Mahasiswa dan Pena-nya untuk Kembalikan “Indonesia” menjadi Indonesia

Oleh : Tirta Anhari dan Tri Gondo Waris

Mahasiswa seyogyanya merupakan seorang pribadi yang memiliki nilai lebih sebagai manusia. Karena pada hakekatnya mahasiswa adalah golongan masyarakat yang memiliki pola pikir intelektual serta cermin kepribadian yang baik bagi golongan lain. Mahasiswa di kenal sebagai agen of change, yang dimaksudkan sebagai kader penerus yang pasti akan menjadi penerus dalam roda kepemimpinan bangsa yang akan datang. Tentu saja pada fase menjadi mahasiswa merupakan masa-masa “pembekalan”. Satu hal lain, mahasiswa juga sebagai social of control, seorang yang mampu menjadi ikon dalam taraf kehidupan social bangsa Indonesia untuk menjadi teladan, melakukan “pencerahan” bukan hanya menjadi elite kaum intelektual yang membuat jurang pemisah begitu lebar.

Kedigdayaan mahasiswa atau pemuda sudah dapat terlihat dimulai kala Indonesia belum memploklamirkan diri sebagai Negara yang merdeka. Tahun 1928 para pemuda Indonesia telah menyatukan visi dari bangsa Indonesia. Ya benar, Pertama “Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia”. Kedua, “Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia”. Ketiga,”Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia”. Rumusan visi yang di rumuskan berdasarkan kemauan untuk mengakhiri penjajahan. Gagasan yang lahir dari keyakinan dari lubuk hati di kala itu. Merdeka, bebas dari segala macam bentuk diskriminasi, bebas dari ketakutan yang selama 350 tahun di rasakan. Pertanyaannya adalah apakah saat ini sumpah itu masih layak di ejawantahkan?, apakah hegemoni keresahan pada saat itu masih terasa saat ini?. Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, mungkin yang perlu kita tahu, apakah Indonesia sudah merdeka?. Pernyataan soempah pemuda kala itu adalah bagian “lubuk jiwa” pemuda yang sampai hari ini kita nikmati kita rasakan dan kita gunakan. Namun, apakah Indonesia hari ini menghargai perjuangan pemuda kala itu? Mari kita renungkan.

Merdeka berarti bebas, bebas untuk maju, bebas untuk berkembang, bebas dari ketakuatan dan segala bentuk intimidasi dari para penguasa tiran (penjajah) dan merdeka akan persepsi dari doktrinasi yang membuat penjara persepsi!. Perjalanan Era pemerintahan di Indonesia telah berganti- ganti mulai dari orde lama, orde baru, reformasi, hingga sampai pada zaman demokrasi pada saat ini. Adakah perubahan yang signifikan?, dalam arti apakah kemerdekaan Indonesia telah merdeka?, mari kita renungkan kembali (lagi).

Dalam UUD 1945 alinea keempat “Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada : Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”. pada kutipan tersebut, jelas bahwa fungsi pemerintahan adalah untuk melindungi segenap bangsa Indonesia serta seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Inilah Indonesi yang sesungguhnya, ya INDONESIA. “Kita seakan-akan merayakan demokrasi, tapi seakan-akan memotong lidah orang-orang yang berani menyatakan pendapat” begitulah ungkapan Soe Hok Gie. Sudahkah Indonesia pada taraf kehidupan tersebut. Mari sekali lagi kita pikirkan kembali. Toh tentunya kita masih dapat melihat garis kemiskinan dan persoalan aspek lainnya masih dalam taraf yang bisa dikatakan tidak merdeka? Ayo runungkan (lagi).

Dari kondisi Indonesia, kita tarik kearah mahasiswa hari ini, apa yang seharusnya di lakukan oleh kita sebagai mahasiswa? Dan bagaimana ke-Indonesia-an Indonesia bisa tertanam dalam diri mahasiswa yang tertuang dalam pembukaan UUD’1945 tersebut yang dapat (mungkin) memberikan sedikit “usaha kecil” dalam usaha Indonesia untuk  mencapai cita-cita bangsa. Menjadi segelintir golongan yang memiliki tujuan perbaikan taraf kehidupan bangsa. Entah sebuah trend atau sebuah dinamika yang terjadi. Mahasiswa saat ini seperti lupa, bahkan tidak tahu akan hal yang telah terpatri dalam dirinya sebagai mahasiswa.

