketika tangga sudah kupijakkan dari anak tangga pertama hingga seterusnya, aku merasa mudah atas apa yang sudah dipijak, namun tak lama kembali jenuh dan merasa lelah. Namun, untuk turun kembali ke bawah, sangatlah mudah bahkan tak perlu energi sedikitpun. Tangga, dan anak tangga, sudikah kau terus kunaikkan dengan membantuku atas optimisnya rasa ingin menaiki, bukan menuruni.

Daun
Daun, tak pernah lelah dirimu jatuh karena angin. Kau terombang-ambing oleh keangkuhan dan ke-jumawa-annya. Namun, aku belajar dari mu sehelai daun. Kau begitu ikhlas menjalani hidup dan mengikuti “alur” kehendak-Nya. Hingga, kau kembali dihidupkan pada kehidupan yang lain. Berdzikir terus dirimu atas nama Tuhan yang menciptakan.

Advertisements

Kenapa Kuliah di Tiongkok (China) #Bagian2

Kata Imam Syafii tentang merantau:

“Anak panah tidak akan mengenai sasaran, jika tidak melejit dari busur panahnya”.

Kata-kata ini  menjadi sebuah trigger  bagi saya bahwa hidup bukan tentang nyaman dan hidup saja. Tapi, tentang  mencari arti dari hidup dan justru dapat kita temukan ketika sedang merantau dan jauh dari kampung halaman. Merantau, adalah tentang belajar menemukan, bukan hilang arah dari sebuah pencarian. Ya, pencarian diri.

Setelah kurang lebih 2 tahun hidup dan belajar di China (Tiongkok), tak terbayangkan bahwa saya merasa masih belum bisa “menyamai” mereka. Dalam hal produktivitas, efektivitas dan effort (berusaha). Satu hal yang masih perlu saya pelajari adalah bangsa ini sangat bangga akan kenegaraan dirinya. Mereka mau berusaha semaksimal mungkin untuk diri mereka. Walaupun, orientasinya masih jauh sekali dari kata dan nilai-nilai ketuhanan. Namun, sebagai inti dan personality mereka tentang hidup bernegara adalah mereka yang mau berusaha untuk kemakmuran diri, keluarga dan akhirnya masyarakat sampai satu Negara, walaupun dimulai dari masing-masing dan masing-masing menjalani perjalanannya. Tidak nyaman dengan keadaan!

Setelah tulisan saya tentang kenapa kuliah di china (bagian 1), kali ini saya akan membahas nya lebih random dan lebih mengalir yang ada didalam benak saya. Satu hal yang menarik dari kehidupan akademik dikampus saya adalah tentang bedanya hidup dan tinggal disuatu Negara untuk belajar (bukan di tanah air). Bangun dipagi hari, lalu ke lab untuk melakukan aktifitas penelitian sampai siang atau bahkan malam. Diselingi dengan makan dan sholat, rutinitas ini selalu menghiasi hari-hari saya setiap weekdays. Disamping itu, kita selalu terpacu disetiap harinya ketika bertemu dengan teman-teman lain di satu lab. Dan itu, membuat saya perlu belajar (lagi)!Ya, pada intinya dalam hal kehidupan akademis China merupakan satu Negara yang sangat kondusif untuk menjadi pilihan tempat belajar. Kondisi pemerintahan, keuangan dan keamanan Negara yang “mapan”, menjadikan salah satu Negara yang cukup aman dan tentu saja hukumnya pun pasti sangat ditegakkan. Artinya, China merupakan satu Negara berkesan!.Bukan berarti, pergi ke China untuk melanjutkan studi, telah berubah menjadi orang yang mempromosikan China dan pada akhirnya membanggakan China. Saya katakan di awal, jika baik akan saya katakan baik, jika tidak ya tidak. Terbukti, stereotype orang Indonesia terhadap China masih bisa dikatakan kental dikarenakan akar sejarah dan tentu konspirasi dari pihak tak bertanggung jawab. Tapi berhenti sampai disini, pada intinya China adalah suatu Negara yang disegani dunia dan tentu dengan telah dijadikannya China sebagai salah satu Negara dewan kesatuan keamanan PBB, posisinya dalam hal politik tidak dapat diremehkan. Ini, bukan soal dimana kita belajar, tapi apa yang kita pelajari.

