Kami akan Kembali | Malaysia 2013

on petronas
KLCC Petronas Tower-Malaysia

Hari ini kita berencana untuk kembali menukar uang rupiah ke ringgit di money changer di bandara (KL Sentral) karena stock ringgit yang tinggal sedikit, sekaligus keluar dari zona kampus yang luasnya agak sama UI Depok (kira2) untuk mengisi waktu luang juga mencari udara segar diluar. Kita pun berangkat dari pagi setelah melakukan aktivitas rumah tangga. Ya, hari sabtu dan minggu kenapa kita sangat enggan belajar di Lab. Lebih baik belajar sendiri di asrama dengan modal internet jebolan. Hehehe… kita pun berangkat dari asrama menuju stasiun menaiki bus kampus. Sesampai stasiun kita pun makan siang dan pagi. (makan 2x sehari) bukan tak ada uang. Tapi kesempatan dan rasa lapar kenapa hanya ingin makan 2x sehari. (alibi). Setelah itu kita menaiki stasiun menuju tengah kota dengan transportasi publik yang murah dan sangat nyaman.

KTM comuter line Malaysia namanya. Sistemnya sudah lumayan cukup canggih, system ticketing barcode dan token yang bersih dan terawat. Kita sangat senang menggunakannya. Apalagi semua masyarakat di Malaysia menggunakan transportasi publik ini sebagai transportasi pokok. Terlihat pemerintah sangat memperhatikan rakyatnya (merasa iri).

Sampailah pkl. 2 siang di Kuala Lumpur Central. Melihat sekeliling dan berjalan disekitar, kita pun ingin menonton bioskop disini, mencoba bioskop disini. Film “World War Z” menjadi pilihan. Film ini seru dan banyak pesan tersirat yang tersimpan. Pemeran utama Brad Pitt sangat piyawai dalam memainkan perannya. Inti dari film ini adalah bagaimana memproteksi diri dengan keadaan zaman yang tidak menentu. Zombie-zombi yang berkeliaran didunia, merupakan makhluk berbentuk manusia tapi tidak berkelakuan seperti manusia. Ya, maksud saya manusia yang hanya berfikir seperti binatang. Makan, tidur, cari makan, berkembang biak dan aktivitas hewani lainnya. Saya ingin bilang bahwa manusia yang hidupnya layak seperti binatang. Dialah manusia secara potensial tapi actual menjadi binatang. Mudah-mudahan kita tidak termasuk kedalam golongan manusia seperti itu. (Ceramah dikit hehe)

Berlanjut setelah itu, kita menuju ke menara dimana menjadikan icon negri jiran. Dialah yang dinamakan “Petronas Twin Towers”. Terlihat kemegahan dan arsitektur Berjaya modern. Inilah yang menggambarkan ketahanan energi nasional negri ini. Dimana support dan dukungan dari pemerintah terhadap perusahaan energi sangat baik. Terlihat menara ini kokoh layaknya kiprah negri ini tentang produknya “Petronas” yang cukup berkembang ke seluruh dunia. Saya juga melihat dominasi kendaraan mobil buatan negri sendiri seperti “Proton” dan “Kancil”. Bagaimana dengan negri kita? Masih dominasi kendaraan yang import dari luar (sepertinya).

Potretnya mungkin negri kita Indonesia masih tahap berkembang. Ya, hanya berkembang. Semoga terus bangkit wahai garuda yang masih terlelap dalam tidurnya. Kita sangat senang dan merasa cukup puas bisa sampai di icon negri jiran ini. Kita berharap dapat kembali kesini suatu saat, untuk menggapai asa dan cita. Dan di seluruh penjuru dunia.. amin..

ditulis di Kuala Lumpur, 29 Juni 2013

trt

Kumpulan Kata Malam Ini…

Kita tidak akan pernah tahu, sebelum kita melakukannya. Ingatlah satu hal, usaha yang kita lakukan akan sebanding dengan hasilnya – R

Setiap detik adalah pemaknaan, kau akan sadar dengan makna itu setelah kau lewati dan kau ingat kembali detik pemaknaan nya -T

This is actually in a dream or not?!? -N

Bangi,Selangor,D.E Malaysia

Kenapa Kuliah di Malaysia

Masih belum membongkar bagasi, meluruskan kaki sejenak. Barang-barang yang dibawa dari kota Sorong masih berada di ruang tamu. Kawan yang menjemput di bandarapun masih belum istirahat. Sementara kawan yang satu lagi, alumni Universiti Kebangsaan Malaysia datang berkunjung. Pembicaraan yang tidak terarah tiba-tiba muncul sebuah pertanyaan “kenapa kuliah di Malaysia?”. Berdua kami tiba-tiba terdiam.

