Terlalu banyak

Suatu ketika aku melihat ada seorang anak kecil bersama bapaknya yang sedang mencari sampah yang bisa diolah dipinggiran jalan. Bermodalkan tongkat besi yang dibengkokkan sedikit di ujungnya si bapak mengorek-ngorek tempat sampah dan mengambil apapun yang berguna yang berserak dijalan. Lalu si anak kecil yang memakai topi yang berjalan dengan riang kesana kemari bersama sang bapak, membantu mencari barang-barang yang bisa didaur ulang. Seketika, dari kejauhan, si anak kecil itu datang menghampiriku yang sedang duduk di tempat duduk bengkel dan menanyakan “bang, apa ini udah nggak kepake? (sambil memegang beberapa botol air dan gelas plastik yang sudah kosong) disampingku. Tanpa basa basi (padahal bukan milik ku) aku katakan padanya “iya, udah nggak kepake, ambil aja ya dek”. Langsung si anak kecil itu mengambil beberapa botol dan gelas plastik itu dan berlari menuju si ayah yang memegang satu karung penuh dibadannya sambil bilang “ayah, ini aku dapet”. Tanpa berpikir panjang, ku langsung saja foto momen itu agar menjadi kenangan dalam hidupku yang takkan terlupakan agar menjadi pelajaran, bagi hidup…

ternyata,…

terlalu banyak..

manusia yang masih jujur dan tidak ingin mengemis dan menjaga kehormatannya untuk hidup. Terlalu banyak orang baik seperti anak dan bapak ini.

Disisi lain, juga masih terlalu banyak…

Orang kaya harta yang miskin hati. Terlalu banyak korupsi di tataran elit pejabat yang tak pernah memikirkan sedikitpun rakyat kecil. Terlalu banyak, hal tidak penting yang menjadi sorotan. Terlalu banyak ketidakadilan. Terlalu banyak ketidakbersyukuran. Terlalu banyak kesombongan menghiasi udara dalam atmosfer bumi Indonesia. Terlalu banyak, iblis berkedok manusia.

some day, semoga kau menjadi anak yang berbakti dan berhasil, ya nak.

Salam dari seorang warga negara yang belum bisa berbuat apa-apa.

01.04.19

Advertisements

Menghilang atau …

Dengarlah yang baik, sebelum kenikmatan mendengarmu menghilang

Lihatlah yang baik, sebelum kenikmatan melihatmu menghilang

Bertuturlah yang baik, sebelum kenikmatan berbicaramu menghilang

Berpikirlah yang baik, sebelum kenikmatan akal jalanmu menghilang

Merasalah yang baik, sebelum hati rasamu menghilang

 

Yang baik, adalah ketika kamu, kita…

tidak mau mendengar sesuatu yang tidak boleh didengar

tidak mau melihat sesuatu yang tidak boleh dilihat

tidak mau berbicara sesuatu yang tak perlu dibicarakan

tidak mau berpikir, sesuatu yang tidak boleh dipikirkan

tidak mau merasa, sesuatu yang tidak patut untuk dirasakan…

 

Indera, adalah kenikmatan yang tak setara dengan rupiah atau dolar

Hanya kepada kebenaran, semua itu di-kiblat-kan

Hanya kepada keadilan kita boleh membuka semua indera…

 

Kolong langit, 10 Maret 2019

19.57

Jangan Jadi “Negeri Sampah”;

Sebuah Keresahan Warga Negara Biasa

Sudah 73 tahun Indonesia merdeka dan sedang menuju 74 tahun, persoalan kebangsaan masih terus berkembang dari yang berskala nasional maupun pedesaan. Persoalan demi persoalan muncul ketika semua aspek kehidupan terus berkembang sesuai dengan tuntutan zaman yang cepat dan beruntun. Sebut saja satu aspek yaitu dunia industri. Industri tidak akan pernah mati ketika kebutuhan masyarakat terhadap suatu komoditi dan kebutuhan lain menjadi kebutuhan pokok. Industri-industri ini, sangat bergantung kepada bahan pokok, produksi, pengemasan (barang), dan juga distribusi. Salah satu yang menjadi persoalan adalah tentang limbah-nya, yaitu sampah plastik. Tidak tahu lagi, Indonesia akan seperti apa jika penata-kelolaan sampah tidak dimulai dari sekarang pembenahannya. Mari kita bedah.

