Open Mind On The Global Community, Strategi dan Eksistensi Ikatan Menuju Komunitas ASEAN 2015 | 70 Tahun Indonesia Merdeka

Usia Hari Kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 1945 sampai tahun 2015 ini, menandakan suatu “pertanda” yang begitu penting bagi bangsa Indonesia. Usia merdeka Indonesia, berkaitan dengan persepsi dan kenyataan kata “merdeka” baik dalam bingkai konsepsi atau realitas keadaan bangsa dan negara ini. Selama perjalanannya, Indonesia memiliki berbagai catatan sejarah yang begitu ragam, terutama dalam aspek kepemimpinan yang mengantarkan Indonesia menginjakkan kaki di usia ke-70 tahun ini. Banyak orang berkata “Kapal perahu yang berlayar dilaut, tergantung dari siapa yang menjadi nahkodanya”. Hal ini meniscaya bahwa suatu keadaan tempat, wilayah, suku, bangsa dan negara tergantung siapakah pemimpinnya.

Kata merdeka dalam kamus bahasa Indonesia diartikan sebagai “bebas dari penghambaan, penjajahan” yang artinya sesuai dengan kata-kata salah satu arsitek bangsa Indonesia Ir. Sukarno dalam buku otobiografinya yang berjudul “Penyambung Lidah Rakyat” tergambar dalam konsep tri sakti, bahwa merdeka adalah “BERDIRI DI KAKI SENDIRI”. [1] kemerdekaan, menjadi sebuah jalan didirikannya sebuah bangsa dalam perikehidupan peradaban manusia untuk mencapai suatu keadilan. Dalam pembukaan UUD 1945, Indonesia sudah berkomitmen, menyatakan diri “penjajahan diatas dunia harus dihapuskan”. Tak terkecuali, semua aspeknya. Berarti, Kemerdekaan adalah sebuah jalan, sebuah jembatan (Ir.Sukarno).

Kata kemerdekaan dan kepemimpinan, berkaitan erat dengan pembahasan sumber daya manusia Indonesia yang dapat merubah keadaan bangsa dan negara. Penulis mengibaratkan Kepemimpinan itu seperti suatu chip robot yang dapat memrogram jalannya robot dalam melaksanakan tugas, yang jika tidak ada maka robot hanya sekedar besi-besi dan kabel terakit. Dan, kemerdekaan ibarat sebuah jalan atau path (baca: jalur)  robot yang harus dibuat terbuka, tidak terhalang oleh suatu hal apapun sehingga robot dapat “bebas” tak terhalang dalam menjalankan tugasnya. Walau, analogi ini dirasa kurang begitu pantas. Namun, ini menunjukkan bahwa Indonesia harus memiliki pemimpin dalam kepemimpinannya untuk mengantarkan Indonesia kedepan pintu gerbang kemerdekaan yang bertujuan mewujudkan Pancasila secara nyata, bukan retoris.

Kita ketahui bersama pada tanggal 31 Desember 2015 yang akan datang, Association of Southeast Asian Nations atau ASEAN sebagai organisasi regional geopolitik dan ekonomi di Asia Tenggara akan mulai memberlakukan sebuah komunitas yang disebut dengan ASEAN Community 2015 sesuai dengan kesepakatan yang ditandatangani di Pnom Penh, Kamboja pada tahun 2013 lalu. [2] ASEAN yang merupakan organisasi regional terbaik di dunia, mengambil langkah yang luar biasa dengan adanya keputusan Masyarakat Ekonomi ASEAN tersebut. Keadaan yang dicanangkan tahun ini, menunjukkan bahwa Indonesia tak bisa lari dan terlepas dari masalah  serta peluang baru.Menanggapi hal diatas, kita dapat bertanya pada diri sendiri siapa yang menjadi aktor dan siapa yang menjadi “pasar” bebas global komunitas ASEAN 2015 desember mendatang? Apakah kita akan menjadi aktor atau penonton?.