Selama ini, memilih kuliah di Malaysia tanpa perdebatan panjang. Hanya karena keinginan untuk kuliah sesuai dengan bidang yang ditekuni sejak strata satu. Mengejar ilmu yang linier. Itu formalitasnya. Di luar itu, biaya yang terjangkau, dan aplikasi yang dikirim kemudian berujung pada surat penawaran untuk masuk pada pendidikan doktoral. Hanya sesederhana itu. Tidak mendapatkan alasan lebih dari itu.

Berdasarkan pengalaman menempuh pendidikan di Fakulti Pendidikan Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), meluncurlah beberapa keterangan tambahan. Daftar ini bisa saja bertambah, tergantung dari pengalaman masing-masing mahasiswa ketika menempuh pendidikan.

Pertama, perpustakaan yang buka sampai pukul 10 malam. Bahkan di waktu ujian bisa sampai pukul 12 malam. Layanan perpustakaan ini menjadi istimewa. Ketika ada buku yang diperlukan sementara tidak ada dalam koleksi perpustakaan, akan dipinjam dari perpustakaan lain di Malaysia. Kalaupun tidak ada juga, masih akan diusahakan dipinjam dari perpustakaan negara-negara persemakmuran. Fasilitas ini berkat koneksivitas antara perpustakaan dengan program inter-loan library. Setiap perpustakaan membuka diri untuk meminjamkan koleksinya kepada perpustakaan lain. Biaya pengiriman ditanggung universitas. Kalau belum ada juga, akan dibeli lansung ke penerbitnya.

Koneksi jurnal internasional juga sangat memadai. Semua jurnal yang masuk kategori utama seperti ISI, Thomson, Scopus dan Proquest, sudah disediakan. Termasuk dapat diakses di luar kampus. Untuk sebuah riset, dengan dukungan seperti ini, tidak ada lagi alasan untuk tidak berusaha memperbaiki rujukan dan dukungan analisis dari kepustakaan mutakhir.

Kedua, pembimbing yang mudah ditemui. Bahkan kadang-kadang beliau yang mencari mahasiswa yang tidak datang konsultasi memenuhi janji sebagaimana disepakati di awal semester. Setiap awal semester, pembimbing dan mahasiswa akan membuat jadwal yang disepakati dalam rangka konsultasi penelitian. Pertemuan yang dilaksanakan minimal enam belas kali sepanjang semester berjalan. Termasuk menyediakan artikel untuk jurnal dan makalah yang akan disampaikan di seminar. Jadwal yang disepakati ini termasuk dalam jadwal tugas dosen. Sehingga tidak ada alasan untuk tidak bertemu.

Ketika dosen akan berada di luar kampus pada saat jadwal yang sudah disepakati, maka akan ada pemberitahuan minimal sehari sebelumnya. Inipun akan diganti pada hari tertentu. Tidak pada hari libur. Kemudahan dan kesempatan seperti ini akan membantu mahasiswa dalam penyelesaian studi. Pertemuan dan proses bimbingan kadang pula mendapatkan bonus. Pembimbing dengan senang hati menawarkan untuk makan atau minum bersama di kantin atau restoran.

Ketiga, bantuan penelitian dan fasilitas untuk mengikuti seminar inernasional. SPP satu semester tidak sampai 5 juta rupiah. Tetapi bantuan penelitian untuk penyelesaian disertasi mencapai 10 juta. Begitu juga bantuan untuk mengikuti seminar internasional di luar negeri yang diperkenankan sekali ketika menempuh pendidikan mencapai 10 juta juga. Berarti dengan pembayaran SPP selama tiga tahun sebesar 30 juta, lebih dari separuhnya sudah dikembalikan ke mahasiswa dalam bentuk bantuan.

Belum lagi tunjangan sebagai Research Assistant (pembantu peneliti) untuk mengerjakan pengumpulan data dan analisis kepustakaan dalam penelitian yang dikerjakan pembimbing. Untuk aktivitas ini, diberikan ganjaran sebesar 1.500 ringgit. Dengan kurs 3.000 rupiah setara dengan 4.500.000 rupiah. Padahal, pekerjaaan ini hanya dilakukan dalam dua jam dalam tiga hari sepekan. Di samping berlatih meneliti, juga mendapatkan biaya hidup.