Kita ketahui, bahwa sampah dan pengelolaannya masih dirasa minim. Ketika kita melihat pengelolaan sampah oleh UPT kebersihan kota misalnya, setiap sampah rumah tangga saja (belum industri) masih belum dirasa baik karena hanya diambil dari tempat pembuangan dan ditampung menumpuk di UPS (Unit Pengelolaan Sampah).Di jalan raya, masyarakat membuang sampah ditempat-tempat yang tidak lazim, seperti pinggir jalan, trotoar (bahu jalan) bahkan, melemparnya ke tempat-tempat sepi dan yang lebih parah lagi di bantaran sungai atau bawah jembatan (kali). Sampah, masih belum bisa di pilah-pilih sesuai dengan jenisnya untuk memudahkan pemusnahan dan pengelolaan serta daur ulang. Masyarakat cenderung pragmatis terhadap hal ini. Sebagian besar hanya ingin membuang sampah keluar dari rumah, proses setelah itu tidak terlalu aware terhadap pengolahannya. Yang menjadi problem-nya adalah bagaimana sampah ini? mau di-apa-kan setelah dibuang? Gotong royong untuk pengolahan sampah-pun dirasa masih kurang.

Fakta mengejutkan menurut BPS, inaplas dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (2018), sampah plastik (satu jenis) saja, Indonesia menyumbang 64 juta ton/tahun dan dibuang ke laut sebanyak 3,2 juta ton/tahun. Fakta mengejutkan lagi, Indonesia menjadi negara terbesar ke-2 setelah Tiongkok (urutan ke-1) dalam menyumbang sampah plastik ke laut, di ikuti Filipina, Vietnam dan Sri Lanka masing-masing urutan ke-3,4, dan 5. Bagaimana tidak, populasi terbesar urutan ke-4 di dunia (data dari; U.S. Census Bureau Current Population) di dunia, jika pengelolaan sampah tidak menjadi hal utama untuk di tuntaskan, kerusakan ekosistem, pencemaran lingkungan dan tentu saja bencana alam bisa terjadi kapanpun karena ulah kita sendiri. Dan pastinya, jika kita tidak memulai dari diri sendiri dan sadar atas apa yang telah terjadi kita akan selalu merasa nyaman dan aman hingga akhirnya kita memakan sendiri penceraman lingkungan yang kita lakukan.

Sudah saatnya, kita mulai memperbaiki pola hidup, yang sebenarnya sangat sederhana. Untuk menyuarakan dan merubah kebiasaan menggunakan plastik untuk berbelanja dan sebagainya, karena ini sudah sangat mengkhawatirkan. Bayangkan, jika setiap hari kita memakan 1 permen, dan membuangnya ditempat yang sama selama 1 tahun, berarti ada 365 buah sampah bungkus permen di tempat tersebut. Bagaimana dengan sampah plastik yang lain?. Di Tiongkok misalnya, dalam berbelanja kita harus bawa tas/kantung atau jika terpaksa kita harus membeli kantung plastik dengan harga yang agak mahal dan petugas kasir menanyakan secara langsung kepada pelanggan apakah harus membeli kantung plastik atau tidak. Ini patut dicontoh.

Intinya, sebagai masyarakat kita juga harus sendiri merasa sadar betapa susahnya mengelola sampah dengan baik dirumah-rumah. Kita harus memulai meningkatkan kesadaran dari hal sederhana dengan tidak lagi bergantung pada plastik, dan mengelola sendiri per-sampah-an di lingkungan rumah. Memulai juga dengan tidak membuang sampah sembarangan, walau ini adalah hal klise yang sering diajarkan dari TK (Taman Kanak-kanak). Ditambah, sinergi pemerintah dalam mengupayakan Desa, Kecamatan, Kota dan bahkan negara yang bersih harus dimulai dari rumah-rumah (keluarga) yang sadar akan kebersihan dan juga menggunakan sumber daya alam untuk kebutuhan tumah tangga yang ramah lingkungan.

From now, say no to plastic and don’t buy plastic with your own money!

