Kenapa Kuliah di Tiongkok (China) #Bagian1

Potret Belajar di Negeri Tirai Bambu

Tahun 2015, adalah tahun yang sangat spesial bagi saya. Kenapa? Karena nikmat-Nya yang begitu banyak diberikan, kini ditambahkan lagi, satu nikmat yang tidak mampu dibalas selain ucapan dan aktualisasi syukur kepada Allah SWT. Nikmat itu tak lain adalah, saya diberikan kesempatan untuk berkuliah (belajar) tidak di bumi pertiwi. Sebuah negeri yang bernama China (Tiongkok) atau dikenal dengan “Negeri Tirai Bambu”.

Alhamdulillah, beasiswa ini bernama “Chinese Government Scholarship atau yang dikenal dengan CSC, Program Studi Computer Science and Technology, Beijing University of Chemical Technology.  Sebelum saya berangkat kesini, banyak dari kita yang punya ekspektasi awal tentang bagaimana negeri ini, sebagai contoh; Tiongkok adalah Negara Komunis.Negeri yang terkenal dengan teknologi nya yang menguasai pasar di Indonesia (salah satunya) seperti di pusat kota Jakarta (glodok) atau negeri dengan segudang pengusaha dan pedagang Tionghoa. Atau negeri yang penduduknya banyak mengkonsumsi daging b*bi, atau negeri yang terkenal dengan panda dan barongsainya serta, ekspektasi dan “dugaan” hal lainnya.

Singkat cerita, setelah saya menginjakkan kaki pertama kalinya, Tiongkok adalah negeri yang indah (tertib, bersih, teratur). Beijing International Airport saja, pada tahun 2014-2015 dinomatkan sebagai Bandara terbaik ke-2 di dunia (baca di Information Table di Airport). Udaranya juga, yang cukup sejuk karena letak geografisnya yang berada di utara bumi, berbatasan dengan Mongolia, Rusia dan Negara-negara lainnya.

Beijing, Kota yang sekaligus Ibukota Tiongkok juga merupakan kota yang terletak di utara Tiongkok. Jalan raya nya yang begitu lebar (4 jalur), banyaknya pejalan kaki dan pengguna transportasi public, sampai kesan pertama cepatnya mereka berbicara dalam bahasa mandarin.

Potret pertama yang saya temukan adalah, banyak penduduk Tiongkok terutama para pekerja kasar, supir taksi contohnya  tidak mampu berbahasa Inggris barang sedikit. Awal tiba di Beijing, saya begitu kebingungan untuk minta diantarkan ke kampus yang alamatnya berbahasa Inggris, hingga akhirnya saya minta tolong beberapa dosen di kampus saya untuk dimintakan berbicara dengan supir taksinya.  Setelah sampai dikampus, saya hanya mengucapkan “Xie xie” (modal utama untuk pergi ke luar negeri adalah bagaimana mengucapkan terima kasih bahasa mereka) kepada supir taksi dan senyum seadanya.  Tarif  taksi yang kira-kira dengan kecepatan rata-rata nya 60 Km/jam dalam waktu 45 menit, sebesar 64 Yuan (mata uang Tiongkok) yang kalau dirupiahkan 120 ribu rupiah (1 yuan=2100/Agustus 2015). Ya, saya merasa Tiongkok adalah sebuah Negara dengan bahasa yang paling tersulit di dunia. Dan ternyata itu benar. Dosen saya, yang pertama kali mengajarkan bahasa mandarin, mengatakan bahwa bahasa mandarin adalah bahasa tersulit di dunia dengan karakter hampir 5000 karakter (hanzi) dan 4 tones (nada). Beliau saja bilang, banyak penduduk Tiongkok sendiri salah mengucapkan ketika berbicara atau menulis. Hal ini membuat saya juga merasa ter-Enyuh (bahasa gaulnya ngeluh). But “I Will Try!”. Sesampai di kampus (BUCT) sebagai kampus negeri “211 Project Best Campus in China”, dengan 11.000 Mahasiswa dan lebih dari 400 lebih mahasiswa International, kampus ini memiliki 3 Kampus terpisah dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Kampus saya, Kampus 1 terletak di tengah kota, Hepingxiqiao Bei San Huan Dong Lu nama jalannya. Kampus ini cukup megah terdapat fasilitas seperti perpustakaan 6 lantai, fasilitas olahraga yang lengkap seperti lapangan sepak bola, basket, tenis, bulutangkis, gym dsb., lalu tentu saja ruang kelas dengan papan tulis kapur (kenapa harus kapur? Nanti saya ceritakan), lalu laboratorium yang cukup baik, gedung-gedung lainnya yang saya sendiri belum cukup tahu fungsinya, taman-taman untuk belajar atau hanya untuk duduk-duduk saja, Café Tea atau Cofee, lalu pusat kesehatan, pusat karier dan beasiswa, pusat penelitian, pusat kegiatan mahasiswa, ruang aula dan auditorium dan sebagainya. Lalu, yang terpenting terdapat kantin dengan 2 jenis. Kantin pertama untuk mahasiswa biasa, kantin kedua adalah kantin untuk mahasiswa atau warga kampus yang muslim (Kantin HALAL: Qing Zhen). Sayapun terheran!, Negara seperti Tiongkok dan kampus yang terbilang warganya mayoritas non-muslim, menyiapkan kantin untuk warga kampusnya yang muslim. Ya Allah, ini nikmat lagi yang diberikan oleh-Nya. Ternyata, mereka begitu menghargai bahwa kita adalah umat muslim. Alhamdulillah.