Keempat, kesempatan untuk menulis bersama dengan pembimbing di jurnal bereputasi. Untuk memenuhi standar sebagai universitas riset, maka UKM mensyaratkan penyelesaian mahasiswa untuk menulis di jurnal terkemuka yang diindex seperti Scopus. Dalam proses studi ini, mahasiswa diminta menulis dua artikel di jurnal. Untuk itu, selalu ditawarkan kegiatan workshop penulisan artikel jurnal yang dalam bahasa Melayu disebut bengkel. Aktivitas seperti ini tidak saja disediakan fakultas tetapi juga oleh perpustakaan. Termasuk, bagian Hal Ehwal Pelajar dan Pusat Pembangunan Akademik.

Latihan mempersiapkan artikel dan menulis untuk sebuah jurnal menjadi pengalaman yang penting sebagai landasan untuk menjadi seorang scholar (sarjana). Interaksi dengan ilmuwan dari pelbagai negara dan aktivitas kecendekiawanan menjadi sebuah bekal ketika saatnya sudah memasuki jenjang akademik. Lepasan pendidikan doktoral, dengan kemampuan menulis di jurnal bereputasi akan memperkaya informasi dan juga memperluas aktivitas ilmiah.

Kelima, akses yang tidak terbatas pada pengembangan kapasitas. Mahasiswa dipandangs ebagai pelanggan. Bukanlah obyek ataupun sebagai pihak yang kedua yang tidak dijadikan pertimbangan utama. Justru dengan penerimaan mahasiswa, menjadi sebuah tanda bahwa kehadiran universitas dijadikan sebagai subyek aktivitas perguruan tinggi. Itu tercermin dari spirit pelayanan yang selalu diingatkan pihak manajemen kampus. Termasuk tidak hanya mahasiswa, bahkan ketika menjadi alumni sekalipun, tetap dipantau disediakan akses untuk pengembangan kapasitas. Setiap mahasiswa dapat mengusulkan sebuah organisasi sesuai dengan minat dan latar belakang masing-masing.

Mahasiswa Indonesia mendirikan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI). Pada perkembangannya ini kemudian teriplikasi ke seluruh Malaysia sehingga menjadi Persatuan Pelajar Indonesia se-Malaysia, kehadiran PPI di universitas menjadi cabang. Ketika organisasi, seperti PPI diiktiraf dan terdaftar di Hal Ehwal Pelajar, maka fasilitas kampus dapat dipergunakan. Tentu melalui prosedur yang ada. Seperti penggunaan bis untuk kegiatan-kegiatan PPI. Mendapatkan bantuan pendanaan. Saat memangku jabatan sebagai Timbalan Presiden PPI UKM, bantuan yang diperoleh selama setahun untuk kegiatan-kegiatan PPI mencapai 10.000 ringgit. Belum termasuk bantuan komsumsi untuk kegiatan-kegiatan seperti Jamuan Makan Malam Tahunan dan juga Scientific  Conference. Syarat yang diajukan adalah setiap organisasi untuk terus terdaftar harus beraktivitas minimal tiga kegiatan setahun. Kesempatan ini digunakan PPI sampai saat ini untuk memberikan wahana berkreasi bagi mahasiswa Indonesia di UKM.

Keenam, inovasi yang berkesinambungan. Ketika waktu menunggu giliran untuk bertemu pembimbing, sengaja duduk di lantai sambil membuka laptop. Saat itu, lewat seorang professor dan menyapa kenapa duduk di lantai. Dijawab santai “menunggu pembimbing”. Setelah itu, Sang Professor mengusulkan ke fakultas untuk mengadakan bangku untuk duduk. Sehingga bagi mahasiswa yang akan menemui pembimbing di ruangan masing-masing dapat duduk dengan nyama. Termasuk meletakkan laptop di meja, selanjutnya diperlukan akses listrik yang memadai. Tidak sampai dua pekan setelah bertemu professor, bangku dan meja serta colokan listrik sudah terpasang. Sebuah aksi yang langsung tepat sasaran. Dimulai dari hanya melihat “kasus” mahasiswa yang sesungguhnya bukan kesulitan.