Jangan biarkan dan jangan sampai kita menjadi “Negeri Sampah”. Indonesia harus merdeka, salah satunya adalah merdeka dari sampah yang akan merusak bumi Indonesia.

Tentang melanjutkan cita-cita Bangsa

Para pahlawan, para pendiri bangsa, para generasi emas anak bangsa, telah mendedikasikan hidupnya untuk perjuangan. Mereka, berkorban atas semua hal dalam dirinya, menjauhi kesenangan dan kenikmatan dunia, untuk kehidupan yang lebih baik bagi generasinya di masa mendatang. Bagi beliau-beliau, tugas mereka sudahlah selesai. Saatnya, anak bangsa hari ini, tak lagi mengeluh dan nyaman dalam kehidupan dan terlena dalam pusaran serta gempuran zaman.

Saatnya merawat, bukan lagi menghujat. Saatnya berbagi bukan lagi hanya ingin unjuk gigi. Saatnya ber-empati bukan lagi mencari upeti.

Indonesia, adalah kaya dengan bangunan mental dan sumber daya alam. Namun, ini semua takkan bisa bertahan jika pembangunan mental bangsa selalu saja terhambat oleh budaya dan mental takut miskin bukan takut menjadi bodoh. Kita diserang atas paradigma berfikir yang hedonis dan tidak realistik. Bayangkan, jika semua orang berfikir bahwa kepentingan pribadi dan sanak saudara adalah hal yang utama, bagaimana kepedulian atas nama kemanusiaan mampu menjadi hal yang perlu di junjung tinggi. Akankah, imperalisme dan kolonialisme model baru masuk kedalam sanubari rakyat Indonesia dengan cara yang sangat halus ini, dan kita tak disadari?

Inilah saatnya, kita bersatu menyongsong kehidupan yang lebih baik dimasa mendatang, menjadi pribadi yang jujur dan disiplin dan teguh pada pendirian. Hilangkan sifat keangkuhan dan berfokus pada hal penting. Bangsa yang besar, harus punya mimpi besar. Pribadi yang besar, harus punya mimpi besar dan tentu berhati lapang. Karena Indonesia terlalu besar untuk mempermasalahkan hal yang tidak penting dan tidak pada porsinya untuk didebatkan, diperebutkan dan di sengketa-kan.
Hidup, terlalu singkat untuk menghujat, bermuka masam dan adu kekuatan. Mari adu gagasan, adu pemikiran dan adu kreativitas.

“Karena hidup bukanlah diam, hidup adalah bergerak!” – Tan Malaka

Diri yang masih belajar, dan haus akan ilmu.
23 Januari 2018
16.17

Reading List 2018 (Readed)

Pramoedya Ananta Toer-Anak Semua Bangsa

Dunia Anna-Jostein Gaarder

Autobiografi (Tribute to Chairil Anwar)-Melissa Sunjaya

Reach Your Dreams-Wirda Mansur

Rentang Kisah-Gita Savitri

The Subtle art of not giving a F*ck-Mark Manson

Awe Inspiring us-Dewi N. Aisyah

33 Pesan Nabi(Komik Muslim)-vbi_djenggoten

Fantastic Beast and where to find them-JK.Rowling

Membumikan Alquran-Quraish Shihab

Tuhan Maha Cemburu-Emha Ainun Nadjib

Mohammad Hatta-Dr.Deliar Noer

Berfikir seperti Sherlock Holmes-Maria Kannikova

Explore 20 Kisah Perantau Ilmu-PPI Dunia

Kristalisasi Ideologi Muhammadiyah-Haedar Natsir

Catatan Seorang Demonstran-Soe Hok Gie

Capita Selekta-M.Natsir

Filsafat Pemikiran – Al-Farabi

Materi Perempuan di masa revolusi-Soekarno

Politik Identitas-Buya Syafii Maarif

I need You

Every things what I thought about You, were still in my mind.

I can’t expected any wishes beside You.

my own way, is ready to begun, follows Your instruction.

I am so grateful,

gratitude

and for goodness shake, thank you.

I don’t know anymore about care, I just knew You are the real one to care about me, about us.

still in my head, moreover You’re the real love, the real purposes, You’re the one.

I need you to guided me for passing trough the darkness of this world. I need You to found and find the true love.

I need You to know, that’s I need You,

more than any thing.