Tak ada catatan.

Kenyataannya, hidup harus terus berlanjut sampai kapanpun sebisanya. Hal yang paling di ingat adalah menjadi diri sendiri di masa mendatang karena keseringan lupa dan selalu merasa ingin menjadi orang lain. Bukan merasa exhausted ketika bingung bagaimana melanjutkan hidup. Tapi memang, seseorang perlu merenung sesekali dalam melanjutkan hidupnya.

Pencapaian, selalu saja meng-komparasi dengan orang lain, hingga akhirnya  tidak berfokus pada diri sendiri. Sebuah ilusi, hingga akhirnya yang terus meredam semangat dan passion positif sebuah energi kehidupan.

Kali ini, tidak ada catatan. Yang ada, hanyalah meneriakkan dan meng-encourage kepercayaan pada diri sendiri untuk menjadi diri sendiri. Hidup kadang menyakitkan, tapi mati lebih menyakitkan tanpa berusaha untuk hidup.

if you don’t have something you’ve never had, you have to do something you’ve never done.

Juli 2018, tentang kedewasaan, berani menghadapi dunia dan moving forward. Semesta, akan mendukungmu.

Advertisements

Menyukai-Nya

Ketika kita menyukai Tuhan dan merasa penasaran dengannya, pastinya kita akan mencari tahu lebih dalam tentangnya, menceritakannya dalam setiap waktu, bahkan memikirkannya setiap saat. Rasa suka terhadap Tuhan harus kita tanamkan terus dalam keseharian kita disetiap detik. Ia, Allah adalah pihak yang paling layak untuk dicintai, dimaknai dan dipikirkan setiap saat.

Adakah hal lain yang paling indah selain ini?

PPI Tiongkok 2018

Menjadi bagian dari pergerakan mahasiswa di luar negeri, adalah suatu momentum tak pernah terbayangkan dalam hidup saya sejauh rencana berpikir dan imajinasi terbayang. Namun, setiap manusia diberikan akal yang sama untuk belajar dan berproses. Pada akhirnya, saya berada pada titik ini. Dimana, sekumpulan anak muda yang punya pemikiran berbeda namun satu tujuan, untuk bersama berkolaborasi, berkontribusi demi menciptakan inspirasi bagi Indonesia.

Sejarah akan mencatat, bukan siapa yang telah hidup nyaman. Tapi, siapa yang mau berani berbuat untuk yang lain, disaat yang lain telah nyaman dengan keadaan demi kebaikan dan kemajuan.

Indonesia, adalah sekumpulan warga bangsa yang bersatu padu untuk bangkit dan belajar sampai saatnya waktu telah tiba untuk kita kembali ke pangkuan ibu pertiwi.

PPI Tiongkok 2018-2019

Bertemu Pak Menteri

Menjadi mahasiswa Indonesia yang belajar dan merantau jauh dari kampung halaman, adalah kesempatan baik yang perlu disyukuri. Sebagai pembelajar, seharusnya dimanapun kapanpun dan kepada siapapun adalah tempat untuk belajar. Tak heran, persepsi ini menjadikan para pembelajar Indonesia berangkat ke berbagai negara untuk belajar yang tak hanya belajar ilmu spesialisasi tapi juga hal lain yang bisa ditiru.

Tak halnya juga, bagi saya yang sedang belajar tentang hal baik apapun di negeri tirai bambu. Kesempatan pelajaran yang saya dapatkan pada kali ini adalah bertemu dengan Menteri Riset dan Teknologi serta Pendidikan Tinggi, Prof. M Nasir. Ya, serasa luar biasa jika disikapinya luar biasa, begitu juga sebaliknya. Bagi saya, ini adalah keistimewaan, karena saya dapat bertatapan dan berbicara langsung dengan beliau.

Pesan yang sangat mendalam bagi saya, kata beliau “Cepat lulus dan balik ke Indonesia”, jawab saya, “siap pak!” 🙂

Rasaku, Winter 2018

Bagaimana aku tenang,
ketika hatiku tidak disini.
Bagaimana aku bisa,
ketika kekuatanku tidak disini.
Bagaimana aku hidup,
ketika nyawaku tidak disini.

