Tentang Revolusi #3

Menjadi Diri Sendiri

Menjadi diri sendiri itu, sebuah kalimat sederhana namun penuh dengan segala pergulatan diri yang dahsyat. Menjadi diri sendiri, yaitu menjadi orang yang tak lagi sama seperti dulu. “Berkutat di tempat yang sama!?” .Ah, sulit, sulit banget!. Ketika seseorang seperti kita yang sadar bahwa permasalahan dan solusi atas apa yang terjadi di sekitar kita adalah diri kita sendiri ini, harusnya membuat kalimat “menjadi diri sendiri” bukanlah lagi menjadi kata-kata yang tersusun sebagai kalimat yang terdengung dan terbenak saja, tetapi menjadi kata kerja “usaha” yang menjadi nyata. Ya, sebuah usaha!

 

Hal Remeh Temeh

Baik, untuk kaitannya dengan social media. Ini tentang hal remeh yang membuat gaduh proses menjadi diri sendiri. Hal remeh temeh ini, harus kita singkirkan (sosial media users, mengurus urusan orang lain dst), menjadi peluang untuk wadah kita dalam berkarya. Kesal dan sedih, atas apa yang terjadi pada diri saya dan mungkin juga orang lain. Menghabiskan banyak waktu untuk hal yang tidak berguna (pada prinsipnya) yang seharusnya waktu itu bisa kita gunakan untuk membaca buku atau bahkan hanya sekedar mereview pelajaran. Ternyata, kita sedang dihadapkan pada kondisi dimana kita berperang melawan diri sendiri, melawan fasilitas-fasilitas teknologi atau platform lain yang membuat kita lebih banyak menemukan orang lain dari pada menemukan diri kita sendiri.

 

Jawabannya, Ada di Tangan Kita

Baiklah, segalam macam realita dan masa lalu yang menghantui, kesalahan dan kehilafan terdahulu adalah bagian dari sebuah perjalanan ini. Dengan banyaknya hal baik yang bisa kita lakukan kedepan mudah-mudahan membuat masa lalu terhapus jejaknya dan menjadi pengalaman bearti kedepan. Pada intinya,  tulisan ini yang juga adalah curahan perasaan dan pemikiran tentang fenomena sosial media, teknologi komunikasi dan menjadi “manusia online” adalah tentang revolusi sesungguhnya. Tentang revolusi yang hakiki, revolusi yang sebenarnya. Semuanya, ada ditangan kita, ada pada pilihan kita untuk memilih dan memilah apa yang akan kita lakukan sampai akhirnya waktu kita telah habis didunia. Semua ini tentang  revolusi diri dan Perubahan!. Berjuanglah para pembelajar, para pekerja ilmu!.

saya tutup tulisan ini dengan ungkapan :

“Bila kamu tak tahan lelahnya belajar, maka kamu akan menanggung perihnya kebodohan.(Imam Syafi’i)”

Selesai.

Advertisements

Tentang Revolusi #2

Kebiasaan dan Rasa Malas

Kata Tan Malaka, yang paling baik dalam strategi bertahan dalam sebuah peperangan adalah melakukan penyerangan. Rasa malas dan kebiasaan adalah “musuh” terbesar seorang pembelajar. Bagi kita yang ingin melakukan perubahan diri dan punya rasa resah akan keadaan. Tak bisa kita biarkan “musuh” itu menjadi nyata. Dan nyatanya, kebiasaanlah yang membentuk diri kita. Jika kita malas, maka kemalasan itu akan menjadi kebiasaan dan menjadi budaya yang telah ter-setting  dalam diri kita yang akhirnya akan menjadi budaya. Budaya malas dan kebiasaan itu mau terus ada didalam diri kita? tidak bukan. Maka baik-baiklah dalam melakukan penyerangan dan bertahanlah dengan segala serangan “musuh” itu. Mari menyerang tanpa ampun!