Potret ke-dua yang saya temukan adalah, banyak mahasiswa mampu berbahasa Inggris walaupun S1, di semester 4 mereka diwajibkan untuk dapat berbahasa Inggris. Artinya, mahasiswa berbeda dengan lapisan masyarakat yang lainnya untuk berbahasa Inggris (potret satu tadi). Jadi kami yang sedang galau dengan bahasa mandarin, bisa saling belajar

Potret ketiga, para mahasiswa memiliki banyak hobi dan kebisaan diluar dari major (jurusannya). Seperti Kungfu, pengobatan khas Tiongkok atau kegiatan diluar perkuliahan lainnya. Artinya, mereka juga aktif berkegiatan diluar jam perkuliahan. Seperti music atau lainnya yang berhubungan dengan kegiatan kemahasiswaan. Kalau dikita, mungkin BEM atau UKM nya.

Potret ke-empat, para mahasiswa juga banyak yang menghabiskan waktunya di perpustakaan. Karena perpustakaan juga salah satu tempat favorit saya karena sangat tenang dan nyaman. Perpustakaan disini cukup nyaman dan bagus. Di buka, dari jam 8 pagi dan ditutup sampai jam 11 malam. Di perpustakaan juga kita dapat menemukan banyak para mahasiswa yang saling berdiskusi di meja kotak, para mahasiswa yang hanya sekedar wifi atau mencari literature bacaan dan membaca serta, para pegawai perpustakaan yang ramah dan tanggap.

Potret ke-lima, adalah mengenai kuatnya akar budaya bangsa Tiongkok. Kita semua tahu, bahwa Tiongkok mempunyai kalender Lunar (kalender tahunan) yang berbeda dengan bangsa lainnya di dunia. Sebagai contoh, Hari militer dan hari kebudayaan lainnya, memiliki akar nilai yang sangat melekat pada masyarkatnya. Terutama para mahasiswa. Pemerintah, memiliki “cara” yang sangat jitu dalam menanamkan nilai-nilai kebudayaan luhur mereka terhadap kebudayaannya. Warna merah yang terdapat pada bendera Tiongkok juga melambangkan keberentungan dan keberanian, sangat melekat pada jati diri mereka. Hampir disetiap toko, jalan, sekolah, kampus, kita akan menemukan sesuatu yang berwarna merah. Entah itu, pakaian,  lukisan, origami dsb. Bayangkan juga, para mahasiswa Internasional disini, diberikan kelas kebudayaan Tiongkok (Chinese Culture Class) 1 minggu 1x. Dan, mereka sangat senang jika banyak diantara kita yang serius mau belajar.

