Idul Fitri 1437 H di Beijing

Masjid Ma Dian Qiao -Beijing (20 Minutes by Bus)

Pengalaman Pertama Berpuasa

Tak terasa sudah  1 tahun lebih hidup di “negeri tirai bambu” dan tak terasa 1 bulan lamanya, saya menjalani ibadah bulan suci Ramadhan jauh dari kampung halaman. Beijing, sebuah ibukota yang indah dari negeri Tiongkok yang terkategori kan multicultural etnis, budaya dan sebagainya ini, menjadikan pengalaman saya di bulan suci Ramadhan terasa begitu berbeda dan mengesankan. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1437 H! Mohon maaf lahir dan batin!

Tantangan cuaca dan iklim

Ya, berpuasa di regional bumi Beijing, yang notabandnya berada di utara bumi, berbatasan langsung dengan Rusia dan Mongolia, Iklim Beijing memang memiliki 4 musim, sama dengan Eropa sebagian besarnya dan juga Amerika. Tak disangka, puasa Ramadhan tahun ini (2016) tepat sekali memasuki bulan ke 6 dan 7 yang berarti musim panas (summer). Dari tantangan dari fisik saja, matahari memang begitu menyengat terasa, keringnya tenggorokan terasa begitu lama dan cukup membuat saya merasa haus hihi.  Beijing, memang berbeda dengan Indonesia terutama Jakarta atas musim Kemaraunya. Jika di Jakarta, walaupun musim panas tetapi udara masih bisa saya katakan lebih fresh.Beijing? lebih terasa sesak dan tak segar kandungan oksigennya. Dari iklim, cukup memiliki tantangan tersendiri dalam berpuasa, namun inilah perjuangan!.

Area waktu dan lamanya waktu siang dibanding malam

Yohooo,ternyata sangatlah berbeda. Kamu tahu? Beijing memiliki waktu yangspecial. Di bagian bumi utara Asia. Beijing waktu malam, tidak seperti Indonesia, yang kurang lebih 10-12 jam (matahari terbenam, langit gelap).  Di Beijing, kita akan melewati malam (matahari terbenam, langit gelap) dari mulai pukul 20.00-04.15. Berarti hanya sekitar7-8 jam waktu malam. Sedangkan waktu siang, kisaran 15-16 jam setiap harinya. Otomatis, waktu saya berpuasa Ramadhan di Beijing, dengan waktu 16 jam. Dan Alhamdulillah, semua berjalan lancar!

Penjelasan Sederhana tentang Kenapa Puasa dan Tawaran Makan di Kala Berpuasa

Walau bulan Ramadhan sudah memasuki dan terus berjalan hitung mundur dari hari pertama sampai ke tigapuluh. Teman-teman dan dosen dalam satu kelas perkuliahan memang sebagian mengerti kenapa umat muslim berpuasa.  Bahkan, ada yang mengucapkan selamat berpuasa. Tapi, ternyata ada juga sebagian yang tidak tahu sama sekali dengan mereka seringkali memberikan makanan atau hanya sekadar permen diwaktu jam istirahat. Lalu, ketika saya tolak dengan sopan, saya hanya memberikan jawaban sebisa saya sesuai dengan logika mereka.  Belum sampai mengutip ayat Quran. Ketika mereka Tanya “kenapa umat muslim dalam satu bulan itu tidak boleh makan dan minum di siang hari? Itu sangatlah menyulitkan dan tentu saja sedikit menyiksa (kira-kira begitu translate omongan mereka-kurang lebih). Jawaban saya hanyalah sederhana, “ketika orang yang kamu cinta, meminta kamu melakukan sesuatu untuknya, misalnya memberikan barang yang dia suka, atau hanya sekedar membawakan bunga untuknya, apakah kamu perlu berpikir panjang melakukannya? Mereka bilang (teman yang non islam) “ya, tentu”.  Langsung jawab saya “bagaimana ketika tuhan saya, yang menciptakan saya dan dunia ini, meminta saya untuk tidak makan dan minum saja dalam 30 hari, itupun hanya di siang hari, otomatis saya akan lakukan karena cinta bukan?, ditambah lagi, dalam agama Islam, berpuasa juga berdampak pada kesehatan.” Tak banyak bicara mereka mengerti dan tentu ada jawaban dari mereka seperti ini, “kalau  begitu, boleh saya coba berpuasa? Namun tidak makan saja, kalau minum, hmm.. sepertinya saya tidak bisa karena pasti sangatlah haus. Ujar saya “yap, boleh banget!”.