Kulari, kuterjatuh, kubangkit dan kumelangkah
rasa itu selalu saja ada disisiku, disampingku, didepan dan dibelakangku, dihati juga pikiranku.
inginkah kamu, membenarkan letak kemejaku
inginkah kamu, membenarkan letak peci dan sarungku disetiap waktu sholat
inginkah kamu, satu saf dibelakangku disetiap sujudku
inginkah kamu, membuatku tersenyum dikala ku menangis
inginkah kamu, menjadi teman dunia dan akhiratku
ternyata hati, kekuatan dan nyawaku,
ada di cintamu.

aku jatuh, sejatuh jatuhnya.
Ternyata, cintaku, (bukan) aku yang jatuhkan,
Dia,
pengendali rasa yang telah menjatuhkannya padamu.
Dan kamu, ada dalam rasa itu. Doa kita, telah bertemu dilangit.
Rasaku, akan selalu di rasa.

Beijing, 22 Maret 2018
21.40

Kebersyukuran

Perbedaan Persepsi

Salah satu hal terpenting dalam mencapai kesuksesan dalam hidup adalah rasa ketenangan dan kecukupan. Semua sepakat, bukan? ya. Yang menjadi pertanyaan sejauh mana kita mendapatkan definisi ketenangan dan kecukupan dalam hidup, yang pastinya setiap diri kita memiliki pandangan dan ukuran yang berbeda. Banyak, disekitaran kita manusia yang tidak merasa cukup karena pandangannya selalu ditutupi oleh kemauan yang berlebih bahkan cenderung tidak terkontrol. Misalnya, kebutuhan-kebutuhan hidup yang sebenarnya tidak diperlukan namun selalu dicari-cari, padahal sudah lebih dari cukup. Misal, ketika kita sudah punya pakaian bagus, namun merasa bosan sehingga perlu lagi membeli yang baru. Apalagi, “serangan” media elektronik yang memudahkan dan memanjakan mata kita untuk selalu berfikir konsumtif dan mendekati kata mubazir!

Alquran Suci memaktub 

Dalam Alquran, jelas bahwa Allah berfirman “siapa yang bersyukur nikmatnya akan ditambahkan” namun sebaliknya “barang siapa yang bersyukur sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. Perbandingan antara orang yang mensyukuri nikmat dengan yang tidak (kufur) disini, sangatlah berbeda sekali. Seperti hitam dan putih, tidak ada gray area. Sehingga, kitapun menempatkan dan ditempatkan hanya pada 2 posisi tersebut. Bersyukurkah, atau tidakkah.

Kata Mereka yang “gerah”

Yang tadi, pastinya adalah contoh-contoh dari fenoman konsumtif kita yang semakin meresahkan warga dunia. Padahal salah satu alasan kenapa Che Guevara sangat membenci kemewahan karena gaya hidup satu orang akan mempengaruhi orang lain. Begitu juga keresahan yang terjadi sekarang di Korea Selatan, PSY saja mengkritik daerah gang nam yang cenderung berkehidupan mewah tanpa memandang kondisi rakyat yang tidak mampu. Jangankan mereka, kita saja sudah gerah dan merasa di hati kecil, ketika bermewahan pastinya ini jauh dari kata “sederhana” di mata kita.

Bersyukur itu, Indah dan mudah

Apalagi yang mesti kita cari, okay kita sudah punya uang banyak atau pekerjaan yang baik, apa perlu semua hal yang menjadi kemauan kita harus kita turuti? padahal sederhana itu cukup. Ya, pada intinya bersyukur. Memaksimalkan dan menggunakan yang ada, lalu dimanfaatkan sebaik mungkin. Masih bisa terus? ya, kita usahakan untuk selalu menggunakan apapun fasilitas yang Allah berikan, dengan penuh kesungguhan menggunakannya dengan baik. Karena ketidakbersyukuran dan tidak itu, terletak perbedaannya sangatlah tipis. Ini, tentang kemauan dan gengsi-an. Gunakan sesuatu untuk yang lebih bermanfaat bagi semua orang itu lebih baik bukan, bahkan untuk kita sendiri dimasa depan.

Kata Tung Desem Waringin : “Orang Indonesia, gaji 1  juta perbulan saja sudah bermewah-mewah…, mindset orang kaya adalah, mengeluarkan sesedikit mungkin, dan menghasilkan sebanyak mungkin”