Potret ke-enam, mengenai bahasa mandarin. Menurut data dari Unesco pada 10 tahun terakhir, bahwa bahasa mandarin adalah bahasa yang paling banyak digunakan diseluruh dunia, walau bahasa Inggris adalah bahasa Internasional, bahasa mandarin berada ditempat pertama. Bisa dibayangkan juga sih ya, penduduk Tiongkok adalah yang terbanyak didunia, dengan total populasi lebih dari 1 M lebih. Menurut saya, secara pribadi belajar bahasa mandarin memiliki kesan tersendiri. Seperti banyak orang di Indonesia yang menirukan Engkoh-engkoh berbahasa Indonesia dengan gaya mandarin (contoh: “elu olang”-cadel dikit-dikit gitu) ternyata ga ditemukan disini. Kita terlalu lebay mengesankannya sepertinya ya hehe. Bahasa mandarin, seperti halnya bahasa lainnya, punya metode pengajaran sama seperti bahasa Inggris (Speaking, Listening, Reading, Writing dsb.) dan punya standarisasi kelulusan dan tingkatan (kalau di Bahasa Inggris seperti TOEFL/IELTS) kalau di Tiongkok disebut dengan HSK. Ya, seru juga!

Potret ke-tujuh adalah, masalah kehidupan di masyarakat. Saya melihat di televisi dan kehidupan keseharian masyarakat bahwa mereka sangat menghormati orang tua mereka terutama Ibu. Berbagai macam dan seringnya program televisi dan film yang mengangkat tema keluarga, terutama ibu sebagai sosok yang wajib dihormati dan dihargai serta disayangi. Ketika saya berjalan ditaman-taman kota, banyak juga para anak-anak kecil yang terlihat begitu menyayangi dan “patuh” terhadap orang tuanya. Ini, patut dicontoh banget.

Potret ke-delapan adalah, transportasi public yang sangat mudah dan cepat. Pemerintah sangat konsen terhadap “pelayanan masyarakat”. Disini, kita tidak akan menemukan jalan yang banyak pengendara motornya. Ya, di Tiongkok khususnya di Beijing, menggunakan sepeda motor adalah hal yang illegal. Jadi, kamu mau tidak mau harus naik sepeda motor elektronik, sepeda (bisa disewa), subway (kereta bawah tanah), bus (angkot) dan semuanya itu menggunakan 1 kartu, yang disebut public transportation card. Kemacetan disini juga ada, namun mampu diurai dengan cepat. Karena ruas jalan yang begitu lebar dan terdiri dari 4 jalur. 2 jalur ditengah untuk kendaraan cepat 2 jalur pinggir (kiri dan kanan) untuk melambat. Kita iri juga untuk ada di Indonesia. Hehe

Potret ke-sembilan adalah, kita kembali ke suasana di kampus, dosen dan mahasiswa mempunyai hubungan yang sangat dekat. Bahkan kita sering ditanyakan kabar seperti “Bagaimana kesehatanmu” atau hanya sekedar “sudah makan atau belum?”. Mereka juga sering menanyakan apakah sudah mengerti ketika sedang dalam perkuliahan mesti kita sudah bertanya berkali-kali walau sudah masuk jam istirahat atau habisnya jam perkuliahan, mereka (dosen) mau meluangkan waktunya lebih untuk mahasiswanya. Menyambung soal kenapa mesti pakai kapur dan papan tulis hitam? Menurut mereka, dan sayapun ingat dengan pelajaran tentang “Pengolahan Citra” yang membahas tentang spectrum kekuatan warna, bahwa mata kita akan cepat lelah ketika melihat papan tulis berwarna putih dan tulisan berwarna gelap. Dibanding, papan tulis gelap dengan tulisan yang berwarna terang seperti putih.

Potret ke-sepuluh, tentang umat muslim yang ada di Tiongkok. Ya, tulisan saya sebelumnya tentang “Rindu Suara Adzan” membahas sedikit tentang umat muslim di Tiongkok. Ternyata, cukup sering saya temukan para mahasiswi yang menggunakan hijab dikampusterutama ketika waktu makan siang di kantin muslim. Mahasiswa-mahasiswa dari Negara lain seperti Pakistan, Arab Saudi, Uzbekistan, Rusia dsb. yang muslim pun disini memiliki persaudaraan muslim yang cukup baik. Intinya, mencari masjid dan teman muslim di Tiongkok tidak sesulit yang kita bayangkan di awal. Bahkan di Tiongkok, kita akan mudah mendapatkan makanan-makanan yang berlabel halal seperti roti, susu, snack atau daging halal sekalipun. Dan juga, beberapa restoran halal yang disertifikasi khusus oleh pemerintah, cukup mudah untuk kita temukan walaupun tidak terlalu banyak. Ternyata banyak saudara kita dalam Iman! 🙂