 

Sosial Media, Rasa-rasanya Kita Tak Pernah Game Over dalam Memainkannya

Saya termasuk orang yang juga tak bisa lepas dari sosial media. Mungkin, juga bagi kalian para generasi muda hari ini. Whatsapp, BB, Telegram, Instagram, Twitter dsb selalu menjadi “mainan” kita setiap harinya yang tanpa kita sadari telah mengambil banyak waktu, energi, tenaga dan lainnya. Coba deh, kalau sosial media tak kita gunakan dengan bijak misalnya untuk berbisnis dan mengkoneksikan teman satu sama lain, hal apa yang sering kita lakukan?. Kalau saya berfikir, oh ya ternyata kita hanya sering menggunakan ini semua hanya untuk ingin tahu urusan orang lain, setuju ga?. Ini memang tidak sepenuhnya salah. Yang salah, ketika sosial media selalu menang dalam proses revolusi diri. Ya, dia mengambil porsi waktu yang lebih banyak setiap harinya dibanding aktifitas lain yang bisa kita lakukan. Rasa-rasanya, kita tak pernah tamat/game over dalam “memainkan” sosial media.

 

Revolusi Untuk Diri Tak Bisa Instan

Rasanya, kita tak mungkin terus menggunakan kata REVOLUSI jika hal-hal yang kita inginkan dari Revolusi diri ini hanya sebatas retorika, bukan bagian dari hal yang kita pupuk setiap hari. Untuk menjadi seorang revolusioner, sebut saja Gandhi di India, atau Che di Kuba atau Bung Karno di Indonesia mencontohkan mereka saja kita masih jauh sekali. Atau tokoh-tokoh hebat dinegeri ini. Tapi, cukuplah kita mengagumi mereka dengan menjadi teladan saja. Setelah mempelajari mereka yang bisa kita jadikan contoh tokoh, kita coba mulai dari hal kecil tentang ini semua dari sekarang. Ya, kita mulai dengan berbuat untuk mencapai sebuah kata revolusi. Takaran ukurannya? kamu terus merasa haus akan ilmu! bahkan, hingga mati.

 

Lebih Baik Sedang Berjalan, Dari Pada Diam Lalu Mati

Ya, kalimat ini maksudnya kita usahakan mati dalam medan juang. Bukan mati dalam keadaan diam di tempat. Setidaknya, dalam hal perjuangan revolusi diri kita sedang dalam kata kerja. Toh, kalau kita mati, kita sedang dalam proses. Balik lagi ke salah satu contoh tentang Fenomena sosial media, apakah hal ini menjadi salah satu hal besar yang akan menghambat, atau menjadi tempat kita untuk diam dan lama di posisi yang sama. Ya, saya bukannya mempersoalkan sosial media, bahkan dibesar-besarkan. Bayangkan saja, dan mari kita itung-itung-an. Jika 1 hari kita bangun tidur pegang hp untuk lihat socmed, mau makan lihat socmed, mau belajar atau bahkan sedang belajar harus pegang hp dan lihat socmed, ditempat kerja, kuliah atau bahkan sedang berkumpul bersama keluarga dan teman harus pegang hp dan lihat socmed? Gile lu ndro! berapa banyak yang terbuang habis waktu kita. Kalau sekali lihat hp 15 menit dikali 10x, itu sudah 150 Menit= 2,5 Jam (misalnya dalam satu hari) lalu kita x 30 hari = 75 Jam (untuk sebulan) kalau setahun? 2 tahun? dan seterusnya?

 

Ini Bukan Tentang Revolusi Diluar, Ini Tentang Diri!

