Seharusnya Mahasiswa

(Oleh : Calon Ketua dan Wakil Ketua BEM UHAMKA 2013-2014)

Menurut Knopfemacher mahasiswa adalah merupakan insan-insan calon sarjana yang dalam keterlibatannya dengan perguruan tinggi (yang makin menyatu dengan masyarakat), dididik dan diharapkan menjadi calon-calon intelektual. Sedangkan mahasiswa dalam peraturan pemerintah RI No.30 tahun 1990 adalah peserta didik yang terdaftar dan belajar di perguruan tinggi tertentu. Menurut Sarwono (1978) mahasiswa adalah setiap orang yang secara resmi terdaftar untuk mengikuti pelajaran di perguruan tinggi dengan batas usia sekitar 18-30 tahun.

Gerakan mahasiswa atau aksi kolektif mahasiswa termasuk dalam kategori gerakan sosial karena memiliki beberapa ciri khas (Hamka, 2000), antara lain : Gerakan mahasiswa diwadahi oleh organisasi, baik yang bersifat permanen untuk menjangkau kepentingan jangka panjang maupun gerakan temporer yang berlangsung dalam jangka pendek; memiliki tujuan yang berbeda sebagai upaya untuk menyesuaikan dengan keanekaragaman organisasi; dilakukan dengan penuh kesadaran dan bukan semata-mata atas dasar ketidakpuasan dan emosi; memiliki ideologi yang bervariasi sesuai bentuk organisasi dan kondisi politik; tidak membentuk lembaga resmi seperti partai politik, namun lebih menekankan aksi-aksi kolektif yang inkonvensional untuk memujudkan tujuan gerakan; di dalam menggelar aksi protes kolektif, gerakan mahasiswa menampilkan isu yang strategis sebagai sarana untuk memobilisasi massa dan mengefektifkan aksi.

Kita ketahui bersama bahwa mahasiswa  memiliki sederet titel sosial mulai dari agent of change, agent of social control dsb. Bahkan, menurut sebagian besar masyarakat menyebut mahasiswa adalah orang yang serba bisa, serba tahu yang dianggap mampu menyelesaikan segala persoalan dengan memanfaatkan pisau analisisnya. Namun, apakah yang terjadi saat ini? Keadaan mahasiswa di mata masyarakat justru berbeda dari yang diharapkan. Mahasiswa tidak lagi merakyat dan menyatu dengan rakyat. Justru mahasiswa membuat sekat dengan merasa lebih elit dengan segudang citranya yang berjuluk intelektual muda.

Perubahan pandangan telah terjadi dikalangan mahasiswa, kesalahan padangan mahasiswa yaitu ketika mahasiswa sekarang ini ditanya tentang gerakan mahasiswa maka yang akan dijawab pertama adalah aksi atau demonstrasi, padahal gerakan mahasiswa dapat disalurkan melalui berbagai macam wadah mulai dari sudut yang fun seperti seni sampai pada sudut yang serius seperti kajian-kajian dan sesuai dengan minat dan bakat dari mahasiswa itu sendiri. Kesalahan persepsi tersebut, membuat semakin banyak mahasiswa yang beralih dari tugas utamanya sehinga terjebak dalam zona nyamannya. Apatisme, pragmatisme, hedonisme dan segala bentuk penyakit intelektual menjadi salah satu musuh dan ancaman bagi kita hari ini. Semakin banyak mahasiswa yang terlalu nyaman di ruang kelas, kamar kos ataupun rumahnya dan sibuk sendiri diluar tanpa memperdulikan kondisi lingkungan sekitar.

Melihat kondisi saat ini, mahasiswa lupa akan tugas beratnya serta kodratnya sebagai penuntut ilmu dan penyebar ilmu, meneliti dan inovasi serta mengabdi kepada masyarakat (tri dharma perguruan tinggi). Menurunnya peserta yang memilih jalan untuk aksi turun ke jalan dan sedikitnya mahasiwa yang mengikuti kajian serta diskusi tentang masalah bangsa dan rakyat merupakan salah satu indikator bahwasannya banyak sekali mahasiswa yang terjebak dalam zona nyamannya, banyak mahasiswa yang ragu dan bahkan terkesan tidak mau untuk berpanas-panasan di jalan. Padahal mahasiswa merupakan bagian dari elemen rakyat yang posisinya sangat central yang bertugas sebagai “agen” pengingat keadaan bangsa yang sebenarnya karena kemampuannya dalam membaca situasi dan kondisi, sehingga dapat membuat opini rakyat menjadi satu untuk bersama bergerak menuju perubahan dengan cerdas dan optimis.