Tak banyak bicara, China melalui banyak start up dan perusahaan teknologi telah menjadikan China sebagai salah satu Negara yang menginvestasikan dananya untuk kebutuhan riset dan pengembangan teknologi yang cukup banyak. Dikutip dari sumber bahwa China mengalami perkembangan yang sangat pesat dalam hal AI setelah US dan Canada. Ini, menjadikan saya banyak belajar ketika China menjadi pilihan saya untuk belajar CS dan tentu tidak hanya ilmunya tapi juga budaya baiknya untuk terus belajar dan berinovasi. Pemerintah, seperti halnya yang terjadi di Senzhen, banyak memberikan wadah bagi anak-anak muda China untuk berinovasi dalam hal apapun. Seperti teknologi informasi, teknik perkayu-an dst. dan lagi-lagi ini menjadi bahan belajar saya.

Beijing, saya beruntung Alhamdulillah bisa kuliah di ibukota. Beijing, adalah kota penting Tiongkok yang pada akhirnya semua event yang berkaitan dengan politik dan acara lain yang begitu besar seperti olahraga, conferences ilmiah membuat saya sering mengikuti perkembangannya secara Cuma-Cuma!. Ditambah lagi, kota yang dijuluki sebagai smartcity di China selain shanghai dan kota lainnya juga menjadikan saya banyak belajar. Seperti, kartu transportasi dalam genggaman yang bisa digunakan untuk bertransportasi macam-macam public transport. Begitu juga wechat dengan segala kegunaannya eg. Transaksi online dengan sistem barcode, ini telah menjadikan peredaran uang secara fisik sudah tidak lagi lazim digunakan, memesan taxi dari wechat, mengisi pulsa dsb. Ada istilah, “your mobile phone it’s your life” ternyata benar. Bahwa membawa handphone adalah hal yang wajib!

berkuliah di China, mendapat kesempatan untuk bisa ikut PPI! ya, Persatuan Pelajar Indonesia atau bahasa inggrisnya Overseas Indonesia Students Association Alliance (OISAA). Tak terbayang bukan, selain berkuliah kita bisa berteman dengan seluruh orang Indonesia yang sedang kuliah di seluruh dunia dan kita bisa bersinergi dan berteman dengan orang-orang yang memiliki semangat yang sama untuk belajar bagi diri sendiri yang tentu menjadi efek ketika niatnya adalah untuk Indonesia!. pada tahun 2017 ini, saya tergabung dengan PPI di Departemen Pendidikan dan Pengembangan Organisasi. Bertemu dengan PPI Dunia, PPI negara-negara lain dan berbagi informasi serta semangat!. Ini, seru!

Bung Karno bilang:

Gantungkan cita-citamu setinggi langit, jika kau terjatuh engkau akan terjatuh di antara bintang-bintang.

So, let’s do it! Mendapat kesempatan kuliah di luar negeri, juga memberikan saya banyak teman dari China khususnya dan juga dari berbagai penjuru dunia. Ya, saya banyak mengenal teman dari berbagai negara tidak hanya didalam kampus, tapi dari pertemuan-pertemuan santai, pertemuan ilmiah. Teman yang saya temui tersebut memberikan saya banyak sudut pandang berbeda tentang memahami aspek kehidupan yang selama ini mungkin menjadi hal paradoks bagi kita sendiri dan juga banyak orang ketika tidak dalam “satu meja”. Indahnya saling menghargai ketika mereka tahu saya muslim dan saling berbagi informasi dalam hal menarik seputar toleransi, politik kekuasaan atau bahkan kehidupan pribadi membuat kita mengerti, bahwa hidup kita di dunia ini tidak sendirian. Kita harus berdampingan!. Tentu, menjadi umat muslim bukanlah hal yang mudah dan juga bukan hal yang sulit. Rasulullah saw sudah contohkan! yap, Bismillah.