Tidak ada Ketupat

Tak terasa sudah 30 hari sudah berpuasa di bulan Suci Ramadhan ini. Tak terasa pula saya melewatinya di negeri orang. Hari ini, adalah 1 syawal baru bagi saya, karena setiap 1 syawal biasanya saya ada dirumah, bermalam takbiran dengan keluarga lalu pagi sekali ketika fajar sudah mandi dan  sholat shubuh lalu siap-siap berangkat meluncurke tempat sholat Ied. Fyuhhh… Sekarang itu semua terasa berbeda, setiap sahur, sudah pasti tidak ada yang membangunkan dan tidak ada yang memasak-kan (masih bujang juga sih hehe). Ditambah lagi, ya kalau bangun. Jika cukup lelah, 2 sampai 3 kali saya pernah tidak sahur karena kelewat jadwal imsaqiyahnya (tidak patut dicontoh). Yap, satu lagi hal yang paling terasa ketika berlebaran di negeri orang, adalah kamu tidak akan menemukan ketupat dirumahmu, ya kecuali mau usaha misalnya masak sendiri (kalo bisa dan ada bahannya), usaha ke-dua datang ke KBRI (itupun kalau ada). Karena saya tidak sholat di kedutaan, tapi sholat ied di masjid yang tidak jauh dari kampus dan juga lagi ada kelas penting di hari itu namun harus izin di jam pertama (oh my god,mesti kuliah disaat lebaran!), otomatis di asrama yang ada hanyalah kue boleh beli dan beberapa stock makanan biasa.  Pada intinya sih, ketupat adalah sesuatu yang dirindukan ditambah sayur daging dan semur buatan ibu tercinta yang tidak pernah ada yang menandingi cita rasanya. Hehe. Ketupat, sampai berjumpa lagi kapan-kapan. Tetap bersyukur, pastinya 🙂

Perenungan dan pemaknaan

Sholat Bersama Saudara Sesama Muslim Takbiran dimalam hari, ketika besoknya akan sholat ied adalah di dalam masjid saja, itupun tidak menggunakan pengeras suara. Hanya didalam masjid. Pagi menjelang sekitar pukul 8, saya berangkat ke Masjid Madiangqiaoxi sekitar 20 menit naik bus dengan 5x stop dari kampus saya BUCT. Tak disangka, area masjid sudah penuh terisi bahkan sampai areal luar masjid dan lebih lagi sampai pintu gerbang masjidnya yang mungkin jamah berasal dari muslim/muslimat sekitaran masjid dan dari daerah lain. Subhanallah,inilah saudara saya sesama muslim dari negeri Tiongkok yang sedang bersama-sama bersimpuh, bersyukur menghadap Allah, dipertemukan di Bulan Ramadhan dan diakhiri dengan hari kemenangan yang fitri. Ada juga segelintir saya lihat teman-teman dari Negara lain. Ya, kebanyakan teman-teman saya dikampus yang muslim dari Negara lain, tidak sholat di masjid Tiongkok, namun sholat di kedutaannya masing-masing seperti Sudan, Libya, Pakistan dan lainnya. Tak mau lama lagi, saya langsung saja menerobosmasuk kedalam berharap ada tempat disana, dan ternyata ada 1 lelaki paruh baya yang menawarkan duduk disampingnya. Ya, saya duduk di bagian depan area ke-2 halaman masjid, padahal saya datang tidak terlalu terlambat kira-kira 15 menit sebelum mulai (mulai pukul 09 pagi).  Alhamdulillah, terasa semakin dekat dengan para muslim/muslimat dari Tiongkok, saya banyak berbicara dan bercerita dengannya tentang muslim di Tiongkok. Lebih lagi, semua muslim di Tiongkok terlihat sangat sopan dan hikmat dalam menjalankan ibadah sholat ied bersama. Di sela-sela khutbah akan berakhir, Bapak yang saya temui itu bilang bahwa “Muslim di China (Tiongkok), sama halnya dengan muslim Indonesia yang cinta damai dan saling menghargai perbedaan”. Kata-kata dari Bapak ini membuat saya ter-enyuhhampir meneteskan air mata. Ya, ditengah pergejolakan Negara muslim timur tengah, oleh konspirasi jahat pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab dengan tujuan saling mengadu domba, menginjak-injak nilai-nilai kemanusiaan, kita sebagai muslim harus terus tegar dan tidak terpancing emosi. Menjaga, dan mencerminkan terus nilai Islam yang baik, bertutur, berkata dan berbuat sesuai tuntunan Rasul Allah SAW yaitu Akhlaqulkarimahakhlaq yang baik harus terus dicerminkan bagi kita setiap insane umat Islam. Jadi, Semoga kita semua seperti itu dan ada penyelesaian secepatnya konflik yang sedang terjadi, dan itu pastinya harus dimulai dari kita sendiri. Setuju?. Dan semoga, semua muslim dan muslimat di seluruh dunia diberikan kekuatan dan istiqomah, serta lindungan Allah SWT. #prayfortheworld

Aku dan Makna Idul Fitri 1437 H

Bismillah, sejatinya idul fitri adalah bagaimana kita menjadikan diri kita menjadi pribadi baru yang tak pernah berhenti untuk bertaubat menjadi pribadi yang lebih baik. Optimis dalam berbuat dan berhikmat terus, tak putus dalam berdoa. Dan yang paling penting, dimanapun, kapanpun kita berlebaran. Hari kita tetap dekat terus, kepada Sang Maha Ilmu.  Berusaha mencetak pahala disetiap detik waktu dan menjauhi apa yang dilarang Allah adalah cara yang diberikan-Nya kepada kita untuk besyukur. Terus belajar, bekerja dan beraktifitas hari demi hari, waktu demi waktu karena kecintaan kita kepada Sang Khaliq Allah SWT. Kita berusaha dan berusaha menjadi orang yang lebih baik hingga sampai suatu ketika, Allah hentikan waktu untuk kita bangun tidur di pagi hari. Wallahu’alam. Beijing, 1 Syawal 1437 H/ 6 Juli 2016 M Tirta A

Juga di Kompasiana

 

Advertisements

Author: Tirta A

an Enthusiast learner | Setiap detik hidup adalah pemaknaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s