Berbicara mengenai perannya mahasiswa, kita mulai dari lingkungan kita sendiri, dikampus, di rumah dsb. Jika memang seorang mahasiswa telah melakukan pengembangan diri secara organic (Gramcy) maka kita bisa melihat efek dan dampak dari para sarjana muda yang terlahir ribuan bahkan ratusan ribu disetiap tahunnya. Namun, apakah hal yang bisa di lakukan kita sebagai mahasiswa selain bidang keilmuan yang di ajarkan di perkuliahan?. Intelektual yang terbangun dan terbentuk bisa dikatakan intelektual “meja perkuliahan” yang ketika lulus semuanya sibuk melakukan “penyelamatan diri” tidak meninggalkan jejak-jejak perjuangan dikampusnya. Ya, hari ini kita kehilangan keteladanan yang mampu menjadi semangat, tak perlu jauh-jauh nama “Sang Proklamator” terlihat hanya muncul ketika 17an, ketika hari-hari besarpun kita tidak melihat. Bahkan, bendera kita akan terkibar secara masal hanya ketika momentum di 17an, penanaman nilai-nilai nasionalisme semua bersifat momentum tidak kontinu disetiap harinya. Mari kita renungkan dan jawab dalam hati masing-masing (lagi).

Pengembangan diri di luar perkuliahan bisa dalam wadah organisasi, komunitas, maupun kajian diskusi. Sudahkan kita bisa bilang itu menjadi efektif?. Memang, ditambah lagi sistem kapitalisme sudah merambah didalam kampus, contohnya ruang-ruang kelas ber-AC tidak lagi bisa dipakai diatas jam 8 malam, alasannya? Karena hal-hal yang sesungguhnya tidak berprinsip. Kajian-kajian yang seharusnya hidup setelah perkuliahan tidak bisa terwujud karena fasilitas yang “dijaga” dengan “baik”. Ditambah tugas perkuliahan yang menumpuk membuat kita tidak membaca buku selain buku kuliah, mungkin juga buku kuliah jarang dibaca #eh. Kebanyakan kita habiskan waktu kita didepan segenggam barang kotak yang disitu berbagai informasi serta “dunia” ada disitu baca : telpon genggam. Sadar atau tidak mahasiswa saat ini di cetak bahkan sengaja di cetak untuk menjadi kaum pekerja. Kaum yang akan di jual dalam kerasnya dunia kapitalisme yang makin merajalela. Sistem yang terbentuk membuat kita terlena, terjatuh dan terkaprah tak berdaya diatas ketidakadilan.

Sebagai kaum yang disebut intelektual, mahasiswa hanya memiliki satu senjata. Senjata yang kecil mudah di hancurkan tapi sulit berbohong. Pena atau bahasa yang dalam keseharianya kita sebut pulpen. Apa yang dapat di lakukan mahasiswa hanya dengan pena. Tentunya bukan untuk tertidur pulas kembali. Hanya dengan sebuah pena mahasiswa pun bisa melakukan aksi. Aksi mahasiswa sebenarnya bukan hanya dengan turun kejalan, mengunjungi gedung-gedung pimpinan negara atau kerajaan-kerajaan para penguasa. Dalam konteks keilmuan pena bisa menghasilkan berbagai macam karya yang timbul dari ide-ide natural yang kita miliki. Walaupun saat ini sudah era teknologi canggih dengan penggunaan laptop dan perangkat yang lain, tapi apakah kita bisa menghilangkan peran pena dari dunia belajar?. Dengan “Pena” kita ukir gagasan-gagasan dan ide-ide brilliant yang mampu menciptakan konsep aksi yang mampu menggerakan Indonesia minimal di lingkungan kita sendiri. Dengan Pena yang berarti adalah symbol intelektual harus menjadi identitas mahasiswa yang diharapkan mampu menyelesaikan persoalan bangsa.

