Ramadhan, Singgah dan Menetaplah!

Ramadhan dan Pemaknaannya

Ramadhan, adalah salah satu momen yang Allah “siapkan” bagi hamba-Nya untuk ibadah puasa, mengambil sebanyak-banyaknya kesempatan pahala kebaikan yang bisa kita kumpulkan. Ajaran agama Islam, menempatkan ibadah puasa (Ramadhan) sebagai salah satu pilar penting agama yang terangkum dalam Rukun Islam. Maha kasih dan sayang-Nya Allah SWT, memberikan peluang bagi umatnya untuk lebih memperhatikan bulan ini sebagai bulan yang penuh berkah dan penuh makna. Bahkan, istimewanya Ramadhan, Allah turunkan Al-Quran Al-Karim dibulan yang penuh rahmat dan kasih sayang ini. Yang menjadi pertanyaan, kita dalam setiap tahun melewatinya, adalah makna dari Ramadhan itu sendiri. Terdengar sepele tentang arti kata dari sebuah “makna”. Namun, ternyata berbedanya seseorang menjalani ibadah, salah satunya ibadah Ramadhan adalah dari penyerapan maknanya. Semakin kita memahami maknanya, semakin berarti dan “me-ngena” ibadah Ramadhan bagi kita. Ramadhan?, ayo kita mulai memaknaninya dengan lebih!

Pesan Filosofis Ramadhan , “Berbekas atau hanya lewat?”

Tak hanya mengajarkan umat manusia untuk saling berbagi dan memperhatikan sesama manusia menyoal kebutuhan fisik seperti makan dan minum, Ramadhan adalah tentang pemaknaan filosofis yang tak hanya terbatas pada “menahan” dalam hal kebutuhan fisik seperti makan dan minum. Ada hal lain, yang ini terkadang sering dilupakan. Ya, ia adalah menahan hawa nafsu. Menahan hawa nafsu, seperti amarah, ego dan merasa memiliki dalam ke-duniawi-an haruslah terekam terus bagi kita setelah Ramadhan selesai. Ketika makna ini terus “terekam” dalam benak kita, kualitas Ramadhan kita Insha Allah semakin menaik disetiap waktunya, sehingga tujuan dari berpuasa (QS.Al-Baqarah:183) yaitu menjadi hamba yang bertaqwa dapat kita maknai sebagai wujud bukti bahwa Ramadhan kita berbekas dihati. Makna filosofisnya, Ramadhan telah menjadi “trending topic” dalam diri kita, tahun ke tahun, bulan demi bulan, hari demi hari, jam demi jam dan setiap detiknya.

 Wajah Islam, ada di pemeluknya (Refleksi Pasca Ramadhan)

Islam, atau agama manapun memiliki “wajah” yang tergambar dari para pemeluknya. Ini adalah kesan dan image.. Semua orang bisa melihat ajaran agama tertentu dari tingkah laku para umatnya. Jangan sampai kita membuat hal tidak baik untuk agama kita sendiri, amin. Aspek ini juga dapat disebut sebagai Akhlak. Ramadhan, seharusnya membuat kita memiliki Akhlak baik pasca Idul Fitri. Hilangnya nafsu syaitan yang ada dalam diri kita diharapkan terus menghilang sampai hari kiamat setelah Ramadhan. Senangnya, membayangkan seluruh umat manusia, selalu menjadikan Ramadhan sebagai bulan dan waktu-waktu yang dilaluinya. Ya, maksudnya walaupun Ramadhan sudah lewat sebagai ibadah tahunan, namun dibulan Ramadhan kita selalu merasa berada dibulan yang penuh rahmat dan hidayah itu (Ramadhan). Tentu saja, refleksinya begitu besar. Kita dapatkan seseorang menjaga hawa nafsu amarahnya, saling berbagi terhadap sesama, menjaga lisan dan inderanya dari hal-hal yang dilarang Allah SWT, serta selalu meningkatkan intensitas ibadah setiap harinya. Tanyalah kita dalam diri, Ramadhan apakah kau masih ada? Atau “kau” sudah pergi seiring dengan usainya waktu bulan Ramadhan.

Ramadhan, tak boleh kita lewatkan lagi!

Kita akan selalu berusaha menjadi hamba Allah SWT dan umat Raasulullah SAW yang baik dalam setiap harinya. Namun, kalimat ini sering kita lupakan. Ramadhan, adalah momen dimana semua atmosfer dan semesta, seraya merayakan Ramadhan sebagai momen cinta. Lebih dari itu, Allah sudah siapkan bonus bagi hamba-Nya yang mau memanfaatkan momen Ramadhan ini, hingga nanti Allah sucikan diri kita, baik fisik dan batin kita. Sayangnya, jika kita lewatkan Ramadhan dengan sia-sia dan tanpa bekas dihati. Maka,pastikan! Ramadhan tiap tahunnya selalu terukir dengan makna yang membekas hingga maut memisahkan.

Ramadhan, Indonesia dan Dunia

Mengetahuinya mudah, penerapannya butuh kerja ekstra. Bagi saya (penulis), makna Ramadhan dan hari setelahnya adalah solusi bagi persoalan yang terjadi di dunia ini. Jika Ramadhan selalu menghiasi hari kita di 11 bulan lainnya, semua persoalan bangsa dan dunia semakin hari akan semakin diselesaikan. Bagaimana tidak?, Ramadhan membuat kita dan pribadi-pribadi muslim bahkan non muslim (seluruh umat manusia) ikut merasakan manfaatnya. Sebut saja 3 masalah, seperti isu kemiskinan, perdamaian dan pendidikan karakter. Ramadhan mengajarkan kita untuk saling berbagi kepada sesama dan rasa syukur atas nikmat dan karunia Allah SWT. Ramadhan mengajarkan kita untuk saling menahan diri, menahan emosi dan amarah serta toleransi.

Ramadhan, mengajarkan kita untuk selalu jujur, disiplin dan tak berlebihan dalam kehidupan.

Semoga kita selalu menjadi hamba yang menempatkan Ramadhan bukan hal yang biasa. Ramadhan, janganlah kau hanya ”singgah”, menetaplah sehingga tiap tahunnya “kau” akan datang memenuhi hati dan jiwa kita, diri kita. Ramadhan, Marhaban ya Ramadhan.  Ramadhan, singgah dan Menetaplah!

Beijing, 27 Mei 2017

Advertisements

Author: Tirta A

an Enthusiast learner | Setiap detik hidup adalah pemaknaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s