Tentang Revolusi #2

Kebiasaan dan Rasa Malas

Kata Tan Malaka, yang paling baik dalam strategi bertahan dalam sebuah peperangan adalah melakukan penyerangan. Rasa malas dan kebiasaan adalah “musuh” terbesar seorang pembelajar. Bagi kita yang ingin melakukan perubahan diri dan punya rasa resah akan keadaan. Tak bisa kita biarkan “musuh” itu menjadi nyata. Dan nyatanya, kebiasaanlah yang membentuk diri kita. Jika kita malas, maka kemalasan itu akan menjadi kebiasaan dan menjadi budaya yang telah ter-setting  dalam diri kita yang akhirnya akan menjadi budaya. Budaya malas dan kebiasaan itu mau terus ada didalam diri kita? tidak bukan. Maka baik-baiklah dalam melakukan penyerangan dan bertahanlah dengan segala serangan “musuh” itu. Mari menyerang tanpa ampun!

 

Sosial Media, Rasa-rasanya Kita Tak Pernah Game Over dalam Memainkannya

Saya termasuk orang yang juga tak bisa lepas dari sosial media. Mungkin, juga bagi kalian para generasi muda hari ini. Whatsapp, BB, Telegram, Instagram, Twitter dsb selalu menjadi “mainan” kita setiap harinya yang tanpa kita sadari telah mengambil banyak waktu, energi, tenaga dan lainnya. Coba deh, kalau sosial media tak kita gunakan dengan bijak misalnya untuk berbisnis dan mengkoneksikan teman satu sama lain, hal apa yang sering kita lakukan?. Kalau saya berfikir, oh ya ternyata kita hanya sering menggunakan ini semua hanya untuk ingin tahu urusan orang lain, setuju ga?. Ini memang tidak sepenuhnya salah. Yang salah, ketika sosial media selalu menang dalam proses revolusi diri. Ya, dia mengambil porsi waktu yang lebih banyak setiap harinya dibanding aktifitas lain yang bisa kita lakukan. Rasa-rasanya, kita tak pernah tamat/game over dalam “memainkan” sosial media.

 

Revolusi Untuk Diri Tak Bisa Instan

Rasanya, kita tak mungkin terus menggunakan kata REVOLUSI jika hal-hal yang kita inginkan dari Revolusi diri ini hanya sebatas retorika, bukan bagian dari hal yang kita pupuk setiap hari. Untuk menjadi seorang revolusioner, sebut saja Gandhi di India, atau Che di Kuba atau Bung Karno di Indonesia mencontohkan mereka saja kita masih jauh sekali. Atau tokoh-tokoh hebat dinegeri ini. Tapi, cukuplah kita mengagumi mereka dengan menjadi teladan saja. Setelah mempelajari mereka yang bisa kita jadikan contoh tokoh, kita coba mulai dari hal kecil tentang ini semua dari sekarang. Ya, kita mulai dengan berbuat untuk mencapai sebuah kata revolusi. Takaran ukurannya? kamu terus merasa haus akan ilmu! bahkan, hingga mati.

 

Lebih Baik Sedang Berjalan, Dari Pada Diam Lalu Mati

Ya, kalimat ini maksudnya kita usahakan mati dalam medan juang. Bukan mati dalam keadaan diam di tempat. Setidaknya, dalam hal perjuangan revolusi diri kita sedang dalam kata kerja. Toh, kalau kita mati, kita sedang dalam proses. Balik lagi ke salah satu contoh tentang Fenomena sosial media, apakah hal ini menjadi salah satu hal besar yang akan menghambat, atau menjadi tempat kita untuk diam dan lama di posisi yang sama. Ya, saya bukannya mempersoalkan sosial media, bahkan dibesar-besarkan. Bayangkan saja, dan mari kita itung-itung-an. Jika 1 hari kita bangun tidur pegang hp untuk lihat socmed, mau makan lihat socmed, mau belajar atau bahkan sedang belajar harus pegang hp dan lihat socmed, ditempat kerja, kuliah atau bahkan sedang berkumpul bersama keluarga dan teman harus pegang hp dan lihat socmed? Gile lu ndro! berapa banyak yang terbuang habis waktu kita. Kalau sekali lihat hp 15 menit dikali 10x, itu sudah 150 Menit= 2,5 Jam (misalnya dalam satu hari) lalu kita x 30 hari = 75 Jam (untuk sebulan) kalau setahun? 2 tahun? dan seterusnya?

 

Ini Bukan Tentang Revolusi Diluar, Ini Tentang Diri!

Ya, pembahasan yang acak dan tak terstruktur tentang tulisan “Tentang Revolusi” ini, adalah keresahan saya atas apa yang saya alami sekaligus curhat dan melihat perkembangan didunia maya yang saya rasa, saya harus hentikan ini secepatnya minimal untuk saya dan juga pembaca. Rasa-rasanya kegundahan ini menjadi pikiran “apakah dunia sekarang sudah berubah menjadi social media?”. Untuk kita yang ingin bersilaturahmi dengan kawan saja, paradigma nya sudah berubah. Tak perlulah kita menyapa dia secara langsung, cukup lihat saja update sosial medianya, kita dapat melihat kesibukannya. Secara hubungan sosial masyarakat saja, kita sudah berubah dari kata silaturahmi, menjadi kepo-ers. Kedepan mungkin saja, kita akan menjadi manusia abad millenium yang individualistis dan jarang ingin keluar dari dunia maya yang sibuk dibalik layar. Sebutannya “Dunia dalam genggaman”. Tema yang mau saya angkat disini adalah, tentang rindynya kita tentang masa lalu. Seperti indahnya arti dari silaturahmi, diskusi dan kebiasaan membaca buku (cara terbaik dalam melakukan revolusi) kita yang mungkin dulu sudah pernah kita jalani. Ini bukan tentang copy paste materi kajian lalu menyebarkannya dengan mudah tanpa menelisik lagi kebenaran sumber dan faktanya, ini bukan (lagi) tentang pencitraan dan kritis tanpa validitas. Ini, tentang revolusi besar yang harus kita mulai. Revolusi diri yang sebenarnya!

 

Bersambung,

Advertisements

Author: Tirta A

an Enthusiast learner | Setiap detik hidup adalah pemaknaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s