Ya, pembahasan yang acak dan tak terstruktur tentang tulisan “Tentang Revolusi” ini, adalah keresahan saya atas apa yang saya alami sekaligus curhat dan melihat perkembangan didunia maya yang saya rasa, saya harus hentikan ini secepatnya minimal untuk saya dan juga pembaca. Rasa-rasanya kegundahan ini menjadi pikiran “apakah dunia sekarang sudah berubah menjadi social media?”. Untuk kita yang ingin bersilaturahmi dengan kawan saja, paradigma nya sudah berubah. Tak perlulah kita menyapa dia secara langsung, cukup lihat saja update sosial medianya, kita dapat melihat kesibukannya. Secara hubungan sosial masyarakat saja, kita sudah berubah dari kata silaturahmi, menjadi kepo-ers. Kedepan mungkin saja, kita akan menjadi manusia abad millenium yang individualistis dan jarang ingin keluar dari dunia maya yang sibuk dibalik layar. Sebutannya “Dunia dalam genggaman”. Tema yang mau saya angkat disini adalah, tentang rindynya kita tentang masa lalu. Seperti indahnya arti dari silaturahmi, diskusi dan kebiasaan membaca buku (cara terbaik dalam melakukan revolusi) kita yang mungkin dulu sudah pernah kita jalani. Ini bukan tentang copy paste materi kajian lalu menyebarkannya dengan mudah tanpa menelisik lagi kebenaran sumber dan faktanya, ini bukan (lagi) tentang pencitraan dan kritis tanpa validitas. Ini, tentang revolusi besar yang harus kita mulai. Revolusi diri yang sebenarnya!

 

Bersambung,

Tentang Revolusi #1

Revolusi Hari ini dan Sekarang, Apa Bedanya?

Baiklah, kita mulai tentang perhelatan diri yang ilusi. Terkadang bahkan sering, rasa mengeluh itu terus menggerogoti semangat yang sebenarnya dominan didalam diri. Ilusi diri ini sementara, akibat dari rasa mengeluh yang kita biarkan menang didalam diri kita. Namun terkadang kita sering mengalah bahkan sengaja mengalah.

Lalu, mau kita biarkan rasa mengeluh itu menjadi kerak yang berujung pada seringnya dan sibuk mengurus kejelekan, kepentingan dan bahkan urusan orang lain?. Hingga akhirnya, kita menjadi orang yang hanya banyak bicara, dan parahnya lagi dapat berujung pada kebodohan.

Dulu, para pahlawan kita melawan para penjajah sebagai musuh yang jelas-jelas nyata dihadapannya. Sekarang? Kita sedang mengalami peperangan hebat tentang diri kita. Ya, kita sedang berperang dengan musuh yang tidak terlihat, musuh itu adalah diri kita. Baik, kita mulai tentang sebuah kata yang disebut Revolusi!

Revolusi ini tidak main-main, dia akan berjalan mulus seperti halnya jika pengendara mobil yang bernama “jiwa”, mampu mengendarai “mobil” tubuh kita ini untuk berjalan menuju revolusi. Bangkit melawan “zona nyaman”.

Media Sosial dan Gerakan Intelektual, Mana yang Mendominasi?

Sebagai contoh, tentang penggunaan teknologi informasi. Fenomena ber-komentar negatif, users oriented ditengah arus globalisasi dan teknologi, membuat  kita yang hanya sibuk sebagai pengguna di situs-situs media social saja setiap harinya, yang mungkin satu orang dapat mempunyai akun socmed lebih dari 5 bahkan 10!

Ini semua harus  kita sikapi dengan cara yang tidak biasa. Perlakuan dan sikap kita baik offline maupun online, baik di dunia nyata atau di dunia maya. Secara subjektif dan perspektif saya, semua itu terlalu banyak kepentingan pribadi dan jauh dari hal-hal yang menggambarkan ketidak ‘apa adanya’seseorang, selalu menghiasi timeline di platform-platform tersebut setiap harinya. ‘your social media, it is your personality images?’ . Rindu dengan text message (sms) atau phone call? atau hanya sekedar menyapa by email? me too!

Revolusi yang berujung atas nama perubahan harus kita mulai. Demi kebaikan kedepan. Media sosial, membaca buku? mana yang lebih kita pilih? Revolusi? ah, kalau begini terus rasanya masih jauh… 😦 #Refleksi

Optimis?

Bersambung,