Generasi muda Indonesia adalah sebuah jawaban dari kegalauan kondisi. Generasi muda yang bergelar pemuda apalagi gerakan mahasiswa merupakan sebuah jalan menuju cita-cita. Era globalisasi yang tanpa peran pemuda secara “pemuda berfikir” bukan “pemuda usia” adalah tonggaknya. Seringkali Ir. Sukarno dalam pidatonya menyinggung pemuda untuk melakukan suatu perubahan. Sejarahpun telah membuktikan bahwa “pemikiran pemuda”lah yang dapat melakukan perubahan. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) adalah bagian dari itu semua. IMM tak bisa lagi berdiam diri dan terlalu sering melibatkan diri dalam kegiatan dan hal-hal yang politis serta formalitas. Apalagi, kita ketahui bersama bahwa IMM merupakan pewaris sah Muhammadiyah, dimana Muhammadiyah sudah terbukti sejarah telah menggoreskan tinta emasnya dalam perjalanan bangsa ini sehingga, IMM menuntut sejarah dan sejarah menuntut IMM untuk terus tampil dalam gerakan mahasiswa yang bukan sekedar gerakan mahasiswa, tapi gerakan mahasiswa yang sekaligus berdakwah, bukan sambil berdakwah.

Firman Allah SWT :

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.”

{QS.An-Nahl 16:43}

Ungkapan Socrates sebelum dia meninggal: “yang saya tahu dalam hidup saya, bahwa saya tidak tahu apa-apa” seharusnya membuat kita tersadar bahwa hidup ini adalah belajar, perikehidupan ini adalah pembelajaran. Seandainya, setiap diri-diri generasi muda Indonesia terus berusaha untuk belajar dan tentu saja dibarengi dengan berbuat (berlomba dalam kebaikan) gerakan sebuah ikatan tidak akan kehilangan arah, tidak akan disorientation. KH. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah berawal dari sebuah niat yang suci untuk melakukan perubahan yang berorientasi melakukan “pemurnian” dari hal yang menyimpang dalam dari aspek agama, politik, pendidikan, budaya dan lain sebagainya. Maka dari itu, kader ikatan tentu saja harus mengembalikan niatnya dalam melakukan gerakan seperti founding fathers kita itu. “karena segala sesuatu, tergantung daripada niat” (Al-Hadits).

Melihat lagi 70 tahun Indonesia merdeka, idealnya Indonesia seharusnya sudah siap mengambil langkah pasti dengan meningkatkan Kesadaran berfikir melalui pemerintah dan rakyatnya. Tentu saja ini bukan pekerjaan mudah, yang dapat direalisasi dalam satu atau dua dekade. Kesadaran berfikir elemen hidup negara (sumber daya manusia) dalam suatu negara adalah proses berkesinambungan dalam perikehidupan. Tanpa adanya kebersatuan dan kesamaan visi, tidak akan dapat terealisasi sebuah cita yang dimulai dari cara berfikir bangsanya. Seperti kata Noreegaa dalam seri film “The Arrivals” tentang konspirasi zionis dalam menguasai dunia adalah melakukan “mind control” yang menjadi titik inti penyerangan idelogis mereka. Apakah kita tersadar bahwa mereka sudah memulainya sejak lama?. Maka, bagaimana mindset kita terus terjaga dan istiqomah serta terjaga dari konsisten akan tujuan didirikannya ikatan. Ditambah lagi dengan keadaan Indonesia yang akan memasuki komunitas ASEAN, yang notebandnya negara-negara ASEAN tidak bisa diremehkan, harus ada sebuah persiapan yang dahsyat.

Generasi mahasiswa yang didasari dengan cahaya iman dan tekad kuat dalam ber-Muhammadiyah menjadi tonggak semangat gerakan ikatan untuk terus berusaha bangkit, berusaha menjadi teladan dalam bermasyarakat. Ketika sebuah gerakan tidak dibarengi dengan niat suci untuk melakukan perubahan, maka jangan pernah berharap akan ada perubahan. Niat suci dan usaha untuk melakukan pembelajaran dalam kegiatan ber-IMM harus dibarengi dengan adanya kesepahaman sesama, tak lagi mengedepankan ego dan kepentingan pribadi, apalagi terhanyut dalam konflik internal yang berujung pada melemahnya eksistensi ikatan. Kesadaran berfikir itulah yang menjadi dasar bahwa kita harus menjaga diri kita dan terus memberikan nutrisi kepada ruh manusia kita untuk terus mendominasi, bukan menjadikan hawa nafsu dalam diri mendominasi. Hal ini kita kembalikan kepada 5 pilar Islam berkemajuan yaitu :