Ketujuh, reputasi Malaysia di tingkat antarbangsa. Mengurus visa ke Jepang di Kuala Lumpur. Jika syarat utama yaitu memiliki visa Malaysia dalam setahun terakhir, maka dengan ketentuan imigrasi Jepang di Malaysia langsung disetujui jika memenuhi semua dokumen. Begitu juga dengan visa Korea Selatan dan Australia. Berbeda pelayanan dengan mengurus visa di konsulat Jepang, kedutaan Australia dan Korea Selatan di Indonesia. Pelayanan visa bagi paspor hijau kadang menyesakkan. Selalu saja ada proses yang berlapis. Tetapi ketika mengurus visa di Kuala Lumpur, stigma ini tidak muncul. Sehingga proses visa akan lebih lancar. Dengan menggunakan negara ketiga mengurus visa, dalam hal ini Malaysia, urusan penolakan visa menjadi sangat kecil kemungkinannya jika dibandingkan dengan mengurus di tanah air.

Kedelapan, universitas yang dekat dengan masyarakat. Perpustakaan Tun Sri Lanang (PTSL) dipenuhi pengurus masjid senegeri Selangor. Mereka menghadiri Workshop Manajemen Masjid. Di saat yang lain, universitas mengadakan acara Pelatihan Persiapan Menikah di masjid kampus. Sementara untuk mengisi liburan, beberapa fakultas mengadakan bakti sosial yang sudah terjadwal di awal tahun. Saat banjir melanda Johor, setiap asrama diatur bergiliran untuk membantu masyarakat yang terkena banjir setiap hari. Ini dilakukan termasuk sampai waktu pemulihan bencana.

Kampus selalu menjadi warga terdepan untuk turut dalam nadi kehidupan masyarakat. Tetapi tidak untuk kegiatan politik. Kampus tidak mungkin mengirim relawan untuk memantau pemilu demi mewujudkan pemilu yang jujur. Setiap mahasiswa di bawah umur 21 tahun tidak diperkenankan untuk mengurusi kegiatan politik. Sesuai dengan undang-undang Universitas dan Kolej Universitas.

Alasan-alasan di atas sesugguhnya sangatlah personal. Bisa saja seseorang memilih kuliah di tempat tertentu bukan karena alasan ini. Ketika menentukan tempat kuliah, ada saja alasansemosional yang mendasari untuk memilih lokasi dan perguruan tinggi tertentu. Kuliah dimanapun dan kapanpun selalu saja berarti kebaikan. Hanya saja ketika kuliah dengan mendapatkan dukungan dan lingkungan yang membantu untuk mewujudkan mimpi-mimpi mahasiswa, akan berarti kapasitas dan keterampilan mahasiswa untuk menghadapi kehidupan seusai belajar akan lebih mudah. Ditambah dengan gaji yang memadai.

dari : Ismail Suardi Wekke, Sahabat

“Jangan Cari Berhala” | Singapore 2013

My Singapore
Marina Bay, Singapore 2013

Awalnya hanya sebuah omongan biasa di asrama kampus tempat kami melakukan penelitian. Awalnya juga hanya sebuah omongan kecil dengan ajakan “yuk-yuk ke Singapore” sekalian perpanjang visa. Ya, karea visa kami hanya tinggal 20 hari lagi. Padahal kami disini lebih dari 1 setengah bulan. Pkl. 23.30 kami departure  ke Woodsland Checkpoint – Singapura. Lebih dari tujuh jam perjalanan di kereta, yang dijadwalkan pkl. 06.30 ternyata kita baru sampai disana pkl. 09.30 dengan kondisi dingin didalam kereta membuat kami terbujur kaku layak mayat yang di awetkan (lebay). Dalam perjalanan ternyata ada sedikit masalah di pemberangkatan kereta dari arah Singapura ke Malaysia. Ini membuat kami berfikir untuk bagaimana caranya kembali ke Stasiun Woodsland dalam waktu 4 jam !!!, padahal kami harus melakukan perjalanan bulak balik tempat yang intersest  di Singapura selama 2,5 jam dari stasiun tersebut dan berdiam cukup 20 menit. Setelah memasuki kawasan Singapura kami diperiksa oleh petugas imigrasi. Apa yang terjadi? Ternyata kami ditahan!. Tapi dengan tenang dan bermuka lugu kami memasuki ruangan imigrasi. Ternyata kami disana apakah yang akan dilakukan disini dan dari mana kalian datang. Kami jawab sahaja dengan tenang dan pede. sampai ditanya bawa uang berapa lah terus nanti mau kemana setelah ini dan bla bla bla. Setelah hamper setengah jam kami di Tanya-tanya, akhirnya kami diperkenankan pergi, bahasa campur aduk inggris-melayu-jawa(Indonesia) saya lontarkan dengan bijaksana.hehe… karena kita hanya punya waktu kurang dari sehari dan dikejar tiket pulang4 jam, akhirnya nekatlah kami berangkat dari jam 9.30 dari stasiun kesana. Ya kesana, nama tempatnya Marina Bay yang dikenal orang sebagai kawasan indah di Singapura, hal ini membuat kami penasaran katanya ada masscout negeri Singa. Setelah melakukan perjalanan dengan Bus Way nya Singapura yang cukup lancar dan bebas hambatan (jalan biasa seperti jalan tol), kami cukup merasa iri dengan perjalanan yang lancar tersebut padahal menempuh jarah lebih dari 30 km. dalam waktu hampir 1,5 jam. Jalanan yang bersih dan lancar serta tertib tanpa ada pedagang-pedagang kecil hal ini membuat kami iri apakah Jakarta dapat seperti ini. Terbesit pasti bisalah!!!. Dilain sisi kami juga merasa rindu dengan suasana yang macet dan ramai. Ya, walaupun keadaan negeri sendiri seperti itu kami tetap merasa bangga dan bersyukur. Hehe