Banyak hal yang sebenarnya belum saya “potret” dari kehidupan saya dalam studi di China selama ini. Namun, rasa syukur tak terkira kepada Allah SWT yang akhirnya membawa saya pada tahap dimana “kamu harus menemukan dirimu”.

selanjutnya… (bersambung)

Mengaku-ngaku!

Terdengar hebat, memang. Ketika seorang warga biasa pergi bulak balik luar negeri layaknya seperti ke luar kota saja. Yang saya rasakan tak lagi deg deg kan bahkan terasa seperti pergi sebentar untuk naik bus atau pesawat antar pulau di Indonesia. Setiap memasuki bandara, semakin terbiasa, tapi terkadang juga sadar bahwa “ini mau ke luar Negara lho, mau pergi dari tanah air!”. Jauh dari rumah, jauh dari kampung halaman. Setelah sudah puluhan kali bulak-balik bandara internasional, Alhamdulillah ini menjadi kebiasaan. Namun terkadang manusia suka lupa akan bersyukur, yang akhirnya mendekat tipis menuju kesombongan.

Suatu ketika di bandara transit Malaysia (10 September 2017), saya melihat orang yang usianya tak jauh dari saya yang berada didepan saya, kita ketika itu sedang naik subway untuk transit dari satu terminal airport ke terminal yang lain untuk melanjutkan penerbangan. Kelihatannya dia sangat takut hingga menangis, dan sepertinya bukan karena mau naik pesawat, tapi karena mau abroad yang hendak ke Beijing.  Isak tangisnya, memberikan hawa yang berbeda di satu gerbong kereta tersebut. Hingga akhirnya, ada petugas menenangkan. Duh, dalam hati saya bergumam kenapa bisa sampai segitunya ya.

Sudah waktunya boarding pass dan saya memasuki pesawat dengan mendahului melangkah kaki kanan sambil berucap bismillah, saya terbesit dan teringat akan kecilnya dan sombongnya saya dikala merasa sudah bulak balik naik pesawat dan merasa tidak lagi berdebar rasanya karena pesawat sudah berteknologi canggih. Disamping itu, saya juga teringat dengan seorang wanita yang tadi menangis sebelum menaiki pesawat karena alas an yang saya tidak tahu persis. Saking worried nya akan keselamatan. Padahal, ga ada yang jamin keselamatan dan kelangsungan hiduo kita selain Allah. Harusnya, hati kita selalu berdebar akan kuasa Allah didepan mata.

Seperti biasa, manusia. Merasa punya ini itu, merasa punya apalah semuanya. Bisa pergi ke luar negeri, bisa punya mobil, bisa punya rumah bagus. Namun sayang, kita semua adalah orang-orang yang mengaku punya saja. Semua jabatan dan rasa kepemilikan yang berlebihan sehingga menjadi sesak di dada.

Kebanggaan itu semua adalah “palsu” dan menjadikan diri kita penuh rasa kesombongan atas apa yang kita punya. Tak takut apa?!? , jika ditengah jalan rasa kebanggan itu semua terhenti dengan dicabutnya nyawa kita.

Merasa semua ini, adalah hal yang kita hasilkan sendiri. Well, go to the hell deh buat yang ngerasa gitu! Ayo jangan mengaku-ngaku!  Ya, ternyata kita terlalu merasa hebat dan akhirnya mengaku-ngaku hebat.

Sepertinya, kita harus berbenah diri akan kebanggaan apapun yang telah menempel pada diri kita. Berusaha menjadi orang yang rendah diri dan berfokus pada menemukan diri. Belajar dari rasa syukur bahwa semua ini adalah milik Sang Maha Ada.

Janganlah, sok-sok-an mengaku-ngaku!

Autokritik.