  1. Tauhid yang Murni
  2. Memahami Al-Quran dan Assunnah secara mendalam
  3. Melembagakan amal shalih yang fungsional dan solutif
  4. Berorientasi kekinian dan masa depan
  5. Bersikap toleran, moderat dan bekerja sama [3].

Cara berfikir jernih dan meningkatakan kesadaran berfikir ini haruslah continue dengan menciptakan lingkungan ikatan dan gerakan ikatan yang progresif dan memiliki ukhuwah yang baik. Budaya ber-fastabiqulkhairat terus digalakkan dalam pribadi diri kader. Peningkatan kemampuan secara hard skill dan soft skill kader terus digalakkan dengan terus melakukan pembelajaran yang rutin dan konsisiten. Melakukan pelatihan-pelatihan dan tentu saja terus bergerak maju baik secara kualitas kader secara pribadi maupun eksistensi gerakan ikatan yang mengembalikan kepada suratan dan siratan makna “trilogi IMM (Intelektualitas, Religiusitas dan Humanitas).

Potensi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah sebagai gerakan mahasiswa yang teladan begitu terbuka lebar. Harapan dan keyakinan bersama dan sejarah sudah membuktikan dan kini, sebagai generasi yang ditakdirkan hari ini menuntut bukti. Apakah eksistensi tersebut bisa dipertahankan atau tidak. Kesadaran berfikir ikatan yang kolektif yang tergambar dalam trilogi IMM menjadi sebah pengharapan besar eksistensi gerakan ditengah-tengah komunitas ASEAN 2015 yang dapat dikatakan, konsep dan implementasi harus mengkristalisasi ber-Muhammadiyah dalam tindakan dan langkah nyata [4]. Setiap pribadi kader dalam ikatan menjadi sebuah titik-titik cahaya yang jika bersatu akan menjadi cahaya besar untuk menerangi lebih terang IMM, persyarikatan, bangsa dan negara dan tentu saja untuk agama.  Komunitas ekonomi ASEAN harus dihadapi dengan penuh percaya diri dan optimisme dengan terus meningkatkan kualitas diri kader dan kualitas ikatan, kualitas gerakan untuk terus eksis secara substantif.

Kita tidak mewarisi dosa siapapun, dan tidak akan ada seorangpun yang akan mewarisi dosa-dosa kita (KH.Ahmad Dahlan)

Keadaan hari ini, terbentuk karena kita sebagai manusia yang membuatnya. Maka niat perubahan menjadi modal kita untuk melakukan perubahan dengan niat kuat. Tanpa niat yang kuat dan aksi nyata, tidak akan ada perwujudan cita. Bukan menyalahkan orang lain, apalagi menyalahkan Sang Pencipta. Semoga Allah terus memberikan kekuatan dan konsistensi niat kepada kita selaku pengemban dakwah yang terbingkai dalam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, fastabiqul Khairat.

 

Referensi :

[1] Cindy Adams, Ir Sukarno-Penyambung Lidah Rakyat

[2]http://voi.rri.co.id/voi/post/berita/76657/fokus/kesiapan_indonesia_dalam_menghadapi_komunitas_asean_2015.html

[3] Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed, 5 Pilar Islam Berkemajuan https://santoko.wordpress.com/2011/08/18/5-fondasi-islam-berkemajuan/

[4] Dr. Haedar Nashir, Kristalisasi Idelogi dan Komitmen ber-Muhammadiyah

 

Dengan tulus

T[A]

Advertisements

Author: Tirta A

an Enthusiast learner | Setiap detik hidup adalah pemaknaan

One thought on “Open Mind On The Global Community, Strategi dan Eksistensi Ikatan Menuju Komunitas ASEAN 2015 | 70 Tahun Indonesia Merdeka”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s