Setelah sampai disana pemandangan yang indah dan tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ternyata memang indah, subhanallah…. Kawasan kota yang berada di pinggir laut dengan arsitektur megah dari Jerman dan Singapura (baca di prasasti) membuat kami merasa ingin kembali kesini suatu saat. Saya merasa apakah yang dari tadi kita ingin lihat adalah suatu keinginan nafsu semata (berhala) atau ingin melihat ciptaan Allah lainnya yang indah?. Ternyata beda tipis kawan. Hati-hati!!!. Sebelum kami sampai ke Merlion Park dimana terdapat patung ikan berkepala singa, kami berdiskusi dan berbicara bahwa kita kesini untuk melihat kebesaran Allah, bukan melihat suatu berhala yang hanya ingin memuaskan nafsu dan penasaran semata. Astaghfirullah.. kembali kepada niat.

Sesampai disana kami cukup puas dengan pemandangan yang indah dan sedikit panas. Memperlihatkan suasana Singapura yang tertib, bersih dan dipenuhi pekerja yang super keliatan sibuk dengan kegiatan bisnisnya, memperlihatkan betapa bertanggung jawabnya pemerintah melayani rakyatnya sehingga rata-rata kedudukan ekonomi rakyat singapura sudah diatas rata-rata.  Ini satu point lagi pembelajaran bagi kita bahwa kita masih perlu belajar dari negeri orang. Walau Indonesia adalah negeri yang kaya raya yang belum terlihat “kekayaannya” itu. Begitulah potret gambaran yang saya perlihatkan kepada pembaca. Setelah kita memuaskan mata dengan pemandangan yang indah, kami langsung berangkat pergi untuk pulang. Kami berfikir apakah kami akan kembali kesitu dengan aktivitas lain seperti berkuliah atau hanya berlibur bersama keluarga. Mudah-mudahan saja, dalam hati terbesit ingin kembali tetapi perasaan pergi haji lebih mendominasi dari pada ke tempat itu. Amin…

Kami tahu ternyata tiket pulang kami sudah tidak berlaku. Kami TELAT!, lebih dari 1 jam lebih, kereta api sudah meninggalkan rel nya di Singapura ke Kuala Lumpur. Saya tidak stack untuk berfikir bagaimana caranya mengembalikan tiket yang sudah tidak berlaku menjadi berlaku lagi. Akhirnya kami menegosiasi petugas tiket dengan alas an delay dari pihak kereta karena kami sudah menjadwalkan untuk berangkat kesana kemari dan sampai tepat waktu. Tetapi karena kereta sampai ke Singapura telat 3 jam kami protes dengan santai. Dan akhirnya…. Kami BISA !!! tiket yang tadinya sudah usang dan  kami harus membayar lagi 34 DollarSingapura/orang nya ternyata tidak. Perlu diketahui bahwan 34 Ringgit tidak sama dengan 34 DollarSingapura kawan. 2,5x lipat harnganya. Inilah suatu anugerah dari Allah yang menggerakkan hati petugas tiket untuk mengurus tiket kami yang sudah tidak berlaku itu (yang beli di Kuala Lumpur) untuk di berlakukan lagi sebagai tiket pulang.. Alhamdulillah… perjalanan hampir memakan waktu 10 jam akhirnya kami sampai ke asrama kampus dengan sangat lelah dan puas. Perjalanan yang menyenangkan dan cukup menambah memori indah di kepala, menambah semangat kami untuk terus memaknai hidup dengan melihat ciptaanNya yang indah. Memaknai apa arti hidup untuk semangat dan berkarya. Bermanfaat bagi orang lain dan bersyukur atas yang diberikan Allah SWT.