Melemahnya pergerakan mahasiswa ini pun banyak dilatarbelakangi oleh melemahnya budaya membaca, menulis dan berdiskusi di kalangan mahasiswa yang pada akhirnya membuat kritisme pemikiran terhadap keadaan sekelilingnya pun turut melemah. Ya, lagi-lagi dengan kebudayaan mahasiswa yang dibuatnya sendiri. Perpustakaan yang kian sepi, ruangan-ruangan yang penuh dengan diskusi serta solutif mulailah menghilang. Paradigma yang berkembang sekarang ini di antara para mahasiswa adalah kuliah dan belajar lalu lulus 4 tahun lalu mendapatkan pekerjaan dan hidup tenang dengan predikat IP cumlaude. Mahasiswa saat ini bisa dibilang lebih memikirkan dirinya dan persiapan masa depannya, bukan memikirkan persiapan masa depan bangsa dan negaranya. Wajar, kalau saat ini sesama warga (rakyat) saling sikut-menyikut dijalan, budaya ramah yang kian menghilang, individualistik yang berujung pada sikap apatisme karena semuanya ingin maju dan “aman” sendiri-sendiri. Kutipan kata-kata Buya Hamka“Kalau hidup sekedar hidup babi hutanpun hidup, kalau bekerja sekedar bekerja, kerapun bekerja” tersebut, mengingatkan kepada kita bahwa harus ada perbedaan yang mendasar antara manusia dengan makhluk hidup lainnya. Ya, rasa kepedulian dan saling menghargai serta nilai kebaikan lainnya itu berangkat dari pemikiran (berfikir) dan panggilan hati (intuisi) yang harus dimiliki dalam diri manusia (Saat ini kita berbicara mahasiswa).

Berangkat dari semua persoalan dan keadaan yang terjadi, perlu adanya sesuatu yang harus dilakukan untuk berubah. Adanya lembaga KM UHAMKA yang merupakan bagian dari rakyat yang bertitel mahasiswa harus mengedepan dan berusaha, semaksimal mungkin untuk perubahan  baik yang bersinergi dan berdedikasi. Tentu saja, hal ini tidak dapat dilakukan tanpa sinergisitas dan kesamaan tujuan dari semua stake holder yang ada didalam kampus.  Tekad dan niat yang tulus untuk mengubah masalah menjadi peluang perubahan harus dioptimalkan. SDM di kampus yang begitu banyak perlu diakomodir dan disalurkan aspirasinya sesuai bidangnya masing-masing dalam pencapaian sebuah tujuan bersama.

Sekarang, tugas kita bersama adalah bagaimana rasa kekeluargaan dan saling peduli untuk meningkatkan kesadaran mahasiswa bisa timbul kembali. Sehingga mahasiswa dalam pergerakannya membawa nilai-nilai kekeluargaan, kebersamaan, niat dan tekad yang tulus, inisiatif, empati, cerdas dan optimis. Menghidupkan kembali nilai-nilai persatuan, kebudayaan dan identitas bangsa yang ramah, peduli, gotong-royong sesuai dengan falsafah bangsa yaitu Pancasila dan UUD’1945 dan berpedoman pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Maka, terbentuklah suatu kelompok mahasiswa yang sadar akan masalah dan menginginkan sebuah keadaan yang lebih baik, yang nantinya tercipta gerakan massif dikalangan mahasiswa yang ber-dedikasi dan menginspirasi untuk UHAMKA dan Indonesia yang lebih baik kedepannya, semata-mata mengharapkan keridhoan Allah SWT.

Berikan aku 1000 orang tua niscaya akanku cabut semeru dari akarnya, berikan aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia” adalah kata-kata inspiratif terkenal Ir.Soekarno. beliau sudah mewasiatkan bahwa jika ingin adanya sebuah perubahan maka perlu adanya 10 pemuda, dan maksudnya 10 pemuda adalah sekelompok pemuda yang berjuang untuk perubahan dan tentu saja pemuda disini adalah salah satu elemen rakyat yang bernama MAHASISWA.

Salam Perjuangan! Salam Kekekuargaan! #SinergiUntukDedikasi.

ketua bem uhamka
Calon Ketua dan Wakil Ketua BEM UHAMKA 2013-2014
Advertisements

Author: Tirta A

an Enthusiast learner | Setiap detik hidup adalah pemaknaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s