Peran Mahasiswa dalam Pemilu 2014

sang_saka_merah_putih_by_helljjeah-d47fd06

Pemilu (Pemilihan Umum) untuk memilih wakil rakyat kembali digelar. Agenda 5 tahunan ini menjadi Momentum yang tidak bisa kita pandang sebelah mata, karena pada periode ini (2014) menjadi tahun ukiran sejarah perubahan Indonesia untuk menciptakan pemimpin-pemimpin yang atas nama rakyat untuk “mengurus” Negara. Ungkapan John Peterseon “Tidak ada yang Negara yang buruk, tapi yang ada Negara yang salah urus” memberikan sinyal pada kita, bahwa Negara harus ada yang mengurus, dan mengurusnya dengan baik.

Pada prinsipnya, Pemilu 2014 adalah melaksanakan sistem demokrasi di Indonesia yang melibatkan seluruh elemen masyarakat untuk memilih wakil rakyatnya. Namun, kenyataannya trend penurunan partisipasi yang disebut “Golput”[1] menjadi momok yang bisa dikatakan menggerus cita-cita demokrasi Indonesia. Semakin tinggi angka “Golput” akan semakin tinggi pula tingkat kepedulian masyarakat dalam pembangunan dan perubahan bangsa. Bisa dikatakan, Pemilu adalah parameter bangsa dalam menggambarkan kondisi kesadaran elemen masyarakat untuk memperbaiki keadaan yang ada saat ini. Indonesia tidak bisa berubah kearah yang lebih baik jika kepeduliannya dalam menciptakan suasana “optimis” semakin sedikit. Kompleksnya permasalahan yang terjadi di Indonesia membutuhkan kerja sama dan “duduk bersama” untuk menyelesaikan persoalan.

Akibat adanya peningkatan “Golput” dalam partisipasi Pemilu harus kita evaluasi. Angka partisipatif Pemilu misalnya dari tahun 1999 sampai 98% angka partisipatifnya, 2004 sampai 82%, 2009 sampai 72%. Melihat peraturannya yang dijadikan dalil pembenaran logika golput dalam Pemilu di Indonesia yaitu UU No 39/1999 tentang HAM Pasal 43. Selanjutnya, UU No 12/2005 tentang Pengesahan Kovenan Hak Sipil Politik yaitu di Pasal 25 dan dalam UU No 10/2008 tentang Pemilu disebutkan di Pasal 19 ayat 1 yang berbunyi: “WNI yang pada hari pemungutan suara telah berumur 17 tahun atau lebih atau sudah/pernah kawin mempunyai hak memilih. Dalam klausul tersebut kata yang tercantum adalah “hak” bukan “kewajiban”.Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 yang diamandemen pada 1999-2002, tercantum dalam Pasal 28 E: “Pemilu dilaksanakan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil setiap lima tahun sekali”. Hak memilih di sini termaktub dalam kata “bebas”. Artinya bebas digunakan atau tidak. Ini menunjukan tingkat kesadaran, pengetahuan dan kepercayaan masyarakat semakin menurun. Beberapa tahun terakhir kita mengaca kepada wakil rakyat kita yang tersandung kasus Tipikor dan kasus-kasus lain yang menghilangkan tingkat kepercayaan rakyat. Terlebih lagi parpol-parpol dan wakil rakyat yang duduk dijajaran pemerintahan mulai “kehilangan” arah dan tujuan awalnya menjadi wakil rakyat dari janji-janji dan sumpah yang diungkapkan ketika mencalonkan dan terpilih.

Faktor kependudukan dalam Pemilu memang tidak bisa kita hindari. Demografi kependudukan Indonesia menunjukan lebih dari 50% adalah pemuda yang notabandnya akan menjadi pemilih dan lebih dari 30 % adalah pemilih pemula. Menurut UU Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD dan DPRD Nomor 18, pemilih pemula adalah Warga Negara Indonesia yang telah genap berumur 17 (tujuh belas) tahun atau lebih atau sudah atau pernah kawin. Berdasar UU itu, diperkirakan bahwa pemilh pemula pada 2014 mendatang ada di kisaran 20-30 jutaan.  Ini jelas angka yang sangat besar . sementara Komposisi penduduk bisa diamati dari segi jender, golongan umur, ekonomi, dan pendidikan. Kementerian Dalam Negeri (2012) melaporkan,  49,13 persen penduduk Indonesia adalah perempuan. Artinya, perempuan adalah konsumen politik yang potensial.

Lalu dimanakah peran mahasiswa dan kaum pemuda? Mahasiswa yang menjadi kaum intelektual ditengah-tengah masyarakat sesungguhnya mempunyai peran penting dalam pembangunan bangsa dan Negara. Melakukan proses pendekatan dan penyadaran yang arif dan bijaksana sudah menjadi tanggung jawab pemuda dan mahasiswa khususnya. Dengan adanya berbagai faktor pendukung mahasiswa harus memberikan “benang merah” dalam menyelesaikan persoalan bangsa. Mahasiswa diharapkan mampu menjadi agen yang membangun optimisme dan perubahan, membangun kesepahaman untuk mengkritisi calon wakil rakyat yang akan terpilih dan melakukan pengawalan kebijakan wakil rakyat yang terpilih adalah tugas kita bersama apalagi mahasiswa. Calon-calon wakil rakyat yang berjanji dahulu ketika kampanye dan melakukan penyimpangan ketika menjabat harus kita evaluasi sejauh mana kita bersama mengawalnya. Mahasiswa yang nantinya akan menggantikan kepemimpinan, berada pada fase “persiapan” untuk nantinya menjadi kaum elite, yang dimulai dari sekarang harus bertekad mewujudkan perubahan Indonesia dengan niat yang tulus untuk membangun negeri. Ini membutuhkan proses kesadaran mahasiswa nantinnya setelah lulus mau dan ingin berusaha membuat dan mengukir sejarah untuk Indonesia yang lebih baik. Ya, mahasiswa punya kerja ekstra dalam “membentuk” dan “mengawal” calon wakil yang nantinya akan menjadi wakil rakyat sesungguhnya WAKIL RAKYAT.

Beberapa tugas mahasiswa yang terpenting dalam  Pemilu 2014 ini adalah memberikan pengetahuan kepada masyarakat, melakukan kerjasama kepada semua pihak untuk ikut serta mensosialisasikan pengetahuan, urjensi dan kesadaran tentang pemilu serta melakukan persuasi aktif untuk memilih secara jujur cerdas dan bermartabat. Tanggung jawab suksesnya Pemilu 2014 bukan hanya tanggung jawab KPU, BAWASLU dan lain-lain, ini adalah tugas kita bersama sebagai orang berpendidikan untuk terus optimis terhadap perubahan bangsa. Sumber daya alam yang banyak dan kekayaan lain kita punya tinggal mencari “pengurus” Negara yang baik, jujur dan amanah serta bertanggung jawab. “Jangan diamkan bangsamu, Ayo, Anti Golput!, karena Golput adalah tindakan pesimis dan men”diam”kan bangsamu…

Seandainya mahasiswa pesimis, apa lagi yang tersisa dari bangsa ini?

Konsepkan lalu aksikan! Kita optimis Indonesia lebih baik dengan mengubah pemuda dan mahasiswa, ya kita adalah MAHASISWA!!!

 

[1] Golput adalah gerakan protes mahasiswa yang disebut Golongan Putih untuk tidak memilih pada Pemilu 1971 (Pemilu pertama orde baru).

 

Advertisements

Author: Tirta A

an Enthusiast learner | Setiap detik hidup adalah pemaknaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s