Sudah saatnya sebagai kaum intelektual kita mulai kembali gerakan kemerdekaan mahasiswa. Kalau di tahun 1998 para mahasiswa mampu menurunkan rezim digdayanya orde baru. Seharusnya saat ini kita mampu menendang kembali segala bentuk penjajahan yang menjadikan kita objeknya. Kalau saat 1998 itu mahasiswa turun kejalan untuk bersatu padu menyuarakan aspirasi. Tentunya mahasiswa saat ini mampu membuat aspirasinya melalui tulisan-tulisan keresahan yang timbul dari dalam hati. Tentunya mahasiswa mampu menciptakan susasan Indonesia yang benar-benar INDONESIA, yang setidaknya mampu melemahkan sistem yang bukan INDONESIA.

Tidak bisa di pungkiri mahasiswa sebagai kaum intelektual harus sadar betul akan perannya di masa yang akan datang, yang hari ini menjadikan penentu pada saat menjadi mahasiswa, nilai-nilai apakah yang ditanamkan pada dirinya. Dalam sebuah pepatah “Masih muda dapat diarahkan seperti kayu yang masih hijau, jika sudah tua maka jika diarahkan seperti kayu yang coklat yang sudah lapuk bahkan berayap”. Lalu apa yang harus di lakukan untuk menjadi seorang mahasiswa yang nantinya menjadi pemimpin yang baik? Ini sebenarnya pertanyaan yang mudah dijawab, namun praktek dan amaliyahnya perlu kekuatan dari dalam diri. Semuanya tentang kembalikan “Indonesia” menjadi Indonesia. Kembalikan jati diri Indonesia (penduduknya) sebagai seorang yang ramah, pembelajar, bergotong-royong, penyabar dan penyayang yang diimplementasikan dalam diri sehingga ke-cinta-an terhadap Indonesia merasuk dalam diri. Indonesia yang sesungguhnya adalah jati diri yang mempunyai jiwa keteladanan, kesepahaman, keberagaman dan keadilan. Menjauhkan diri dari sifat arogansi, kepentingan, egoisme, budaya kebarat-baratan dan sebagainya yang dapat menghilangkan Indonesia tak lagi INDONESIA.

Pemerintahan mahasiswa didalam kampus (student government)  harus merepresentasikan negeri Indonesia, dimana nilai-nilai ketulusan dan kejujuran, nilai-nilai dan norma agama, pancasila dan tujuan Negara tercermin dalam budaya organisasi didalam kampus. Tidak hanya menjalankan aktivitas program kerja yang rutin dilakukan, tetapi sejauh mana nilai-nilai ke-Indonesia-an bisa tertanam bagi para aktivis didalam kampus.

Berbagai kenyataan ini seakan mahasiswa sudah tamat dan mati. Ya benar seperti mayat hidup yang mencoba tetap berdiri dan menjalankan rutinitas. Haruskah kita diam? Sebagai kaum intelektual seharusnya tidak. “DIAM TERTINDAS, ATAU MAJU MELAWAN, KARENA MUNDUR ADALAH PENGKHIANATAN”.

 

BANGKITLAH KAWAN-KAWAN….

HIDUP MAHASISWA….

HIDUP KAUM INTELEKTUAL…

HIDUP RANAH BELAJAR TANPA PEMBODOHAN…

 

“Karena satu dedikasi dari kalian sangat berarti untuk perubahan UHAMKA dan Indonesia”, maka bersiaplah menjadi insane muda yang berdedikasi mengembalikan “Indonesia” hari ini menjadi Indonesia. Semoga berkat rahmat Allah akan terus menerpa negeri kita tercinta yang bernama INDONESIA…

 

-ditulis untuk bersama bangkit, bersama berdedikasi, bersama berbagi, bersama berpegangan tangan untuk perubahan Indonesia yang lebih baik.

Salam Perjuangan!

Advertisements

Author: Tirta A

an Enthusiast learner | Setiap detik hidup adalah pemaknaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s