Potret ke-sebelas, adalah ketika ada Film yang dibuat oleh Tiongkok seperti Kungfu Panda 3, Ipman 3 yang cukup mendunia, kita dapat menontonnya lebih dahulu disini. Dan tentu saja dengan harga tiket yang cukup lumayan, yaitu 50 yuan atau setara dengan 100 ribu. Industri film di Tiongkok juga dapat dikatakan maju, karena banyaknya akademi khusus dan universitas yang konsen terhadap perfilman di negaranya.

Potret ke-duabelas, dalam kehidupan keseharian, saya mengira bahwa Tiongkok adalah negeri yang tidak aman karena berbagai factor “sangkaan dan isu”. Ternyata, justru kebalikan dari ekpektasi di awal. Terutama para student in abroad, kami disini sangat dijaga terutama soal keamanan diri. Setiap hari, para mahasiswa yang keluar masuk asrama harus tepat waktu jika keluar dan masuk asrama (demi keamanan), dan berkelahi adalah sesuatu yang sangat dilarang dan melanggar hukum yang cukup berat. Asrama Mahasiswa dibuka dari jam 6 pagi, dan ditutup sampai jam 11 malam. Ditambah lagi, para warga kampus yang sangat ramah terhadap para mahasiswa Internasional yang sedang berkuliah atau hanya sekedar untuk saling mengobrol.

Dari semua potret yang saya tangkap ini, tentu saja masih banyak kekurangan dan kehilafan. Tapi, seperti Imam Syafii katakan: “Anak panah yang hanya diam dibusur tanpa melesat, ia tidak akan mengenai sasaran”. Lalu, pesan Ir. Soekarno 1968 “Belajarlah kamu kemanapun, kalau perlu tinggalkan Indonesia dan setelah selesai kembalikah ke pangkuan ibu pertiwi” dan hadits nabi yang sangat popular “ Tuntutlah Ilmu walau sampai ke negeri China” membuat saya semangat untuk terus belajar kemanapun, kepada siapapun dan dimanapun. Bahkan, Filosof Yunani, Socrates yang pertama kalinya mendifinisikan apa itu fungsi akal sebelum ia meninggal mengatakan “Bahwa saya tahu, bahwa saya tidak tahu” adalah semangat saya untuk belajar, semangat untuk menjadi manusia yang lebih baik, apalagi, belajar di negeri Tiongkok, di negeri dengan ekonomi terkuat didunia yang penduduknya punya ciri unik dan mengesankan, saya sangatlah bersyukur kepada Allah SWT. Kita di ciptakan oleh-Nya untuk saling mengenal dan memahami bukan? (QS. Al-Hujarat). Mari berbicara dan membicarakan seuatu atas nama kemanusiaan dan mencerminkan nilai-nilai Islam yang sesungguhnya, yang indah dan ber-Akhlaq. Kita sampaikan bahwa Islam dan khususnya warga Indonesia adalah penduduknya yang semangat, yang ramah dan murah senyum ini, mendapat tempat yang baik dihati mereka-mereka, saudara kita dalam kemanusiaan. Ayo belajar! “Because I am Indonesian”.

Sampai jumpa di cerita saya selanjutnya, karena ini baru sebagian kecil potret yang saya tangkap. Semoga yang membaca  mendapat hikmah dari setiap tulisan yang saya tulis dengan penuh perenungan ini. Mohon doanya dan tentu saja kita saling mendoakan agar kita mampu menjadi manusia yang lebih baik disetiap detiknya, karena perubahan dimulai dari diri sendiri.
http://www.kompasiana.com/tirta.anhari/potret-belajar-di-negeri-tirai-bambu_56ba0743a3afbdd315592d29

(bersambung)

Advertisements

Author: Tirta A

an Enthusiast learner | Setiap detik hidup adalah pemaknaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s